ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Ketika Istri Berubah Manja..


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, terlihat seorang pria sedang terbaring dengan telentang. Salah satu tangannya di letakkan ke belakang. Sedangkan di sebelahnya terbaring seorang perempuan yang berstatus istrinya sedang menunjukkan tingkah aneh menurut sang suami.


Sejak dirinya pulang kerja kemarin, istrinya sudah menyambutnya. Sebenarnya itu sudah jadi kegiatan rutinitas setelah mereka menikah. Namun yang bikin sang pria terkejut adalah permintaan sang istri.


Tidak seperti biasanya, sang istri yang usianya jauh lebih tua, tiba tiba meminta dia agar sore kemarin tidak mandi. Dodit, nama pria itu, tentu saja terkejut. Bagaimana mungkin Risma melarang mandi, bahkan Risma sempat ngambek karena keingainnya hampir tidak dipenuhi oleh sang suami hingga akhirnya Dodit mengalah melihat wajah sedih sang istri.


Keterkejutan Dodit tidak hanya sampai itu saja. Risma secara sadar, mengajak Dodit ke kamar dan segera melepas bajunya. Yang membuat Dodit semakin kaget, Risma dengan beringas menciumi bulu ketiak Dodit.


Sebagai suami, tentu saja Dodit heran. Risma tidak pernah mencium ketiak tipisnya serakus ini. Paling saat berhubungan ranjang saja Risma mau mencium ketiaknya. Tapi sejak kemarin sore, Dodit benar benad ditahan di dalam kamar. Kedua sisi ketiaknya di serang habis habisan.


Dan pagi ini, Risma mengeluh pusing dan mual. Tentu saja sebagai suami, Dodit langsung panik. Bahkan dia sampai ijin libur kerja agar bisa menemani dan mengawasi keadan Risma. Dodit berpikir, Risma sakit karena keracunan bau ketiaknya yang super asam kemarin.


"Kita ke dokter, yah?" Bujuk Dodit sembari menoleh sekilas ke arah sang istri yang sedang menempelkan lubang hidungnya di bulu tipis ketiak Dodit.


"Nggak mau," Balas Risma dengan manjanya. Sejak bangun pagi, Risma selalu ingin nempel terus pada suaminya.


"Kalau nggak mau di periksa, entar sakitnya makin parah gimana?" Tanya Dodit dengan rasa khawatir yang tidak bisa di sembunyikan.


"Nggak mau, aku pengin kayak gini aja. Masa nggak boleh?" Rajuk Risma. Sungguh ini bukan Risma yang seperti biasanya.


Dodit pun menjadi bingung sendiri. Dalam satu sisi, dia senang melihat Risma bermanja, di sisi lain dia khawatir dengan kondisi istrinya.


"Bukannya nggak boleh, Sayang. Kamu boleh cium ketiakku seharian, tapi kita periksa dulu, yah? Aku nggak mau kenapa napa loh." Ucap Dodit lagi sedikit memohon.


"Tapi nanti saat ke dokter kamu jangan mandi?" Pinta Risma dengan manjanya.


"Astaga! Masa nggak mandi? Aku dari kemarin sore belum mandi loh, Yang? Gerah." Tolak Dodit.

__ADS_1


"Ya udah, aku nggak mau ke dokter." Risma merajuk dan Dodit semakin heran.


Sejenak perdebatan mereka terhenti. Dodit benar benar kebingungan dengan sikap istrinya. Di saat dia sedang berpikir, tiba tiab terdengar suara dari pintu gerbang memanggil manggil nama mereka.


"Ibu sudah datang, aku bukain pintu dulu." Ucap Dodit yang segera turun dari ranjang meninggalkan sang istri yang cemberut.


Benar saja, sang ibu mertua sudah berdiri di delan pintu. Dodit sengaja memintanya datang karena dia bingung mau melakukan apa jadi terpaksa dia minta tolong sang mertua.


"Sejak kapan dia sakit, Dit?" Tanya sang mertua begitu pintu gerbang di buka. Padahal di telfon tadi sudah mengeluarkan pertanyaan yang sama.


"Sejak tadi pagi, Bu. Cuma aneh, dia kelihatan lebih manja." Ucap Dodit.


"Ya nggak apa apa, manja sama suami sendiri, nggak masalah, kan?" Tanya Ibu sembari melangkah menuju ke dalam rumah.


"Ya nggak papa sih, Bu. Aku sih seneng seneng aja. Tapi yang aku heran, dia dari kemarin sikapnya aneh, Bu." Ucap Dodit dan hal itu sukses membuat langkah mertuanya terhenti.


Dodit pun menceritakan keanehan sang istri pada ibu mertuanya. Dari habis pulang kerja hingga pagi ini. Tentang Risma yang tiba tiba terobsesi dengan bau ketiak suaminya.


Dahi sang mertua berkerut kemudian dia tersenyum. Dan senyum itu membuat Dodit malah semakin heran.


"Kenapa ibu tersenyum? Pasti karena Risma aneh kan?" Tanya Dodit penasaran.


"Ya memang aneh, tapi itu hal yang wajar, Dit." Ucap Ibu mertua sambil melanjutkan langkahnya.


"Wajar gimana?"


"Berarti Risma dulu kayak ibu, ngidamnya bau ketiak suami." Mendengar ucapan ibu mertua, Kaki dodit seketika berhenti melangkah. Dadanya berdegup cepat, bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


"Apa, Bu? Ngidam? Jadi Risma ..." Tanya Dodit terbata.


"Bisa jadi. Dia ciumin bau ketiak kamu karena dia ngidam." Ucap Ibu. Wajah Dodit benar benar tidak bisa di artikan saat ini. Antara bahagia dan terkejut, itulah yang Dodit rasakan.


"Jadi aku akan jadi ayah, Bu?" Tanya Dodit dengan suara bergetar.


"Untuk memastikannya, ajak Risma ke Dokter." Saran ibu.


"Siap, Bu siap. Yess, aku akan jadi ayah!" Teriak Dodit girang. Dia segera saja berjalan cepat menuju kamar.


"Ayo, Sayang, kita ke dokter." Ajak Dodit dengan semangat.


"Nggak mau, pasti kamu nanti mandi." Balas Risma masih merajuk.


"Enggak, sayang. Enggak. Aku nggak akan mandi." Ucap Dodit meyakinkan.


"Beneran?" Tanya Risma dengan mata berbinar.


"Iya, Sayang. Aku nggak akan mandi. Serius." Lagi lagi Dodit berucap dengan penuh keyakinan.


"Kenapa kamu jadi semangat banget, Yang?" Tanya Risma heran begitu dia beranjak dari ranjang.


"Karena aku sudah nggak sabar melihat hasil sodokanku."


"Apa?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2