
Di sebuah kota kecil, diantara hiruk pikuknya kendaraan yang melaju, terlihat seorang wanita sedang duduk manis di depan sebuah warung makan dengan menatap layar ponselnya. Wania itu sedang menunggu pembeli sambil memainkan aplikasi sosial media. Wajahnya nampak begitu serius menatap layar ponsel sampai dia tidak sadar ada yang memanggil.
"Mba Wulan!" Teriak seseorang dan kali ini wanita itu sedikit tersentak. Dia langsung menoleh.
"Eh, Dio. Ngagetin aja." Ujar Wulan sembari berdiri dari duduknya dan melangkah masuk ke warung.
"Lah, dari tadi, Mba Wulan, dipanggil, nggak jawab jawab. Ya terpaksa aku teriak." Balas pemuda berumur sekitar dua puluh tahun tersebut.
"Benarkah? Maaf." Ucap Wulan dan dia tertawa terus tangannya meraih kertas minyak, "Berapa bungkus, Di?"
"Tiga, Mba, lauknya telor dadar, terus itu oseng kecipir sama tahu aja, Mba. Disamain." Jawab pemuda berseragam kaos merah dan celana hitam khas mini market yang ada di kota kota kecil negara ini. Dio dan teman teman kerjanya adalah salah satu langganan warung Wulan.
Dengan telaten, Wulan melayani Dio. Dan tak perlu menunggu terlalu lama, tiga nasi bungkus kini sudah masuk ke dalam kantong plastik dan siap diserahkan ke pembeli.
"Berapa, Mba?" Tanya Dio sembari merogoh saku celananya.
"Dua puluh empat ribu aja, Di." Jawab Wulan dan Dio pun segera menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribu dan satu lembar uang lima ribu.
"Yang seribu buat ini aja, Mba." Ucap Dio sambil menarik satu bungkusan krupuk yang menggantung, "Makasih, Mba."
"Yoo.." Wulan pun mengulas senyum dan menaruh uang ke dalam laci.
"Wulan!" Lagi lagi ada yang teriak dan mengaggetkan hingga Wulan kembali terkejut dan menoleh.
"Alin! Sari!" Pekik Wulan setelah tahu siapa yang mengagetkannya.
"Sorry, ngagetin, Ya?" Tanya Alin dengan cengirannya dan mereka duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
"Tumben kalian main jam segini? Emang nggak pada ngurusin suami?" Tanya Wulan kepada dua sahabatnya.
"Orang kita habis kondangan di tempatnya Anwar Lan. Sekalian deh mampir. Lama kita ngrumpi. Urusan suami, gampang deh." Balas Sari sambil menyomot bungkusan kacang dalam toples di dekatnya.
"Nggak mungkin kalian mampir kalau nggak ada misi khusus. Paling ujung ujungnya wawancara." Cibir Wulan dan tentu saja tebakannya benar. Terlihat keduanya langsung cengengesan dan Wulan hanya mendengus kemudian tertawa.
"Beneran kamu bentar lagi lamaran? Cepet amat lakunya, Lan?" Tanya Alin.
"Dagangan kali laku. Huh!" Dumel Wulan.
"Ya cepet lah, secara, Wulan janda kualitas dewa dewi. Sudah banyak yang mengantrinya." Celoteh Sari.
"Tapi yang lebih mencengangkan, katanya pria yang akan melamarmu sangat tampan, Lan?" Tanya Alin.
"Kata siapa? Biasa aja." Jawab Wulan dusta. Dia tidak mau langsung jujur kepada dua sahabatnya. Walaupun nanti juga akan kebongkar karena Wulan tahu, jiwa penasaran mereka sudah mendarah daging.
"Gila kalian! ingat suami, Woy!" Hardik Wulan namun kedua temannya malah terbahak.
"Gimana ceritanya sih, Lan? Kok kamu bisa beruntung gitu?" Tanya Sari. Sebenarnya mereka susah tahu sedikit gosip tentang Wulan namun mereka kurang yakin kalau tidak dengar dari mulut sahabat sendiri.
Wulan pun akhirnya menceritakan awal mula bertemu dengan Juna dan kejadian kejadian yang di alaminya hingga akhirnya Juna memutuskan akan melamarnya. Sesekali, sahabatnya pun menimpali dengan berbagai pertanyaan. Kadang mereka juga menampakkan wajah terkejut saat Wulan menceritakan kelakuan mantan suaminya.
"Dia beneran suka sama kamu dong, Lan?" Tanya Sari.
"Iya, kalau nggak suka, mana mungkin dia ngebet gitu pengin buru buru nikahin Wulan." Timpal Alin.
"Nih! Lihat!" Ucap Wulan sambil menunjukkan pesan chat yang Juna kirim, "Udah kayak alarm aja dia, tiap pagi chatnya gini."
__ADS_1
Alin dan Sari tercengang namun sedetik kemudian mereka tertawa. Dalam pesan chat yang dikirim Juna tertulis, "Lamaran tinggal sembilan hari lagi" Dan seterusnya.
"Apa nggak sebel, tiap pagi di chat kayak gitu," Oceh Wulan.
"Tapi kamu suka kan?" Ledek Alin.
"Tahu ah, intinya dia tuh nyebelin, udah gitu suka maksa lagi. Ngeselin banget." Oceh Wulan.
"Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu nggak tolak aja? Suruh Bapak yang ngomong." Saran Alin.
"Siapa yang nggak suka? Aku suka tapi masa iya aku nggak jual mahal dikit." Ungkap Wulan sambil nyengir kuda.
"Huu! Dasar." Sorak kedua temannya.
"Justru kalau lagi dia maksa itu, aku suka banget. Kelihatan jantan dan sangat mempesona. Apalagi jambang tipisnya, ugh! Ngebayangin tu jambang menggesek gesek leherku, mantap!" Ucap Wulan.
"Sampai berkedut nggak punya kamu, Lan?"
"Banget. Kalau aku nggak ingat batasan dan dosa, aku sudah telentang di depan Juna langsung minta di sodok." Dan ketiganya serentak terbahak.
Sementara ditempat lain di menit yang sama.
"Kamu kenapa, Jun? Telinganya ditarik tarik gitu?"
"Nggak tahu ini teh, kayak panas dan gatal. Ada yang lagi ngomongim aku kayaknya."
...@@@@@...
__ADS_1