
"Udah jam tiga sore? Nggak kerasa, mending kios tutup, mandi, jalan jalan, baru ke rumah Jaka." Gumam seorang pria dari dalam kiosnya.
Sebelum dia menjalankan niatnya, dia mengecek pembukuan dan ponselnya. Terlihat dia sedang berpikir sambil komat kamit. Wajahnya nampak serius, namun tak lama kemudian wajah serius itu berubah menjadi senyum yang manis.
"Ternyata penjualan online melebihi target. Lumayan. Buat modal nikah." Serunya sembari merapikan meja dan setelahnya dia bergegas bersiap diri melakukan rencananya.
Tak butuh waktu lama, pria itu terlihat sudah rapi. Hanya memakai sandal selop merk ternama, celana panjang hitam dan kaos lengan panjang warna biru cyan yang memperlihatkan dada bidangnya. Tak lupa, jaket dan tas slempang menjadi penambah kesempurnaan penampilannya.
Diatas motor dia berpikit sejenak. Kira kira jalan jalan kemana? Dia terlihat menerawang mendongak keatas dan tak lama kemudian senyumnya terkembang.
"Aku tahu harus kemana." Ucapnya dan dia bergegas menyalakan motornya dan tak lama kemudian motor itu sudah melaju keluar area pasar menembus jalan raya.
Sepanjang perjalanan, senyum pria itu terkembang. Sepertinya dia menuju tempat yang istimewa sampai pria itu terlihat sangat bersemangat.
Perlajanan dua puluh menit itu akhirnya sampai juga. Motor itu berhenti tepat di sebuah warung makan yang nampaknya akan tutup karena waktu yang sudah sore. Pintu warung itu masih terbuka. Begitu juga beberapa sisi depan etalase juga masih terbuka dan sebagian sudah tertutup dengan papan kayu yang berjejer. Pengendara motor itu segera saja turun dari motor dan bergegas melangkah menuju warung makan tersebut.
"Assalamu'alaikum, permisi." Sapa pria itu pelan. Nampak penjaga tidak ada orang di dalam warung tersebut. pria itu pun duduk di salah satu pojok bagian dalam warung.
"Ini yang jualan kemana?" Gumamnya sembari matanya berkeliling melongok ke sebelah kiri warung yang menurut sang pemilik itu adalah rumahnya.
Namun begitu gumamannya berhenti, pria itu mendengar suara perempuan berdendang. Pria itu tersenyum. Dia kenal betul suara perempuan yang dendangannya semakin jelas terdengar.
__ADS_1
"Juna!" Pekik perempuan itu begitu langkahnya memasuki warungnya.
Mata juna sedikit membulat. Bukan karena kaget dengan pekikan perempuan itu, namun apa yang dipakai perempuan itu. Perempuan itu memakai daster dimana apa yang dipakai dari balik daster itu terlihat. Juna seperti kesulitan menelan ludahnya. Dari balik daster terlihat segitiga bermuda warna hitam dan juga penjerat bukit kembar dengan warna senada. Dia bahkan sampai tidak fokus dan mengabaikan pekikan perempuan tersebut.
"Juna? Udah dari tadi apa?" Sap perempuan itu lagi dan kali ini membuat Juna tersadar dari bengongnya.
"Eh, Wulan. Enggak, belum lama kok." Jawab Juna sedikit tergagap. Sepertinya perempuan bernama Wulan tidak menyadari apa yang dia pakai.
"Dari mana nih, Jun?" Tanya Wulan dan dia duduk di dekat Juna membuat pemandangan di balik daster terlihat semakin jelas.
"Dari kios, lapar, pengin makan. Jadi aku kesini." Jawab Juna sembari mengalihkan pandangannya.
"Beneran, ada lauk apa aja, Lan?" Sangkal Juna sambil cengengesan.
"Jam segini ya sudah nggak ada apa apa, Jun. Ni aja aku mau tutup. Paling tinggal perkedel, ayam sisa berapa potong itu sama munjaer. Sayur dan tumisan udah habis." Jawab Wulan masih dengan dahi berkerut tanda tak percaya dengan alasan Juna.
"Yah. Padahal aku lapar banget." Kilah Juna pura pura kecewa, "Terus aku makan dimana dong?" Wulan tergelak.
"Ah kamu mencurigakan. Orang di daerah kamu aja banyak rumah makan. Apa lagi daerah pasar. Modusnya pinter." Cibir Wulan dan Juna malah tergelak.
"Ya ampun, Wulan! Modus apaan. Orang aku kesini tuh sengaja pengin makan. Nggak salah kan kalau aku mencicipi masakan calon istri?" Dusta Juna sembari menggoda Wulan.
__ADS_1
"Dih, Calon istri? Calon istri dari hongkong." Cibir Wulan lagi yang kini duduk bersandar di meja. Tentu saja mata Juna langsung menatap sesuatu yang terlihat membusung dari balik daster.
"Lah, kan bener. Setelah masa idahmu habis nanti, aku akan melamarmu." Ucap Juna yang arah pandangnya terbagi antara wajah Wulan dan bagian yang membusung milik janda baru itu.
"Kamu serius, Jun?" Tanya Wulan memastikan.
"Emang aku terlihat becanda? Bukankah malam itu kamu sendiri dengar aku ngomong seperti itu di depan orang tuamu?" Balas Juna. Wulan nampak terperangah.
"Ya ampun, kirain aku, kamu becanda, Jun?" Ucap Wulan.
Namun saat Juna hendak membalas ucapan Wulan tiba tiba.
"Brak!
Wulan Dan Juna kaget dan serentak menoleh. Mata mereka membelalak melihat seseorang dengan penuh amarah diikuti beberapa warga.
"Lihat! Benarkan mereka lagi mesum! Lihat ini para warga!"
Deg
...@@@@@...
__ADS_1