ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Setelah Meraih Puncak..


__ADS_3

Beberapa saat kemudian setelah melepas lelah, kini pasangan pengantin baru beda usia itu terlihat sedang duduk dikursi pelaminan kembali. Namun posisinya saat ini berbeda. Sang suami duduk bersandar di sandaran kursi dan sang istri duduk di depan sang suami bersandar tubuh bidang suaminya. Kaki sang istri lurus ke kursi yang tertata rapi didepan kursi pengantin sedangkan sang suami kedua kakinya melebar karena di depannya ada sang istri. Kedua tangan sang suami melingkar ditubuh sang istri. Namun satu tangan mencengkram salah satu bukit kembar dan satu tangan mengusap sarang indah istrinya. Mata sang istri melirik jam dinding.


"Kirain sudah malam banget. Ternyata baru jam delapan lebih." Ucap Risma memecah keheningan. Sang suami pun ikut melihat jam sejenak.


"Berarti kita main barusan hampir dua jam, Yang? Lama juga yah?" Tanya Dodit takjub.


"Ya lama. Orang punya kamu kuat banget. Tadi kayaknya lebih tiga dari tiga puluh menit tuh baru keluar. Udah gede, panjang, ditambah kuat. Sempurna banget kamu, Dit." Dodit tertawa kecil mendengar jawaban sang istri.


"Kamu suka, Yang?" Tanya Dodit. Jari tangannnya terus bergerak aktif.


"Suka banget lah, Dit. Apalagi aku yang pertama merasakan punya kamu. Benar benar kado spesial pernikahan tahu nggak." Balas Risma. Dodit mengecup bahu istrinya sejenak dalam dalam.


"Yang, itu tadi aku ngeluarin di dalam? emang nggak apa apa?" Tanya Dodit sembari menaruh dagunya pundak Risma.


"Emang kenapa?" Tanya Risma heran dengan dahi berkerut.


"Ya nggak apa apa sih.." Jawab Dodit menggantung. Risma yang merasa heran pun menangkap sesuatu.


"Kamu takut, aku hamil?" Tebak Risma. Dodit tidak langsung menjawab. Dia mencium leher belakang istrinya.


"Kamu udah berani cium cium, Dit. Nggak tanya tanya lagi." Ucap Risma dan keduanya tergelak.

__ADS_1


"Karena aku di ajari guru yang cantik jadi aku cepat pintar, Yang." Balas Dodit disertai mencium leher Risma kembali.


"Jawab dulu pertanyaan tadi. Kamu takut aku hamil?" Desak Risma.


"Takut sih enggak, Yang. Aku pasti bahagia jika aku punya anak, kan aku sudah nikah? Cuma aku takut. Kita nikah mendadak dan kamu nggak ada cinta untuk aku. Ntar anak itu nasibnya gimana?" Mendengar pertanyan Dodit seketika Risma memutar separuh tubuhnya dan menatap wajah sang suami. Sejenak dia mendaratkan bibirnya di pipi Dodit dan tersenyum. Dia kembali menghadap depan dan tangannya memegang punggung tangan Dodit yang mendarat di sarangnya.


"Aku dengar, kamu sudah lama menyukai aku, Dit? Apa itu benar?" Tanya Risma.


"Iya, sejak kamu jadi langganan Mba Mel." Jawab Dodit jujur.


"Kamu sekedar suka atau cinta sama aku?" Cecar Risma.


"Yang aku rasakan sih sepertinya aku cinta kamu, Yang. Tiap aku kesini hatiku berdebar. Tiap hari ingat kamu, bahkan kangen. Tiap kali kita ketemu,aku bahagia banget. Apalagi pas disuruh nikah. Tiap malam aku hampir nggak bisa tidur, Yang." Ucap Dodit jujur mengakui apa yang dia rasakan.


"Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang bisa kamu banggakan, Yang. Tolong, kamu bimbing aku. Peringatkan aku jika salah dan kita saling terbuka, Ya? Aku punya cita cita menikah hanya sekali dalam hidupku dengan orang yang aku cintai. Dan aku merasa beruntung di nikahkan sama kamu. Aku tidak bisa berjanji namun aku akan selalu berusaha memberimu yang terbaik meski aku banyak kekurangan." Hati Risma bergetar. Dia terharu dengan ucapan suami brondongnya. Dia memutar tubuhnya kembali menghadap Dodit dan kali ini dia mencium bibir suaminya cukup lama.


"Terima kasih sudah mencintai janda sepertiku, Dit. Kita sama sama belajar yah membina rumah tangga ini?" Ajak Risma setelah melepas bibirnya dan mata mereka beradu. Dodit mengangguk seraya tersenyum kemudian bibir mereka kembali bersatu.


Setelah beradu bibir, Risma kembali memutar tubuhnya menghadap depan. Kedua tangan Dodit masih setia bermain main di tempat yang sama.


"Yang, apa setelah ini kita akan tidur?" Tanya Dodit kembali menaruh dagunya di bahu Risma.

__ADS_1


"Baru juga setengah sembilan, Dit. Kenapa?"


"Aku pengin main lagi, Yang. Cucak rowoku tidurnya sebentar. Nih, udah bangun lagi." Risma tersenyum mendengarnya. Dia juga masih ingin bermain dengan suaminya.


"Baiklah, nanti kita main lagi sampai kamu puas."


"Benarkah?" Tanya Dodit memastikan.


"Iya, sayang. Tapi nanti, aku pengin bermesraan dulu disini dengan suami brondongku."


"Siap!" Dan mereka tergelak bersama.


"Yang." Panggil Dodit.


"Hum." Balas Risma.


"Nanti saat kita main lagi, aku mau prakteklah." Ucap Dodit dengan semangat membuat Risma mengernyitkan dahinya.


"Praktek? Praktek apa, Dit?" Tanya Risma penarasan.


"Kayak yang di video. Aku akan praktek berbagai macam gaya dalam hubungan ranjang. Akan aku coba semuanya."

__ADS_1


"Waduh."


...@@@@@...


__ADS_2