ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Di Kursi Pengantin Lagi..


__ADS_3

"Ini kenapa basah banget, Yang? Kamu ngompol?" Pertanyaan Dodit langsung membuat Risma tergelak.


"Ya Ampun. Sayang! Masa kamu nggak tahu itu basah kenapa? Katanya sering lihat video?" Ucap Risma dengan senyum tersungging.


"Tapi yang aku lihat divideo, nggak banjir kayak gini, Yang. Malah ada yang nggak basah." Sangkal Dodit.


"Ya nggak tahu, tiap wanita kan beda beda, sayang. Mungkin karena aku lama nggak main kali, jadi, basah banget." Ucap Risma asal namun malah membuat Dodit manggut manggut tanda mengerti.


Seketika Dodit melanjutkan kegiatannya melahap si kembar, namun kali ini salah satu tangannya mengusap usap segitiga bermuda dengan lembut hingga Risma semakin dibuatnya melayang. Rintihannya sedikit mengeras karena terlalu nikmat.


Karena dorongan naluri, Dodit perlahan memasukkan jari jarinya ke dalam segitiga bermuda yang sudah basah kuyup. Hati Dodit riang tak terkira. Ini pertama kalinya dia menyentuh sarang wanita. Bahkan Dodit tanpa perlu ijin langsung bisa mengusapnya. Gerakan jari Dodit semakin membuat gelora Risma membubung tinggi.


Merasa gerakan Risma semakin liar, Dodit melepas mulutnya dari salah satu benda kembar yang lagi dia makan. Namun tangannya tetap bermain di dalam sana. Mata Dodit menatap istrinya yang bergerak tak beraturan dengan rintihan yang sangat merdu.


"Enak, Yang?"


"Enak banget, Dit." Jawab Risma dengan nafas tak beraturan. Dodit menyunggungkan senyumnya.


"Ini lepas ya, Yang? Aku pengin lihat." Ucap Dodit sembari tangannya menunjukkan apa yang ingin dilepas. Risma mengangguk dan dia langsung berdiri. Mata Dodit membulat seketika. Menatap sarang indah milik sang istri berada tepat didepan matanya meski masih tertutup segitiga bermuda. Tanpa bertanya lagi, Dodit menurunkan segitiga itu dan melepaskannya. Segitiga bermuda itu pun Dodit lempar ke sembarang arah. Dodit semakin terpana. Matanya terbuka lebar dengan rasa kagum karena untuk pertama kalinya dia menatap keindahan yang sering dia bayangkan saat masih bujang sedekat ini. Jari jari Dodit kembali menyentuh dan mengorek sarang indah milik istrinya.


"Kok beda ya, Yang?" Tanya Dodit.


"Beda apanya?" Tanya Risma yang tangannya bertumpu pada tembok belakang kursi.

__ADS_1


"Kalau di video itu, tepi tepinya kayak melebar banget gitu loh, Yang? Namun ini indah banget. Masih kuncup. Ini aja bisa terbuka lebar dengan bantuan jariku, Yang." Jawab Dodit sambil menunjukkan sisi sisi yang dimaksud.


"Ya mungkin karena punya mereka sering dimasukin, Dit. Punya aku kan jarang." Jawab Risma asal dan lagi lagi Dodit percaya.


"Indah banget sarang kamu,Yang. Kalau lagi dibuka kayak gini, merekah dan menggemaskan. Aku makan yah? Biar kayak yang di vidoe video?" Ucap Dodit dengan riangnya.


"Terserah kamu, Dit. Lakukan saja sesukamu."


"Siap! Makasih, sayang." Risma tersenyum mendengar ucapan makasih dari Dodit.


Mendapat lampu hijau dari Risma, seketika Dodit memajukan wajahnya lebih dekat pada keindahan milik istrinya. Kedua tangannya kini menekan dan memijat lembut serta membuka pintu sarang tersebut lebar lebar.


"Indah banget di dalam sini. Dahsyat!" Gumam Dodit namun masih terdengar di telinga Risma hingga dia tersenyum.


"Enak banget, Yang." Ucap Dodit dengan girangnya.


"Lanjut aja, Sayang, jangan berhenti." Pinta Risma.


"Oke!" Dan Dodit kembali melakukan aksinya.


Gerakan tangan dan jilatan Dodit kini semakin liar karena dorongan hasrat dan naluri. Hal itu semakin membuat Risma merintih nikmat dengan kerasnya.


Dodit terlalu bersemangat hingga beberapa saat kemudian dia merasa sarang Risma mengeluarkan banyak air dengan rasa hambar namun enak. Tubuh Risma pun bergetar hebat bersamaan rintihan nikmat yang melengking begitu keras. Ternyata Risma mencapai puncaknya. Tak kuasa terus berdiri, tubuh Risma merosot dan terduduk dipangkuan Dodit. Risma langsung merengkuh tubuh Dodit dan memeluknya erat dengan nafas yang begitu menderu.

__ADS_1


Awalnya Dodit kaget namun tak lama kemudian senyumnya tersungging. Dia pun membalas pelukan istrinya yang sudah berkeringat.


"Enak banget, Dit." Bisik Risma lembut.


"Barusan kamu keluar ya, Yang?" Tanya Dodit dan Risma mengiyakan.


Untuk beberapa saat mereka menghentikan kegiatannya. Mereka terdiam dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Sekarang buka celana kamu, Dit." Ucap Risma beberapa saat kemudian setelah keadaannya normal kembali. Dodit tercengang, raut wajahnya berubah. Risma melepas pelukannya dan menatap wajah Dodit.


"Gantian, aku juga ingin lihat punyamu, sayang." Ucap Risma lagi dan Dodit malah tersemyum ragu dan panik. Dahi Risma berkerut.


"Jangan lah, Yang." Ucap Dodit dan tentu saja hal itu membuat Risma keheranan.


"Loh, kok malah jangan? Kenapa?" Tanya Risma heran namun lagi lagi Dodit cuma nyengir namun masih ada keraguan diwajahnya.


"Kenapa nggak boleh, Sayang?" Desak Risma dengan lembut. Dodit lagi lagi cuma cengengesan dan masih terkesan bingung. Risma terus menatap suaminya hingga lama lama Dodit pun menyerah dan berkata.


"Malu, Yang. Cucak rowo ku kecil."


"Waduh."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2