
"Pakde! Pakde!" Teriak seorang wanita begitu memasuki rumah pakdenya.
"Ada apa, Ti?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang sedang asyik nonton televisi.
"Pakde mana, Bude?" Tanya perempuan bernama Siti. Dia seketika duduk di sisi budenya.
"Ada apa?" Tanya Pakde yang baru keluar dari kamar.
"Aku mau ngasih tahu, Pakde, ternyata Jaka bukan laki laki yang baik buat Melati." Ucap Siti dengan semangat menggebu. Sontak sepasang suami istri yang ada disitu mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu?" Tanya Haryo.
"Tadi aku ke salon? Nah, ternyata pemilik salon itu mau ketemuan sama Jaka." Terang Siti.
"Terus?"
"Ya itu sangat jelas kelihatan kan, Pakde? Kalau Jaka bukan pria yang baik buat Melati? Udah tahu mau lamaran eh malah janjian ketemuan sama perempuan lain." Ucap Siti masih dengan semangat yang membahana.
"Terus? Laki laki yang baik menurutmu? Laki laki seperti apa? Seperti suamimu?" Brondong Pak Haryo yang merasa geram dengan sikap keponakan yang satu ini.
"Loh, kok Pakde ngomomgnya gitu? Niatku baik loh ngasih tahu." Gerutu Siti.
"Niat baik dari sisi mananya? Apa dari dulu kamu selalu membawa kebaikan buat Melati?" Tanya Haryo nampak emosi.
"Udah, Pak, jangan emosi. Nanti kita tanya sama Jaka dan Melati, mereka yang lebih tahu." Ucap Sukma, "Mending kamu pulang, Ti. Jangan bikin Pakdemu darah tinggi." Lanjutnya.
"Gimana sih, Bude? Orang ngasih tahu berita baik, malah disuruh pulang." Gerutu Siti dan dia pun segera beranjak keluar dari rumah Melati.
"Anak itu selalu saja bikin ulah kalau sudah berhubungan dengan Melati. Heran Bapak." Ucap Haryo.
"Sabar, mungkin ini ujian buat Melati. Nanti kita tanya baik baik sama mereka berdua." Balas Sukma.
"Melati nggak balik ke rumah ini?" Tanya Bapak.
"Nggak tahu, dia memang sudah nggak betah balik kesini." keluh Sukma yang terlihat sedih.
__ADS_1
Dari dulu Melati selalu ngalah sama Siti. Tapi Sitinya tidak pernah tahu diri. Ayah Siti meninggal karena kecelakaan. Sedangkan Ibu Siti adalah adik kandung Haryo.
Dari kecil setiap kali berebut sesuatu, Melati selalu disuruh mengalah sama Ibu dan Bapak lantaran Siti anak yatim. Melati kecil sering menangis menganggap orang tuanya tidak pernah adil. Beruntung Melati punya dua kakak laki laki yang selalu bisa menghibur dia. Orangtua Melati bukannya tidak sayang sama anaknya, hanya saja setiap Melati dibelikan sesuatu, Siti pasti akan merengek meminta apa yang sudah menjadi milik Melati.
"Bagaimana mau betah, Bu, tiap hari harus sakit hati melihat Siti sama Malik."
Sementara begitu sampai di rumahnya, Siti masih saja mengumpat tentang Melati. Entah punya dosa apa Melati sama Siti sampai perempuan itu selalu tidak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan sepupunya. Dari sekian banyak saudara sepupu, hanya Siti yang sikapnya berbeda pada Melati.
"Apa apaan sih, Bude, orang ngasih tahu hal baik malah ngusir." Ucap Siti.
"Mana ada hal baik yang keluar dari mulut kamu." Sindir Ibunya Siti.
"Loh, aku tuh ngasih tahu hal baik, Bu! Buat kebaikan Melati agar tidak salah pilih suami." Balas Siti.
"Nggak usah mengatas namakan kebaikan, ngaca dulu kalau ngomong, kamu sudah baik belum?" Ucap Ibu.
