
Bagus benar benar Tidak sadar diri . Rasa kecewa atas kehilangan sang istri malah membuatnya melakukan hal gila dengan memata matai keseharian sang mantan istri. Dan sore ini, saat dia sedang mengintai di depan sekolah dekat warung Wulan, matanya dikejutkan dengan hadirnya sosok laki laki yang dia yakini sebagai selingkuhan Wulan. Sesuai yang sudah dia rencanakan, dia ingin mempermalukan Wulan dan dia menghubungi salah satu rekan yang sudah di ajak kerja sama untuk mengajak tetangganya menggrebek Wulan. Bagus dan Wulan tinggal di desa yang berbeda namun desa mereka bertetangga jadi sangat mudah para warga tetangga Bagus mendatangi warung Wulan.
Namun karena perbuatan dan tuduhan yang dia lakukan, seketika hatinya menjadi remuk dan semakin terasa sakit saat melihat mantan istrinya mencium lelaki lain di depan matanya dengan sengaja. Ciuman itu tidak sebentar. Wulan terlihat sangat menikmatinya.
Berbeda dengan Juna. Mendapat serangan mendadak, tentu saja jiwa naluri prianya meledak. Apalagi, Wulan dengan liar menyerang bibirnya. Dengan senang hati dia pun mengimbangi permainan janda itu.
"Sudah puas?" Tanya Wulan begitu bibir terlepas. Matanya tajam menatap mantan suami dan beberapa warga yang memandangnya tak percaya.
"Sekarang saya mengabulkan apa yang kalian pikirkan tentang saya! Saya tukang selingkuh, saya wanita nakal dan tak tahu diri, dan yah tentunya masih banyak pemikiran buruk kalian tentang saya. Silahkan! Setelah ini kalian sebarkan gosip buruk tentang saya setelah pulang dari sini. Kalian orang orang suci pasti sangat senang melihat kejadian ini." Ucap Wulan santai namun penuh dengan penekanan karena begitu geram dengan kelakuan mantan suaminya.
"Ada apa ini?" Tiba tiba terdengar suara laki laki masuk dari arah warung, "Wulan? Juna? Bagus? Ini ada apa? Kenapa banyak orang?" Tanya laki laki yang tak lain adalah ayah Wulan. Pria tua itu terlihat heran dan sedikit geram melihat kejadian yang tak terduga.
"Ini, Pak. Mas Bagus buat ulah. Hanya gara gara lihat Wulan lagi sama Juna malah bawa tetangganya buat mempermalukan Wulan." Adu Wulan bersungut sungut. Terlihat mata pria tua itu langsung menatap mantan menantunya yang nampak sedang kebingungan.
__ADS_1
"Maksudmu apa, Gus? Kamu mau mau bikin malu anak saya?" Tanya Bapak memastikan.
"Dia tiba tiba datang gebrak meja, Pak. langsung nuduh aku sedang mesum. Gimana mau mesum, pintu warung masih dibuka, warung aja belum aku tutup semua. Hanya gara gara aku salah pakai daster langsung dia sama tetangganya ngehina aku habis habisan." Adu Wulan dengan sengitnya.
"Salah pake daster?" Tanya Bapak yang matanya langsung memandang ke pakaian anaknya, "Ganti dulu sana! Daster tinggal di buang, masih aja disimpen." Teriak Bapak.
"Lupa, Pak." Gerutu Wulan yang langsung pergi. Juna malah tersenyum geli melihat tingkah janda yang sudah memberinya ciuman.
"Sebenarnya mau kamu apa sih, Gus? Hah! Kalian sudah resmi bercerai, kenapa kamu masih saja sibuk mengusik hidup Wulan? Harusnya kamu sadar diri dari kesalahanmu. Kalau kamu begini terus aku bisa lapor ke orangtuamu, Gus." Mendengar ancaman dari mantan mertuanya, Bagus langsung panik.
"Terus kalau itu benar, kamu mau apa? Mau menuntut anakku? Untungnya apa buat kamu, Bagus?" Tanya Bapak Wulan terdengar menahan geram. Sedangkan yang ditanya terdiam dengan wajah bingungnya.
"Dan kalian! Apa kalian nggak ada kerjaan? Mau maunya menuruti Bagus ramai ramai kesini? Untungnya apa buat kalian?" Sambung Pria paruh baya itu menunjuk ke arah warga yang nampak menunduk.
__ADS_1
"Lihat! Warga sini aja pada cuek, nggak ambil pusing dengan urusan orang lain. Kalian yang bukan warga sini kok mau sempat sempatnya berbuat aneh kayak gini demi mencari bahan gosip." Sindir Bapak lagi sembari menunjukkan beberapa tetangga yang hanya melihat tanpa mau berkomentar.
"Apa Bapak nggak sayang? Melepaskan menantu sebaik Bagus? Dia pria baik, Pak. Makanya kami merasa nggak rela jika dia di khianati. Harusnya Bapak nasehatin tuh anak Bapak. Bukan malah memarahin Bagus." Sela salah satu warga.
"Saya lebih sayang dengan anak saya. Kebahagiaan dia, kebahagiaan saya juga. lIhat anak saya." Tunjuk Bapak ketika melihat Wulan sudah kembali berganti baju, " Setelah lepas dari Bagus, dia lebih gemuk, nggak pucat, malah lebih cantik. Apa selama Wulan jadi istri Bagus, dia bisa dandan secantik itu? Bahkan Bagus aja kalau disuruh nginep disini nggak pernah mau." Terang Bapak benar benar mencoba bersikap tenang. Padahal hatinya juga marah dengan tingkah mantan menantunya itu.
"Oh iya, nak Juna. Kamu ada perlu apa datang kemari?" Tanya Bapak.
Mendengar pertanyaan Bapaknya Wulan yang tiba tiba, Juna nampak kaget dan bingung. Dia tidak menduga akan ditanya seperti itu karena dia kesini hanya ingin bertemu Wulan. Otaknya langsung berpikir cepat. Hingga beberapa saat kemudian, dia pun menemukan jawaban yang tepat. Segera saja dia menjawab.
"Saya kesini mau ngasih tahu Bapak dan minta ijin, saya mau membawa Wulan ketemu orang tua saya, Pak?"
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@...