ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Malu Malu Mau..


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam lebih, namun rumah sudah terlihat sangat sepi. Maklum saja, semuanya mungkin merasa lelah setelah menghabiskan waktu seharian dalam pesta sederhana akad pernikahan. Hanya ada sisa dua manusia yang nampak duduk di depan televisi setelah beberapa saat tadi sepasang orang tua pamit masuk kamar.


Wulan yang sudah merasakan gelagat aneh suaminya langsung saja berdiri dan melangkah cepat menuju kamarnya meninggalkan sang suami yang terus tersenyum nakal ke arahnya. Tak mau berlama lama, Juna pun menyusul sang istri menuju kamarnya. Terlihat disana, Wulan sudah berselimut dengan mata terpejam. Juna tahu sang istri hanya berpura pura. Juna mendekat dan mencondongkan badannya. Matanya menatap wajah sang istri yang terpejam.


"Kenapa kalau lagi tidur cantik banget sih? jadi pengin cium." Goda Juna dan tentu saja Wulan yang hanya pura pura tertidur langsung membalikkan badannya membelakangi Juna. Pria itu terkekeh dan dia tidak akan berhenti begitu saja. Masih banyak ide untuk mengerjai istrinya.


Dengan cuek Juna melepas kaos dan celananya. Kini hanya tersisa boxer yang menutupi tubuhnya tanpa ada kain lain lagi. Dia perlahan naik ranjang dan merebahkan badannya menghadap sang istri dengan sangat dekat. Salah satu tangannya terangkat dan mengunci tubuh sang istri.


Wulan tersentak namun dia tidak bisa bergerak. Dibelakang tubuhnya, Juna benar benar melingkarkan tangannya begitu erat. Juna tersenyum jahil melihat wajah panik Wulan meski terpejam.


Tak hanya itu, tanpa aba aba, Juna langsung mendekatkan wajah Wulan hingga menempel di dada bidangnya. Tentu saja Wulan kaget, matanya membelalak menatap titik hitam yang ada di dada Juna berada tepat didepan matanya. Jantungnya terasa akan meledak.


"Mas!" Pekik Wulan.


"Apa?" Balas Juna tanpa merasa salah


"Lepasin!" Pintanya. Namun bukannya melepaskan, justru Juna semakin erat memeluk Wulan.


Jantung Wulan serasa melompat lompat. Entah ekspresi apa yang harus dia tunjukkan. Badan Juna yang begitu sempurna kini terpampang jelas di dekatnya. Bahkan badan itu kini sedang memeluknya. Seandainya Wulan tidak gengsi dan malu, pasti tangannya sudah merayap menyusuri badan indah milik suaminya.

__ADS_1


Wulan terus memberontak, namun tenaganya kalah kuat hingga akhirnya dia pasrah dan terdiam sambil mencoba mengatur detak jantungnya.


Lagi lagi Juna tersenyum setelah Wulan benar benar terdiam. Ditempelkannya dua lubang hidungnya di pucuk kepala sang istri dan menghirup aroma wangi sampo dalam dalam.


"Mas, Lepasin!" Rintih Wulan.


"Diam! Atau mau aku makan?" Seketika Wulan terbungkam.


"Kenapa tidur nggak pakai baju sih?" Protes Wulan.


"Aku biasa tidur kayak gini. Lagian kalau dingin, kan sudah ada kamu selimut bernyawa disisiku. Lebih hangat." Balas Juna asal.


"Bilang aja kamu senang bisa menikmati tubuh indahku secara langsung, bukankah kamu menginginkannya, kalau ingin merabanya juga silahkan." Ucap Juna dan sejujurnya ucapan itu benar. Dalam hati kecilnya, Wulan merasa bahagia namun gengsi menutupinya.


Juna mengurai dekapannya dan diraihnya tangan Wulan yang mengepal. Juna menggeser sedikit badannya hingga wajahnya sekarang berdekatan dengan wajah sang istri. Mata mereka beradu namun Wulan segera melirik ke arah lain agar tidak terlihat gugup.


"Kalau pengin membelai, belai saja jangan sungkan." Ucap Juna dan tangan yang terkepal itu dia arahkan kedadanya. Wulan terus mengepal tangannya demi menutupi rasa yang bergejolak.


"Buka telapak tangannya atau.." Langsung saja kepalan itu terbuka dan Juna lagi lagi tersenyum melihat wajah panik Wulan. Di arahkannya tangan Wulan menyusuri setiap sisi dada bidang Juna bahkan hingga ke bagian roti sobek.

__ADS_1


Wulan benar benar mencoba menahan hasratnya. Tidak dipungkiri, telapak tangan yang merayap tubuh indah suaminya membuat hasratnya meninggi. Apalagi Juna menyuruh mencengkram dada bidangnya dan memijit pelan disana. Dan tentu saja itu membuat hasrat Wulan semakin meronta.


Juna terus mengarahkan tangan Wulan manyusuri badannya hingga dia menemukan ide jahil lagi. Di arahkannya tangan itu terus ke bawah dan Wulan langsung tersentak dan kembali mengepalkan tangannya saat telapak tangan itu mendarat ditengah tengah celana boxer sang suami.


"Mas!" Pekik Wulan lirih. Dia berusaha melepaskan tangannya namun tak berhasil. Genggaman Juna terlalu kuat.


"Kenapa? Mau aku makan?" Lagi lagi ancaman Juna berhasil memdiamkan Wulan. Juna kembali menempelkan tangan Wulan ke tengah tengah boxernya.


Tentu saja Wulan merasakan benda di balik boxer yang mulai mengeras. Hasrat Wulan pun semakin melambung. Apalagi saat Juna memintanya membuka telapak tangannya, kini tangan Wulan benar benar merasakan sesuatu yang besar dan keras dari balik boxer. Tangan Juna terus mengarahkan tangan istrinya mengusap usap dibawah sana hingga dengan sengaja Juna menurunkan boxernya dan Wulan kembali tercekat namun tidak bisa berbuat apa apa.


"Genggam aja, jangan malu." Bisik Juna. Dia tahu hasrat istrinya sudah di ubun ubun. Mau tak mau Wulan pun menurutinya. Digenggamnya betutu Juna.


Beberapa saat kemudian, Juna melepas genggamannya dan membiarkan tangan Wulan memainkan betutunya. Mata mereka beradu. Kini tinggal tangan Juna yang beraksi. Tanpa seijin Wulan, tangan Juna mulai beraksi dan tempat pertama yang dia tuju adalah benda yang tersembunyi di balik rok longgar sang istri. Tangan itu perlahan menarik Rok Wulan. Wulan sempat menahannya namun tetap saja Juna lebih unggul dan Wulan pun menyerah. Melihat sang istri pasrah, Juna terus melancarkan aksinya hingga rok itu terangkat sempurna.


Setelah itu, Juna mengarahkan jarinya ke segita bermuda. Saat jarinya berada di pusat segita bermuda, Juna tertegun sejenak kemudian tersenyum.


"Wah! Udah basah."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2