
Dan Ronde kedua pun selesai. Kini mereka benar benar merasakan lelah yang sangat luar biasa. Apalagi sang suami benar benar melakukan keinginannya. Mencoba berbagai gaya seperti yang pernah dia tonton dalam video dan sang istri pasrah mengikutinya. Kini keduanya terbaring dengan tubuh penuh keringat di atas ranjang. Sang istri merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami sembari tangannya menggenggam cucak rowo suaminya yang terkulai lemas. Sang suami juga membelai lembut kepala sang istri dengan perasaan damai dan tenang.
"Sekarang sudah pinter ya, Dit. Langsung masuk dengan tepat, sampai aku di balik balik kayak gorengan menjadi alat praktek berbagai gaya." Celoteh Risma hingga Dodit seketika tertawa.
"Maaf, Sayang. Gurunya terlalu cantik sih, jadi aku langsung pintar. Agar gurunya merasa senang karena ajarannya tidak perlu mengulang ulang lagi." Jawab Dodit asal hingga Risma merasa gemas dan tangan Risma mencengkram dua telur yang terbungkus milik suaminya.
"Baru pertama kali loh, Dit, aku melakukan berbagai macam gaya seperti tadi. Gaya naik kuda, berdiri, duduk dipangkuanmu, trus apa lagi tadi?" Ucap Risma jujur membuat Dodit terkejut dan terus tertawa.
"Beneran, Yang? Dulu sama mantan suami kamu nggak melakukannya gitu?" Tanya Dodit takjub.
"Enggak pernah. Cuma gaya satu doang. Aku di bawah, dia diatas. Tapi sensasinya memang beda ya, Dit. Apalagi pas aku duduk dipangkuan kamu sambil naik turun, kamu bersandar santai sambil memainkan si kembar. Itu enak banget, Dit. Sangat menyenangkan ." Ungkap Risma penuh semangat hingga Dodit tergelak.
"Kok sama, Yang? Aku juga dari dulu membayangkan gaya seperti itu. Apalagi sejak mengenal kamu. Pasti bahagia banget jika Mba Risma yang duduk dipangkuanku. Eh, sekarang malah jadi kenyataan." Mendengar pengakuan Dodit seketika Risma mendongak dan menatap suaminya.
"Wah! Kamu sering membayangkan aku, Dit?" Dodit mengiyakan sembari tersenyum, "Nakal!" Ucap Risma namun dia memajukan kepalanya dan mencium bibir Dodit sejenak.
__ADS_1
"Abis kamu cantik banget sih, Yang. Makanya aku selalu membayangkan kamu tiap ngapain aja." Ungkap Dodit ketika bibir mereka terlepas dan saling tatap. Risma tersenyum dan kembali menyerang bibir Dodit sejenak.
"Mungkin Tuhan sayang sama kamu ya, Dit. Jadi mimpi kamu diwujudkan jadi kenyataan begini." Balas Risma sembari memandang wajah Dodit begitu dekat.
"Mungkin. Dan aku sangat bersyukur. Lagian aku heran. Kenapa perempuan secantik kamu malah disia siain sih, Yang? Benar benar lelaki bodoh." Ucap Dodit sambil mengusap lembut pipi istrinya.
"Kalau dia nggak bodoh. Mana mungkin kita bisa menikah, Dit." Ujar Risma.
"Ah, iya benar." Balas Dodit sembari terkekeh.
"Dan semoga kamu akan bersyukur punya suami kayak aku, Yang. Aku tahu aku masih terlalu muda jadi pemimpin keluarga. Dan pastinya banyak yang meragukan pernikahan kita karena kita beda usia terus pernikahan kita karena digrebeg Pak Rt. Namun aku sudah bertekad akan menjadi suami yang baik yang bisa dibanggakan istriku. Meski banyak yang bilang menjalani rumah tangga itu sulit, namun aku yakin, aku bisa menjalaninya bersamamu."
Mendengar ucapan Dodit yang panjang membuat Risma tertegun dan terharu. Dia tidak menyangka Dodit sudah memikirkan sejauh itu tentang pernikahan dengannya. Risma kembali menatap Dodit dan mendaratkan bibirnya di pipi sang suami dalam dalam.
"Kita belajar sama sama ya, Dit. Agar pernikahan dan rumah tangga kita berjalan sesuai harapan kita." Ucap Risma dan Dodit dengan senyum cerahnya mengangguk kemudian bibir mereka bersatu dengan liarnya.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, Dit. Kamu bener bener terlihat berbeda malam ini." Ucap Risma dan wajah mereka saling tatap.
"Berbeda gimana, Yang?"
"Kamu berbeda tidak nampak seperti Dodit pelayan toko yang biasa aku lihat. Malam ini kamu nampak lebih dewasa dari usiamu. Apalagi saat kamu menyodok nyodok sarangku dan mencapai puncak. Kamu terlihat sangat tampan dari biasanya." Ungkap Risma terlihat sangat bersemangat membuat hati Dodit merasa bangga dan bahagia dipuji oleh wanita yang telah mencuri hatinya.
"Berarti aku harus menyodok kamu terus dong, Yang. Kalau perlu tiap hari. Biar kamu sering menikmati ketampananku yang berbeda?" Usul Dodit.
"Ya jangan tiap hari juga dong, Dit. Emangnya kita nggak ada kerjaan lain." Gerutu Risma dan hal itu membuat Dodit gemas menatap wajah istrinya. Diangkatnya salah satu tangan Dodit dan ditaruh dibelakang kepala Risma kemudian tangan itu mendorongnya hingga wajah Risma mendekat dan Bibir Dodit langsung menyambar bibir sang istri dengan rakusnya. Perang bibir kali ini lumayan lama hingga mereka berpindah posisi menjadi Dodit yang kini berada diatas Risma. Sepertinya hasrat mereka kembali meninggi. Hal itu terlihat dari perang bibir yang semakin liar dan berlangsung lama. Apalagi tangan Dodit kembali bergerilya.
"Yang, Nyodok lagi yah? Biar kamu makin puas melihat ketampananku yang berbeda." Tanya Dodit dengan nafas yang sudah menderu.
"Lakukanlah, Sayang. Lakukan sesukamu."
Dodit mengulas senyum dan kembali menyerang bibir Risma. Ronde ke tiga pun di mulai.
__ADS_1
...@@@@@...