
"Jaka!" Pekik Melati terkejut.
"Kenapa?" Tanya Jaka enteng. Namun Melati tak segera menjawabnya. Dia kembali fokus pada minyak yang sudah panas.
"Ini tangannya lepas dulu, ntar gosong ini." Pinta Melati tapi Jaka tak menghiraukannya. Dia malah semakin erat memeluk tubuh kekasihnya. Melati hanya mendengus dan akhirnya dia pun pasrah saja.
Dengan cekatan Melati memasukan bumbu bumbu untuk tumis kangkung. Setelah dirasa cukup, kangkung dan kecambah mulai dia masukkan ke dalam wajan kemudian dia mengaduknya.
Sedangkan Jaka, dia masih terdiam sembari memeluk kekasihnya. Matanya tetap terpaku pada kegiatan Melati yang sepertinya tak pernah terganggu olehnya.
Tak butuh waktu lama, tumis kangkung pun selesai. Melati membiarkan saja tumis kangkung di dalam wajan.
"Kenapa kamu bisa nyusul kesini, Yang? Emang kamu nggak sibuk?" Tanya Melati begitu selesai masak.
"Kenapa kamu kesini nggak bilang? Di telfon dari tadi nggak di respon." Tutur Jaka dan hal itu membuat Melati menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Maaf, dari tadi sibuk berbenah. Nyapu, ngepel, nyuci. Lama ditinggal, kotornya ampun." Jawab Melati.
"Harusnya ngasih tahu aku, Sayang! Aku kan sudah bilang aku akan membantu." Protes Jaka.
"Iya, iya, maaf. Sudah terlanjur pun, sudah selesai. Tinggal sarapan. Kamu sudah sarapan, Yang?" Tanya Melati yang kini badannya sudah berbalik menghadap dada bidang kekasihnya.
"Belum, penginnya sarapan kamu." Jawab Jaka dengan senyum nakalnya dan Melati mendengus.
"Yuk ah, sarapan dulu, Yang. Aku lapar." Ajak Melati.
Jaka melepas pelukannya dan dia berjalan ke karpet dan duduk di depan televisi. Sedangkan Melati, dia mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk yang sudah siapkan termasuk tumis kangkung. Tak lupa juga, dia mengambil segelas air putih dengan gelas yang ukuran besar. Setelah siap dia beranjak menyusul Jaka yang sedang menonton televisi.
"Daerah sini tiap hari sepi apa, Yang?" Tanya Jaka yang sedari tadi memang merasa heran karena komplek tempat tinggal Melati memang sepi seperti tidak punya tetangga.
"Ya seperti itu, Yang. Jarang orang lewat sini, paling kalau yang mau ke sungai atau ke kebun, atau sawah." Balas Melati sembari sesekali menyuapi makanan ke mulut kekasihnya dan juga mulutnya.
__ADS_1
"Kirain kalau hujan doang, Yang? Pas malam juga sepi gitu?" Tanya Jaka dan Melati hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tuh, keadaan sepi kok masih saja betah tinggal disini sendirian sih, Yang? Kan enak di rumah lama. Banyak teman dan aman. Kalau disini, mana aku bisa tenang ninggalin kamu, Yang." Ujar Jaka.
"Apa kamu benar benar nggak ngerti alasannya apa, atau memang nggak mau ngerti sih, Yang?" Tanya Melati sedikit emosi.
"Ya aku ngerti tapi kan itu hanya masa lalu. Masa kamu nggak bisa berdamai dengan masa lalumu?" Sangkal Jaka.
"Ngomong emang enak, Yang. Mudah. Tapi apa yang menjalaninya juga sangat mudah? Kamu nggak pernah ngerasaain bagaimana di khianatin dan dengan mata kepala sendiri harus tiap hari melihatnya. Dan aku bukan perempuan yang selamanya akan terlihat kuat. Aku juga punya hati yang nggak ingin sakit." Jawab Melati seketika menghentikan acara suap menyuapnya. Matanya tajam menatap Jaka yang juga sedang menatapnya.
"Tapi, yang. Bukankah.."
"Bukan apa? Mereka bahkan dengan entengnya bilang ke bapak kalau kamu bukan lelaki yang baik untuk aku. Kamu banyak wanita dan dengan mudahnya mengajak ketemuan. Apa aku nggak sakit hati? Hah!" Bentak Melati dan dia segera berdiri dan beranjak masuk kamar serta menutup pintunya meninggalkan Jaka yang terkejut mendengar apa yang baru saja Melati bilang.
...@@@@...
__ADS_1