ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Gerak Cepat..


__ADS_3

Juna nampak begitu resah dan canggung. Tatapan tajam dua pasang suami istri membuat dirinya benar benar mati gaya. Matanya melirik ke arah Wulan yang terlihat sedang menahan tawanya.


Juna benar benar kena batunya. Ucapannya tadi yang terdengar sangat pedas malah salah sasaran. Kini mau tidak mau, dia harus mempertanggung jawabkan ucapannya di hadapan kedua orang tua Wulan.


"Bisa di jelaskan maksud dari ucapan anda, anak muda?" Tanya Bapaknya Wulan penuh penekanan. Juna nampak kebingungan sembari mengusap usap lututnya.


"Maaf, Pak, Bu. Sebenarnya saya tadi hanya asal bicara saja." Jawab Juna merasa tak enak hati.


"Oh, asal bicara? Jadi ntar tiap ada orang yang tanya kayak saya, kamu juga jawabnya akan seperti itu. Lancar jaya tanpa hambatan mengakui hubungan kalian." Ucap ibu penuh sindiran membuat Juna semakin merasa bersalah dan tidak enak hati.


"Maksud saya bukan begitu, Bu." Balas Juna.


"Terus, maksudnya bagaimana? Ucapanmu jika orang lain yang mendengar dan orang itu menyebarkannya, bisa jadi fitnah loh. Yang paling buruk namanya di sini siapa. Kamu tahu kan?" Ucap Bapak Wulan.


"Apalagi Wulan baru aja menjadi janda. Kalau tiba tiba ada gosip yang tak enak. Gimana nasib anak ibu nantinya?" Sambung Ibu Wulan.

__ADS_1


"Udah sih, Bu, Pak. Mungkin tujuan Juna ngomong kayak gitu nggak ada maksud apa apa. Soalnya tadi pas dia mau mengantar Wulan, di jalan kita ketemu sama Bagus. Dia menghina Juna habis habisan. Makanya tadi pas ibu tanya mungkin Juna masih kesel, jadinya dia ngomong kayak gitu." Terang Wulan mencoba menengahi kesalahpahaman pada orangtuanya.


"Bagus? Dia makin emosi dong? Tapi ya wajar sih dia emosi kalau kamu melepas dia malah dapat ganti cowok yang tampannya kelewatan. Coba nak Juna mundur dikit. Tampannya benar benar kelewatan tuh." Bapak Wulan yang mendengar celoteh istrinya hanya mendengus sebal karena istrinya sempat sempatnya memuji pria yang lebih muda.


Wulan dan Juna seketika saling pandang dan sama sama melempar senyum melihat tingkah wanita paruh baya itu.


"Terus nanti kedepannya? Hubungan kalian akan bagaimana?" Pertanyaan Bapak membuat dahi Wulan dan Juna seketika berkerut.


"Maksudnya, Pak?" Tanya Wulan.


"Tapi Pak, kita nggak ada hubungan apa apa loh. Kita hanya sebatas teman." Bela Wulan.


"Dimata kalian mungkin kalian hanya sebatas teman. Tapi dimata orang apa sama? Lihat saja Bagus. Dia langsung menuduh kamu yang enggak enggak kan? Nah itu salah satu contoh. Beruntung tadi ibu yang memergoki kalian, coba kalau ibu ibu yang lain, besok nama kamu viral, Lan. Makanya bapak tanya sama kalian. Kedapannya hubungan kalian mau seperti apa? Kalau hanya sebatas teman tidak perlu bersikap kayak tadi. Tapi kalau mau lanjut ke lebih yang serius, Bapak rasa, Nak Juna tahu apa yang harus di lakukan." Ucap Bapak lagi.


Wulan menatap Juna yang sedang nampak berpikir dengan setelah mendengar ucapan sang bapak. Tatapannya tajam, dahinya berkerut.

__ADS_1


"Baiklah lah, Pak. Saya akan serius menjalin hubungan dengan putri bapak."


"Jun!" Pekik Wulan nampak terkejut.


"Kamu serius? Udah kamu pikirkan matang matang? Wulan janda loh." Tanya Bapak lagi.


"Nggak peduli dia janda atau perawan. Sama aja. Yang penting kelakuan dia gimana. Malah saudaraku juga bentar lagi akan menikah dengan janda." Balas Juna yakin. Wulan terus menatap Juna dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusan kamu. Bapak hanya tinggal nunggu itikad baik kamu selanjutnya." Tantang Bapaknya Wulan.


"Bapak tenang saja. Nanti setelah masa iddah Wulan habis. Saya akan segera melamar putri bapak."


Bapak tersenyum senang. Ibu senyum senyum girang. Wulan terhenyak dengan mulut yang terbuka.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2