ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Hasil Pemeriksaan..


__ADS_3

Selamat ya, Pak, Bu, atas kehamilannya." Ucap sang dokter kepada suami istri yang duduk di hadapannya.


"Sama sama, Dok. Kalau begitu kami permisi," balas sang istri dan mereka beranjak keluar dari ruangan dokter setelah dipersilahkan.


Mereka adalah Melati dan Jaka. Pasangan yang baru beberapa bulan menikah, dengan cepat dikaruniai anugerah yang tak terkira dan menjadi penyempurna dalam kehidupan rumah tangga.


Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan setiap pasangan halal selain mendapatkan momongan. Dan tentu saja kebahagiaan itu juga dirasakan pasangan Jaka dan Melati.


"Mas, kita ke mini market dulu yah?" Ajak Melati.


"Loh, ngapain? Kamu kan nggak boleh cape, sayang?" Tanya Jaka, "Kamu itu nggak boleh capek, harus terus istirahat di rumah, jangan terlalu banyak mikir, harus fresh, nggak boleh stres."


"Astaga, sayang! Kamu lupa apa saran dokter tadi?" Tanya Melati.


"Saran dokter?" Jaka balik bertanya.


"Ya ampun, Mas! Masa sudah lupa, bukankah disaranin minum susu ibu hamil." Sungut Melati dan Jaka seketika menepok keningnya.


"Ya ampun, kok aku lupa? Astaga! Mungkin karena aku terlalu bahagia akan jadi Ayah. Ya ampun, sayang! Maaf, yuk ke mini market. Kita borong semua merk yang ada," Ucap Jaka dan mereka segera menuju tempat parkir mobil.


"Mba Mel? Bang Jaka?" Langkah keduanya seketika terhenti saat mereka mendengar ada suara yang menyebut nama mereka.


"Dodit? Risma?" Pekik Melati. Dan keduanya pun saling berbaur di pelataran parkir.

__ADS_1


"Katanya kamu lagi sakit, Ris?" Tanya Melati.


"Iya nih, Mba. Nggak enak badan," Balas Risma sedikit lesu.


"Sepertinya disini sudah ada Dodit junior, Mba." Timpal Dodit sambil cengengesan. Dan ucapan Dodit tentu saja membuat Jaka dan Melati mengernyitkan dahi.


"Apa? Dodit junior?" Pekik Jaka.


"Kamu hamil, Ris?" Tanya Melati.


"Semoga saja, Mba. Makanya kita kesini, mau ngecek hasil kerja kerasku berguru sama Bang Jaka." Ucap Dodit menggebu gebu.


"Kerja keras apaan sih, Dit? Ada ada aja." Cibir Melati.


"Waduh, kapan aku jadi guru? Tapi semoga beneran hamil ya, Dit. Kayak mba mu ini." Tukas Jaka.


"Ya ampun, Mba, selamat. Ya udah, ayo sayang kita masuk. Aku juga udah nggak sabar pengin tahu hasil sodokanku tiap malam," Sambung Dodit dan mereka pun berpamitan kepada pasangan Melati dan Jaka.


Beberapa saat kemudian terlihat, Dodit dan Risma sedang duduk di kursi tunggu. Di dalam ruangannya, sang dokter sedang memeriksa pasangan lain. Cemas dan khawatir jelas tergambar di wajah keduanya. Bagaimana pun juga ini adalah saat saat yang mereka tunggu.


"Ibu Risma!" Panggil seorang suster.


"Iya." Sahut Dodit dan mereka berdua mendekati sang suster dan masuk ke ruangan dokter.

__ADS_1


Setelah bercakap cakap sejenak dan saling lempar tanya jawab, Risma pun mulai di periksa. Sedangkan Dodit terus mengawasi jalannya pemeriksaan. Betapa mereka terharu saat mata mereka menatap layar yang menunjukkan ada benih yang bersemayam di dalam perut Risma. Tak henti hentinya mereka mengucap syukur dengan anugerah yang mereka dapat.


"Selamat ya, Pak, Bu. Ini resepnya." Ucap sang dokter sambil menyerahkan kertas berisi cacatan resep obat dan juga memberi nasehat nasehat untuk kesehatan ibu hamil.


"Iya, Dok. makasih," balas Dodit sambil menerima kertas tersebut. "Oh iya, Dok. Berarti selama istriku hamil, aku libur ya Dok bikin anaknya, kan udah anak di dalam perut istri saya?"


Sang dokter terkejut sejenak mendengar pertanyaan Dodit kemudian dia tertawa. Sedangkan Risma mencubit pinggang sang suami dengan gemas.


"Sakit, sayang!" Pekik Dodit.


"Nggak libur juga nggak apa apa, malah bagus itu. Tapi jangan terlalu sering agar sang istri tidak capek dan jangan terlalu cepat juga maju mundurnya." Ucap Dokter dengan senyum yang masih tersungging.


"Loh? Apa nanti nggak numpuk, Dok? Ntar kalau jadi benih lagi gimana? Kan di dalam udah ada kakaknya? bisa bisa mereka bertengkar di dalam sana?" Lagi lagi sang dokter tertawa. Bahkan sang suster yang ada di meja lain pun ikut terpingkal. Risma, jangan ditanya lagi. Dia malu dan gemas dengan suaminya.


"Ya nggak bakalan lah, Pak. Justru itu akan membantu proses kesehatan janin yang ada dalam perut. Dan biar anak merasa dekat juga dengan sang ayah." Terang Dokter.


"Beneran, Dok. Wahh!" Ucap Dodit dengan mata berbinar, "Berarti harus kita jadwal, Yang? Gimana kalau malam selasa, malam jum'at dan malam minggu?" Tanya Dodit dengan cueknya. Sedangkan Dokter dan Suster kembali terpingkal.


"Ya ampun, Mas! Bahas nanti di rumah!" Pekik Risma pelan dengan menahan rasa malunya dan sang suami hanya cengengesan.


"Ya sudah Dok, kalau gitu kami permisi dulu," Ucap Dodit.


"Oh iya, sama sama. Ingat! Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu sering."

__ADS_1


"Siap, Dokter."


...@@@@@...


__ADS_2