
Pria itu nampak begitu emosi. Dia segera saja mendekat ke adah Wulan dan Juna hendak menarik tangan wanita yang sudah berstatus mantan istrinya itu. Namun dengan sigap Juna langsung menepis tangan pria itu.
"Yang sopan dengan perempuan!" Hardik Juna dengan menahan emosinya. Dia langsung turun dari motor.
"Ganteng juga. Pantes mau jadi pria selingkuhan. Di bayar berapa kamu sama perempuan ini?" Ejek laki laki itu. Juna yang harga dirinya sedang di tekan berusaha menahan diri meski dia seketika emosi.
"Hati hati kalau ngomong!" Bentak Wulan tak kalah sengit.
"Tapi omonganku benar kan? Kamu menggugat cerai aku karena pria ini? Iya kan?" Bentak pria itu.
"Terus apa masalahmu pria pengangguran?" Kini giliran Juna yang melempar ejekan.
"Pria yang malas bekerja dan tak memberi nafkah istrinya juga masih bergantung di ketiak ibunya. Apa pantas orang semacam kamu di sebut pria? Bhak! Masih berlindung di ketiak orangtua aja sok sokan ngajak anak orang nikah!" Ejek Juna dengan sangat telak. Dan tentu saja ejekan itu membuat mantan suami Wulan makin emosi.
"Kamu menjelek jelekkan aku di hadapan laki laki selingkuhanmu? Hebat benar kamu yah!" Tuduhnya lagi. Wulan yang hendak membela diri kalah cepat mengeluarkan suara dari Juna.
"Orang udah jelek, ngapain pake acara jelek jelekin segala? Ngaca kalau ngomong! Nih spion buat ngaca, biar kamu tahu letak kesalahanmu! Cowok kok mulutnya kayak cewek. Asal nuduh, nyinyir. Eh pake jilbab aja sana! Malu aku melihat laki laki nggak tahu diri." Ejek Juna benar benar menohok ulu hati mantan suami Wulan.
Dan nampak sekali laki laki semakin menggertakan giginya. Matanya memerah, dadanya bergemuruh. Dia mengepalkan tangannya dan tiba tiba hendak memberi bogem mentah pada wajah Juna. Namun gerakan Juna ternyata lebih gesit. Tangan kiri Juna dengan cepat menepis tangan mantan suami Wulan dan tangan kanan Juna terkepal seketika dan
Bugh!
__ADS_1
Satu pukulan telak menghantam wajah lelaki itu. Dia tak terima dan dia mencoba menyerang Juna kembali. Perkalahianpun tak dapat terlekan. Suasana jalan yang nampak sepi seakan mendukung perkelahian dua pria yang saling serang dan menahan. Namun lagi lagi serangan pria itu berhasil Juna tepis dan Juna kembali berhasil memberi serangan serangan dari pukulan hingga tendangan sampai membuat mantan suami Wulan tersungkur.
"Udah, Jun! Udah!" Teriak Wulan mencoba menahan amarah Juna dengan memeluknya dari belakang secara spontan.
Juna terpaku. Hatinya tiba tiba bergetar hebat. Dilihatnya tangan yang melingkar di pinggangnya. Senyumnya tersungging.
"Tak tahu malu! Meluk selingkuhan di tengah jalan!" Ejek pria itu yang sedang berusaha bangkit.
"Diam kau!" Bentak Juna.
"Sudah, Jun, sudah! Biarkan dia ngomong apa! Mending kita pergi!" Ucap Wulan. Dia segera menarik tangan Juna menuju motornya.
Tak butuh waktu lama, Juna segera saja menyalakan motor dan melajukannya. Sebelum menjauh, Juna menyempatkan sejenak menendang motor yang melintang hingga motor itu roboh.
"Brengsek!" Teriak laki laki itu. Namun motor Juna sudah melesat jauh meninggalkan pria itu.
Selama dalam perjalanan, Wulan dan Juna nampak saling diam hanyut dalam pikiran masing masing. Hingga tak kerasa, kini motor Juna sudah memasuki daerah pemukiman Wulan.
"Lampu merah belok kiri, Jun." Tunjuk Wulan tiba tiba. Juna hanya mengangguk dan dia melajukan motornya sesuai arah yang ditunjuk Wulan.
"Berhenti depan SD itu, Jun." Tunjuk Wulan dan lagi lagi Juna hanya mengangguk.
__ADS_1
Motor Juna kini berhenti tepat di depan SD yang ditunjuk.
"Rumah kamu sebelah mana, Lan?" Tanya Juna sembari matanya berkeliling.
"Tuh, sebelah SD yang ada warung dengan cat ijo." Tunjuk Wulan sembari menyunggingkan senyum dan Juna hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Maaf ya soal barusan, Jun. Aku nggak nyangka akan ada..." Ucap Wulan terpotong.
"Nggak perlu minta maaf, lain kali kalau kamu dapat tuduhan lagi, bilang aja kalau tuduhan itu benar." Balas Juna sembari menatap lekat perempuan yang berdiri disampingnya.
"Tapi, Jun."
"Sekuat apapun kamu menyangkal, yang namanya tuduhan akan terus mengalir karena rasa benci. Jadi lebih baik kamu membenarkan tuduhan itu. Lagian, nggak ada ruginya kan? Dituduh selingkuh sama pria setampan aku?" Ucap Juna pede.
"Dih!" Cibir Wulan.
Di saat mereka lagi asyik ngobrol sejenak, tiba tiba dari belakang Wulan.
"Wulan! Kamu sudah pacaran lagi?"
...@@@@@...
__ADS_1