
Wulan terbelalak. Untuk sesaat dia terdiam. Bukan karena menikmati bibir Juna, namun karena kaget mendapat serangan mendadak dari pria di hadapannya. Begitu Wulan tersadar, dia mencoba berontak. Menggerak gerakkan kepalanya dan memukul dada Juna. Namun penekanan tangan Juna terlalu kuat hingga Wulan tak bisa begitu saja melepas bibirnya.
Beberapa saat kemudian, Juna pun melepas serangan bibirnya. Senyumnya terkembang menatap Wulan yang mendelik. Jempolnya terangkat dan mengusap seluruh sisi bibir Wulan yang basah dan lagi lagi perbuatan Juna membuat Wulan mematung.
"Bibirmu enak banget, Lan. Kamu nggak pake lipstick ya?" Tanya Juna setelah selesai membersihkan bibir janda dihadapannya. Tangan Wulan terkepal. Dia langsung memukul dada bidang Juna bertubi tubi.
"Gila! Gila! Gila! Kurang ajar kamu, Juna!" Seru Wulan terdengar menggemaskan hingga Juna tergelak. Dia menangkap tangan Wulan dan menggengam begitu erat. Wulan yang terus memberontak, akhirnya pasrah ketika Juna tidak mau melepas tangannya meski dia memohon dan membentak.
"Lebih gila mana? Aku atau kamu?" Tanya Juna. Matanya terus menatap bibir Wulan yang komat kamit.
"Aku? Emang aku ngapain?" Sontak saja Juna langsung terbahak mendengar pertanyaan enteng janda tersebut. Dia kembali mengangkat tangannya dan dengan gemas dia mencubit pipi mulus Wulan, "Aduh! Sakit, Juna!" Pekik Wulan.
"Abis kamu nggak sadar diri, lebih gila mana? Aku yang mencium kamu tapi nggak ada orang atau kamu yang menciumku tapi didepan mantan suamimu?" Ungkap Juna akhirnya dan reaksi Wulan tetap sama. Tidak merasa bersalah.
"Loh? Tapi kan aku melakukan itu atas dasar saran yang kamu berikan?" Ungkap Wulan dengan ekspresi wajah mirip seperti peran dalam sinetron, judes.
__ADS_1
"Saran? Saran apaan?" Tanya Juna kaget. Karena sejak datang, Juna merasa belum ngobrol lama tapi sudah datang segerombolan orang.
"Kamu nggak ingat malam terakhir kita ketemu? Kata kamu, mending mengakui berselingkuh daripada menyangkal namun terus dituduh." Juna terhenyak mendengar jawaban Wulan. Dia seketika ingat, memang benar dia yang memberi saran.
"Tapi kenapa kamu menciumku? Aku nggak bilang pake cium loh?" Tanya Juna semakin heran.
"Ya karena yang dipikiranku saat itu hanya ada cara itu. Daripada ngomong panjang lebar dan mereka nggak percaya, mending langsung aja pakai bukti yang bisa dipercaya." Jawab Wulan, namun kini arah pandangnya berpindah. wajahnya nampak merah. Meski jawabannya lancar, namun tetap ada rasa malu karena melakukan hal konyol di depan orang banyak.
"Lah terus, kenapa saat aku menciummu tadi? Bibir kamu diam saja nggak ngasih respon? Tapi saat kamu menciumku, kamu begitu ganas? Bahkan lebih lama dari ciuman yang aku berikan? Kenapa? Hayo?" Cecar Juna.
"Jawab dong pertanyaanku? Kenapa diam?" Desak Juna di iringi tawa yang tertahan.
"Ya biar akting selingkuhku terlihat sempurna aja." Tawa Juna pecah mendangar apa yang dikatakan Wulan. Jawaban yang tidak pernah terlintas dalam pikiran Juna. Sementara Wulan senyum senyum sendiri sambil menunduk. Jelas saja dia malu dengan alasan tak masuk akal.
"Bagaimana rasanya ciuman dengan orang tampan? Enak nggak?" Ledek Juna dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Dihh, pede banget. Tampan darimananya?" Kilah Wulan tanpa mau menatap. Dalam hatinya padahal Wulan sangat bersorak gembira bisa mencicipi bibir Juna.
Seandainya Wulan tahu. Bisa dikatakan dia perempuan yang beruntung. Juna tidak seliar Jaka pada saat masih nakal nakalnya. Dan Juna juga tidak sepolos Dodit. Perempuan yang sudah mencicipi bibir manis seorang Arjuna tidak sebanyak Jaka. Saat masa sekolah, walau jomblo, Jaka bisa berciuman dengan wanita penggemarnya. Tapi Juna, paling ciuman dengan perempuan yang berstatus pacar saja dan ujung ujungnya semua kandas. Juna bernasib sama seperti Jaka. Laki laki yang dikhianati. Juna terakhir dekat dengan perempuan tiga tahun yang lalu. Hubungan Juna kandas karena sang perempuan berusaha menggoda kakaknya yang sudah beristri. Karena merasa risih, Kakak Juna yang bernama Janu melaporkan perbuatan kekasih Juna kepada sang adik. Juna begitu shok saat matanya melihat apa yang kekasihnya kirimkan ke nomer kakaknya. Disana ada chat yang menjijikkan disertai foto dan video kekasih Juna yang memperlihatkan tubuh polosnya. Beruntung keluarga besar Jaka adalah keluarga yang setia dengan pasangannya termasuk anak anaknya. Begitu juga Janu yang setia dengan istrinya dan dia sama sekali tidak tergoda dengan hal seperti itu.
"Ngaku aja? Bilang aja kamu senang?" Ledek Juna dan Wulan hanya mendengus sebal untuk menutupi kebenaran dalam hatinya.
Entah dapat keberanian dari mana, tiba tiba Juna menyodorkan kedua tanggannya dan melingkarkannya di pinggang janda yang terlihat cantik tanpa polesan itu.
"Juna!" Pekik Wulan saat dia merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Wulan berusaha melepasnya namun pelukan itu terlalu kencang. Bahkan Wulan kembali terkejut saat dagu Juna menempel di bahunya. Dia hendak berontak namun Juna tetap menahannya. Saat Wulan sudah terdiam, tiba tiba Juna bersuara.
"Kita sudah ciuman, berarti kita harus secepatnya menikah. Jika kamu menolak, aku akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Kamu tahu, Wulan. Bibir kamu aja enak banget, apa lagi dengan yang lainnya."
"Waduh."
...@@@@@...
__ADS_1