ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Malunya Hilang Maunya Datang..


__ADS_3

"Wah! Sudah basah!" Pekik Juna. Bibirnya mengulum senyum.


Wulan langsung menutup wajahnya dengan menenggelamkan ke arah bantal yang berada di bawah kepalanya. Wulan merasa sudah tertangkap basah karena berusaha menekan hasrat yang sedang meronta ronta. Sedangkan Juna masih mengulum senyum. Istrinya masih jual mahal. Padahal di bawah sana tangan Juna sudah menyentuh barang tersenyembunyi namun Wulan masih terlihat malu malu dengan menutupi wajahnya.


"Kenapa? Malu?" Tanya Juna namun tak ada reaksi dari Wulan. Wanit itu masih menyembunyikan wajahnya. Juna mengangkat tangannya dan membelai lembut ramput ikal Wulan.


"Hadap sini!" Ucap Juna pelan dan Wulan mematuhinya. "Nggak perlu malu, udah basah juga," ucap Juna lembut, selembut belaian tangannya yang mengusap pipi sang istri.


"Kenapa kamu menggodaku?" Juna terkekeh. Sebuah pertanyaan konyol terlontar dadi mulut sang istri.


"Siapa yang menggoda, Sayang? Aku kan mewujudkan keinginan kamu? Apa salah?" Ucap Juna masih dengan mengulum senyum.


"Keinginan? Keinginan apa?" Tanya Wulan sok polos padahal dia tahu maksud perkataan suaminya. Dia bahkan tidak sadar, tangannya masih menggenggam betutu besar milik Juna.


"Keinginan untuk meraba tubuhku, keinginan aku berada di atas dan mengungkung tubuh kamu dan kita berkeringat menyatukan badan kita." Jawah Juna asal. Namun jawaban itu membuat Wulan tersentak. Juna benar benar tahu apa yang ada di dalam benaknya.

__ADS_1


Tidak di pungkiri, selama mengenal Juna, Wulan memang sering membayangkan wajah tampan dan tubuh Juna dibalik pakaian yang menutupinya. Bahkan saat dia sedang berhasrat tinggi, dia tak ragu bermain dengan jari sambil membayangkan Juna dan memanggil manggil namanya.


"Jangan di tahan, sekarang aku suamimu, lakukan saja apa yang kamu inginkan." Ucap Juna kembali. Dia tahu, diamnya Wulan adalah tanda kalau tebakannya benar makanya dia sengaja memberi lampu hijau.


Kini tangan Juna bergerak ke bawah leher. Tempat tujuannya adalah tiga kancing baju sang istri. Dengan tatap mata beradu, Juna melepaskan satu persatu baju Wulan. Juna bangkit dan meminta Wulan mengikutinya. Sekarang mereka duduk berhadapan. Kedua tangan Juna memegang bagian bawah baju Wulan kemudian dia langsung mengangkatnya dan tanpa perlawanan, baju itu terlepas dan terhempas.


Dua tangan Juna kembali terulur dan kini sasarannya adalah dua benda kembar yang terjerat sebuah kain. Sebelum melepas kain jeratan itu, Telapak tangan Juna menggenggam dua benda terlebih dahulu dan memijatnya pelan. Wulan mulai berdesis, nafasnya memburu, tangannya pun mulai berani memijat mijat betutu Juna yang tidak dia lepaskan.


Setelah cukup bermain sejenak, tangan Juna meraih pengait kain penjerat dan terlepaslah dua bukit kembar yang sangat kenyal. Mata Juna terus menatap dua benda itu dan kedua telapak tangannya kembali menggenggam keduanya benda tersebut dan memijatnya. Wulan mulai mengeluarkan rintihan nikmat. Sedangkan Juna sangat menikmati ekpresi wajah Wulan yang sudah mulai keenakan.


Hasrat yang semakin membara membuat mereka roboh dan kini bibir Juna dengan mudah bergerilya kebagian tubuh lainnya. Bahkan perang bibirpun kini tak terelakkan lagi.


Target selanjutnya adalah benda tersembunyi yang tertutup hutan rimbun di balik rok sang istri. Bibir Juna kembali merayap ke seluruh tubuh Wulan hingga menuju ke bawah. Kini tangan Juna meraih pengait rok yang dipakai Wulan dan tak butuh waktu lama rok itu terlepas dan terhempas. Kini tinggal segitiga bermuda berwarna hijau yang sudah nampak basah. Lagi lagi Juna langsung melepasnya.


Dan terpampanglah di depan mata Juna. Keindahan yang hanya di miliki oleh wanita. Keindahan itu nampak basah dengan rimbunnya bulu yang tumbuh di sekitarnya. bibirnya Juna mengulum senyum. Jari Juna menyentuh benda terbelah itu dan dengan lembut jari jari itu memberi pijatan pijatan hingga sang pemilik keindahan menggeliat tak beraturan menikmati sentuhan yang semakin lama semakin kencang. Juna sangat menikmati ekpresi yang Wulan keluarkan. Hasratnya pun ikut melambung tinggi, namun dia tahan. Juna masih ingin menikmati permainan jarinya hingga tak lama kemudian Juna merasa tubuh Wulan bergetar hebat dan lenguhannya semakin kuat. Juna juga merasakan jarinya lenih basah dan lebih hangat. Senyumnya tersungging, sang istri baru saja mencapai puncak pertamanya.

__ADS_1


Juna menghentikan aksinya, di tatapnya lekat lekat keadaan sang istri nampak sedang mengatur deru nafas yang menderu deru. Juna membiarkan sang istri istirahat sejenak meski jarinya masih mengusap lembut dan pelan pada benda terbelah milik sang istri.


"Aku masukin ya, Sayang?" Pamit Juna beberapa saat setelah sang istri merasa tenang.


"Masuklah, Mas." Juna kembali tersenyum mendapat lampu hijau.


Ditelentangkan kedua kaki Wulan lebar lebar kemudian Juna memegang betutu yang sudah siap tempur dan mengarahkannya kepada benda terbelah yang tersembunyi di balik rerimbunan. Sebelum masuk, Juna mengusap usap tepi belahan dengan kepala betutu agar mereka bisa akrab. Setelah itu, kepala betutu mulai meringsek masuk perlahan dengan dorongan pinggang.


Wulan melenguh, ini terlalu nikmat. Bahkan saat Wulan merasakan kulit dibawah sana bersentuhan sabagai tanda milik Juna benar benar sudah tenggelam semua.


Juna mulai menggerakan pinggangnya, pelan pelan dan pelan.


...@@@@@@...


Kemarin yang masih penasaran siapa yang malam malam menyebut nyebut nama Juna, bab ini jawabannya, udah paham belum? malamnya kayaknya masih panjang Jangan lupa dukungannya ya. Makasih

__ADS_1


__ADS_2