ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Yeah! Akhirnya..


__ADS_3

Lagi lagi tak terasa, waktu cepat bergulir. Dan kembali keluarga besar Jaka nampak sedang berkumpul. Seperti biasa, rumah Jaka dijadikan seperti markas oleh saudara saudara Jaka jika sedang berada di kota itu.


Kali ini mereka berkumpul untuk menyaksikan akad nikah salah satu anggota keluarganya yang kepincut dengan janda juga. Karena acara akad di gelar secara sederhana dan sedikit siang, mereka terlihat agak santai dalam menyiapkan diri.


Di dalam kamarnya, nampak Melati sedang merias dirinya di depan meja rias. Sedangkan Jaka, dia terlihat baru keluar dari kamar mandi dengan tidak memakai apa apa. Dia berjalan ke arah tepi ranjang dan memakai pakaian yang sudah Melati siapkan.


"Kenapa dalam keadaan apapun, suamiku selalu terlihat tampan sih? Heran aku, Mas." Ucap Melati. Ternyata dia memperhatikan gerak gerik suaminya dari balik cermin. Jaka tertawa renyah.


"Biar kamu nggak tertarik pria lain kali, Yang. Jadi kamu dijodohkan sama aku." Jawab Jaka asal namun cukup bisa membuat Melati tersenyum.


"Iya kali yah? Tattonya nggak nambah, Mas?" Tanya Melati. Setelah mengoles bedak, kini tinggal bibir yang di kasih pewarna


"Emang boleh?" Tanya Jaka. Setelah memakai celana, Jaka beranjak menuju meja rias Melati dan mengambil parfum yang jarang dia pakai. Sejak berpacaran dengan Melati, Jaka memang jarang memakai parfum. Itu semua karena permintaan perempuan yang sekarang sudah sah jadi istrinya. Melati sangat menyukai aroma tubuh Jaka daripada aroma parfum. Jadi demi menyenangkan Melati, Jaka rela tidak memakai parfum.


"Janganlah, Mas! Tatto segitu aja pesonamu bikin hati wanita amburadul." Balas Melati. Dia sudah selesai dengan urusan wajahnya. Dia berdiri hendak menuju pintu namun badannya ditarik Jaka dan kini mereka berhadapan. Melati memandang wajah suaminya dengan dahi berkerut. "Kenapa?"


Bukannya menjawab. Jaka merebahkan kepala Melati didadanya. Melati tersenyum. Tangannya mengusap dada sang suami yang bertato.


"Bajunya di pakai, Sayang. Yang lain sudah pada nunggu loh di bawah." Ucap Melati.


"Bentar lagi." Balas Jaka tanpa mau melepas tubuh sang istri yang sudah rapi dan wangi. Di usap usap kepala sang istri dengan tangannya. Matanya terpejam, menyalurkan segala rasa yang ada di dalam dada.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Semoga tidak ada sesuatu yang memisahkan kita selain maut." Ucap Jaka terdengar sendu.

__ADS_1


"Iya, aku juga sangat mencintaimu, Mas. Apa yang kamu harapkan, juga sama dengan apa yang aku inginkan."


Suasana sejenak menjadi hening. Hanya ada sepasang suami istri yang sedang menyalurkan berbagai rasa lewat pelukan. Hingga keheningan itu pecah dengan suara teriakan dari luar.


"Jaka! Melati! Udah siap belum? Kita mau berangkat!" Teriak Jati.


"Iya, Bang!" Sahut Jaka dan pelukan mu terlepas. Melati meraih tasnya dan Jaka meraih kaos putih tipis tanpa lengan dan kemejanya. Mereka pun keluar menyusul keluarganya yang sudah menunggu di bawah.


Dan kini, semua keluarga sudah berada di dalam mobil masing masing menuju ke rumah Wulan.


"Gimana, Jun? Grogi?" Tanya Rizki, ayah Juna yang duduk di belakangnya.


"Nggak dong, Yah." Kilah Juna. Padahal sangat jelas terlihat kegugupan di wajah dan gerak gerik tubuhnya.


"Bentar lagi mungkin Julian yang nikah, kalau nggak si Jibril." Ucap Ayah.


"Ah iya, Julian katanya di lamar tiga perawan, itu gimana cerita sih, Yah?" Tanya Jeni yang duduk di jok paling belakang bersama kakak ipar dan si bocah kembar, Adnan dan Afnan.


"Ayah kurang tahu cerita lengkapnya gimana, biarlah, ini jadi urusan keluarga Pakde Rohman. Nanti kalau mereka butuh bantuan kita, ya kita bantu sebisa kita." Ucap sang Ayah dan semuanya manggut manggut tanda setuju.


Tak butuh waktu lama, Juna dan keluarga sudah berada di kediaman mempelai wanita. Dan pastinya keluarga besar Jaka menjadi pusat perhatian setiap mata terutama mata wanita yang takjub dengan sekumpulan manusia manusia penuh pesona.


"Astaga! Ini serius? Kenapa nggak ada yang jelek satu pun?"

__ADS_1


"Ya ampun, aku nggak kuat. Berdenyut banget ini. Mereka benar benar bikin resah."


"Duh! Jadi pengin telentang di hadapan mereka."


Dan masih banyak lagi kasak kusuk yang terlontar dari bibir keluarga Wulan maupun para tamu wanita yang hadir. Bahkan orang orang yang awalnya tidak ada niat menghadiri acara sederhana tersebut seketika membludag demi menyaksikan ke ajaiban dunia dihadapan mereka. Rasa takjub juga terlihat dari seseorang yang tidak diundang namun diam diam hadir.


"Wulan benar benar mendapat pengganti yang lebih baik dariku, hiks hiks hiks."


Sementara di ruang yang sudah di sulap dengan dekorasi sederhana, nampak Juna dan Wulan sudah duduk bersebelahanan. Di hadapan mereka ada penghulu, Ayah Wulan dan Juna serta beberapa saksi lain.


"Sudah siap, Nak Juna?" Tanya pak penghulu.


"Siap, Pak." Jawab Juna Yakin.


"Baiklah, jabat tangan saya dan baca basmallah dalam hati, Nak Juna." Perintah pak penghulu dan Juna pun menurutinya.


Pak penghulu mulai mengucapkan akad dan dengan lantang, Juna langsung menjawab ucapan akad dalam sekali nafas.


"Gimana? Saksi? Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillah.."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2