"Ibu kok ngomongnya gitu? Selalu saja membela Melati! Dari dulu kayak gitu." Protes Siti.
"Karena tingkahmu itu bikin Ibu selalu malu dan nggak enak sama Pakdemu, Apa apa yang Melati miliki kamu pengin, kamu rebut. Bahkan sampai suaminya pun kamu rebut, Apa kamu juga saat ini ingin merebut calon suami Melati lagi?" Tuding sang ibu yang selalu geram atas tingkah anaknya.
"Jun, besok pas Jaka lamaran, kamu harus ikut loh." Pinta Emak pada keponakannya. Saat ini Juna memang sedang berkunjung ke rumah Jaka.
"Siap, Bude." Jawab Juna ceria.
"Calon kamu juga bawa sekalian, biar rame." Ucap Emak lagi.
"Hahaha ... Calon yang mana, Bude?" Balas Juna.
"Loh, katanya kamu di dekatkan sama temannya Yanti oleh Jati?" Tanya Bapak.
"Kan temen Yanti, Melati, Pakde. Masa iya aku rebutan wanita sama Jaka." Jawab Juna.
"Apa iya? Hahaha ... Kalah cepet kamu, Jun." Kelakar Pakde.
"Emang kamu mau sama janda juga, Jun?" Tanya Emak.
__ADS_1
"Janda perawan sama aja, Bude. Kalau jodohnya Juna janda ya mau gimana lagi, udah jodoh." Jawab Juna.
"Kalau mau Janda, kalau nyari janda, ya nyari yang baik baik, Jun, apalagi pemikiran orang kadang sering mempengaruhi kalau janda tuh begini begitu. Padahal nggak semua janda buruk, dan mana ada wanita yang mau jadi janda kecuali kalau memang wanitanya yang bermasalah." Ucap Emak.
"Iya, Bude, Juna ngerti, emang rencananya, Jaka menikahnya kapan, Pakde?"
"Kalau bisa sih secepatnya. Takut aja ada fitnah yang enggak mengenakan, Jun. Kasihan Melatinya ntar. Yang namanya orang, kalau ngomong kan berdasarkan apa yang dilihat dan didengar. Bukan apa yang terjadi sebenarnya." Jawab Pakde.
"Tapi tunggu kesiapan Jaka juga, Pak. Apalagi Jaka baru mau merintis usaha. Kasihan dia kalau didesak cepet cepet. Apalagi nanti dia berkewajiban cari nafkah. Dia juga pasti nggak bakal mau, dikira numpang hidup sama Melati." balas Emak.
"Bener kata Bude, tunggu kesiapan keduanya." Balas Juna.
Sementara itu pasangan yang sedang menjadi pembahasan orang orang rumah baru akan beranjak pulang setelah puas berkeliling dan menghabkan waktu bersama. Seperti yang terlihat, mereka baru keluar dari area parkir.
"Ini kamu mau pulang kemana, Yang?" Tanya Jaka begitu dia sudah mendudukan tubuhnya di atas jok motor.
"Nggak perlu ditanya juga pasti kamu akan ngantar ke rumah lama." Jawab Melati cemberut. Jaka melayangkan tangannya dan memencet hidung kekasihnya sembari tertawa kecil.
"Udah pengin banget ya ke rumah baru? Sebenarnya kangen rumah baru apa kangen sama kejadian di rumah baru sih?" Ledek Jaka.
"Tau!" Jawab Melati jutek dan itu mambuat Jaka semakin tergelak.
"Aku juga kangen, Sayang. Ya udah malam ini kita pulang ke rumah baru." Ucap Jaka.
"Beneran?" Tanya Melati sumringah.
"Tapi bohong. Hahhah..."
"Iih!"
"Udah, ayok pulang, udah malam, atau mau nginep di sini?" Ucap jaka. Melati hanya mendengus dan dia segera saja naik di jok belakang.
Tak lama kemudian, Motor pun melaju menembus malam membawa dua hati yang penuh cinta.
...@@@@@@...
__ADS_1