ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Awal Mula Suka Asam..


__ADS_3

Jaka menyunggingkan senyumnya begitu melihat wajah puas sang kekasih setelah menghirup aroma asam penuh keringat dari dua sisi bagian tubuhnya. Berbagai pertanyaan pun bermunculan di pikirannya. Jaka meraih jemari Melati dan menggenggamnya erat. Melati yang duduk di sebelah Jaka, menjatuhkan kepalanya di bahu kekar sang kekasih. Bahkan sesekali dia menoleh dan mengendus aroma asam yang dekat dengan bahu Jaka.


"Kamu sejak kapan sih, Yang? Menyukai aroma ketiak yang asam?" Akhirnya satu pertanyaan Jaka terlontar karena terlalu penasaran.


"Sejak menikah dulu, Yang. Kalau bau ketiak suami asam, itu kayak tenang banget setelah menghirupnya. Tapi kalau ketiaknya wangi malah biasa saja. Dan itu hanya terjadi sama bau ketiak suamiku, Yang." Jawab Melati apa adanya.


"Nggak setiap ketiak pria, Yang?" Tanya Jaka sembari sesekali mencium punggung tangan sang kekasih.


"Nggak lah, Yang. Gila aja kalau setiap laki laki, yang ada muntah muntah kali, Yang." Jawab Melati dan Jaka tertawa renyah.


"Oh, kirain kesetiap laki laki. Tapi kok kamu berani mencium ketiakku, Yang? Kan kita belum nikah?" Mendengar pertanyan seperti itu, Melati menoleh sejenak menatap Jaka kemudian kembali bersandar di bahu pria itu.


"Mungkin karena kita sudah melakukan hal yang lebih, Yang. Dan juga kamu selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun. Coba kalau kita belum pernah melakukan hubungan ranjang. Mana berani aku berterus terang seperti ini sama kamu. Aku pasti akan mati matian menahannya." Jawab Melati begitu apa adanya. Jaka hanya mengangguk beberapa saat tanda mengerti.


"Aku bersyukur sih, Yang. Dan aku kagum sama kamu. Meski kamu janda, kamu nggak mengumbar hasrat kamu. Aku rasa hasrat kamu begitu tinggi, bahkan hanya melihat bulu ketiak saja hasrat kamu meningkat." Ucap Jaka sembari berkali kali mencium punggung tangan sang kekasih.

__ADS_1


"Kamu nggak menyesal, Yang? Kamu dapat janda? Sedangkan di luar sana, banyak perawan yang menunggu cintamu, apa lagi kamu begitu tampan. Pasti banyak yang menyayangkan pria setampan kamu malah dapat janda?" Tanya Melati bertubi tubi namun Jaka tersenyum terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan calon istrinya.


"Nggak lah, Yang. Aku malah sangat bersyukur dapat janda seperti kamu. Kamu mandiri, pikirannya maju dan kamu juga benar benar menjaga diri dari godaan selama jadi janda. Ya meskipun akhirnya kamu tergoda waktu pertama bertemu aku. Dan aku sih nggak peduli omongan orang. Kan yang menjalani hidup aku dan aku nyaman dapat janda. Lagian selama aku lajang, banyak perawan yang mengejarku dan banyak pula yang ngasih kode dengan tujuan berhubungan dalam kamar. Ya terang saja aku tolak lah, Yang. Masa nggak ada jaim jaimnya gitu ngajak laki laki main di kamar. Meski mereka bilangnya bercanda tapi kan banyak kejadian dari yang awalnya bercanda menjadi serius." Balas Jaka begitu panjang hingga membuat Melati tersenyum senang dan dalam hatinya dia juga sangat bersyukur mendapat Jaka yang nemerima apa adanya. Begitu juga dengan keluarga Jaka.


"Jadi dulu, pas kamu melakukan sama pacar kamu juga awalnya bercanda, Yang?" Tanya Melati.


"Iya, Si cewek dulu yang sering banget bercanda goda goda gitu, ngobrolnya tentang ranjang mulu. Aku sebagai laki laki normal ya otomatis membalas candaan dong. Eh candaan itu malah makin serius, trus kejadian deh." Jawab Jaka dan Melati hanya ber oh saja agar pembicaraan tentang masa lalu tidak diteruskan.


"Berarti, beberapa hari ke depan, kita hanya bisa berhubungan lewat chat doang ya, Yang?" Tanya Melati.


"Kamu kenapa senyum senyum sendiri gitu, Yang? Ada yang lucu?" Tanya Melati penasaran.


"Nggak, Yang. Cuma lagi keingat sama Dodit aja. Nggak nyangka dia malah akan nikah duluan sebelum kita." Jawab Jaka masih dengan sisa rasa takjubnya memikirkan kepolosan Dodit.


"Emang tadi kalian ngobrol apa aja, Yang?" Tanya Melati penasaran.

__ADS_1


"Ya lumayan banyak. Obrolan seputar laki laki. Pake segala macam malam pertama ditanyaain lagi, benar benar polos tuh anak." Jawab Jaka.


"Dodit emang kadang polos, Yang. Makanya abang abang aku seneng banget ngeledekin dia. Tapi dia jujur dan nggak pernah neko neko, makanya keluarga besarku banyak yang suka dengan kepribadian dia." Terang Melati.


"Semoga Risma juga menyukai kepribadian Dodit ya, Yang. Biar pernikahan keduanya nggak gagal lagi." Harap Jaka dan Melati mengiyakan.


"Eh, Yang. Tapi kayaknya kita nanti pas acara nikah, nggak ada malam pertama deh, Yang." Ucap Melati tiba tiba dan hal itu seketika mengernyitkan dahinya dan menatap tajam ke arah Melati.


"Loh emang kenapa nggak ada malam pertama?" Tanya Jaka heran.


"Ya kemungkinan, pas acara nikah kita, Aku lagi datang bulan, Yang."


"Apa!"


...@@@@...

__ADS_1


__ADS_2