
Empat hari lagi pernikahan Jaka dan Melati akan diselenggarakan. Jaka tampak sedang sibuk memperhatikan tukang tenda pernikahan di depan dan samping rumah tingkat dua.
Halaman rumah tersebut memang cukup luas, apalagi halaman samping yang mirip tanah lapang milik Pakdenya Jaka yang di Jakarta. Makanya acara pernikahan Jaka di adakan dirumah itu, selain tempatnya luas, aksesnya juga mudah karena tepi jalan yang lumayan ramai dan di seberang jalan ada tanah lapang yang nantinya akan digunakan untuk lahan parkir.
Di belakang rumah juga sudah nampak para ibu ibu tetangga yang sudah diminta emak untuk membantu jalannya acara. Semua nampak sibuk dengan tugasnya masing masing.
Jaka juga sudah minta tolong beberapa pemuda tetangganya untuk membantu jalannya acara nanti. Beruntung, Jaka punya dua sahabat yang juga siap membantu dan mau mengurusi jalannya acara hingga selesai.
Disaat Jaka sedang asyik bercengkrama, dia dikejutkan dengan mobil berplat luar kota yang berhenti di depan rumah. Jaka langsung bangkit dan menghampiri mobil tersebut. Dia tahu betul siapa pemilik mobil itu.
"Pakde Rohman!" Seru Jaka menyambut kakak dari bapaknya saat dia turun dari mobil. Selain pakde Rohman, dari dalam mobil juga keluar istri pakde dan anak bungsunya.
"Hallo Jak, sehat?" Tanya Pakde sambil membalas jabat tangan Jaka.
"Alhamdulillah Pak de." Balas Jaka.
"Wuih! Calon pengantin? Selamat ya, Jak." Ucap Julian sepupu Jaka.
"Makasih, Jul." Balas Jaka, "Budhe Isna, sehat." Sambung Jaka menyapa Ibunya Julian.
"Sehat dong, Jak. Kalau nggak sehat, mana bisa Budhe kesini." Balas Budhe Isna dan Jaka tertawa renyah.
"Bang Judika sama Mba Juwita mana, Budhe?" Tanya Jaka mereka hanya melihat Pakde datang bertiga.
__ADS_1
"Masih di jalan, Jak, bareng keluarga mereka masing masing." jawab Budhe, "semua sudah datang, Jak?" Sambung Budhe lagi.
"Baru keluarga tante Rumi, Budhe, mereka datang semalam, kalau yang di Bandung dan Semarang katanya lagi di jalan." Jawab Jaka sembari mengajak mereka masuk ke dalam.
"Berarti Jaffan, Jaffin dan Jefina sudah datang, Jak?" Tanya Julian antusias.
"Sudah, tapi mereka lagi pada renang sama Mas Jati, Mba yanti dan Altaf." Jawab Jaka.
"Yah, aku ketinggalan." Keluh Julian lesu.
Judika dan Juwita adalah anak kembar dari kakak tertua bapaknya Jaka. Mereka masing masing sudah menikah dan Julian adalah anak bungsu yang usianya beda dua tahun lebih muda dari Jaka.
Jafan dan Jafin juga anak kembar dari adik perempuan bapak satu satunya. Karena Bapaknya Jaka semuanya lima bersaudara. Rohman, Rahmat, Rizki, Rizik dan Rumina. Jafan dan Jafin masih kuliah dan mereka punya adik perempuan masih SMA bernama Jefina.
Om Rizki punya kembaran bernama Rizik. Rizik juga sudah menikah dan memiliki anak kembar bernama Jibril dan jubair.
Kini semua keluarga nampak duduk bersama. Mereka bercengkrama saling melepas rindu antara kakak dan adik. Keakraban keluarga besar Jaka benar benar terjaga meski mereka tinggal berjauhan. Yang tua tua berkumpul di rumah lama yang dihuni emak dan bapak. Sedangkan yang muda berkumpul di rumah bertingkat.
"Masa ya, Bang. Tadi di kolam renang, banyak cewek yang minta kenalan sama aku. Gila aja, berani beraninya gitu." Celoteh Jafan dengan semangatnya.
Iya benar, pake minta nomer hp segala lagi." Sambung kembarannya, Jafin.
Ya. Begitulah pesona saudara saudara Jaka. Baik yang perempuan maupun laki laki, selalu menjadi pusat perhatian. Pesona mereka memang tidak bisa terbantahkan keasliannya. Bahkan yang bernama Juwita, sampai dikejar anak sultan dari arab yang kini menjadi suaminya. Beruntung, suami Juwita orang yang mudah akrab dan rendah hati, jadi dia bisa dengan mudah bergabung dengan saudara saudara istrinya.
__ADS_1
"Jak, gimana ceritanya sih? Kok kamu bisa dapat janda?" Tanya Juwita sambil memangku anaknya yang baru berusia dua tahun.
"Kalau diceritain ya panjang ceritanya, Mba. Namanya jodoh juga, kita kan nggak tahu." Jawab Jaka sambil cengengesan.
"Pasti sudah nyobain ya, Jak?" Ledek Jibril.
"Apaan sih, Jib. Enggak lah." Jawa Jaka dusta.
"Halah, nggak mungkin. Bang Jaka pasti udah icip icip tuh." Ledek Jafan dan semuanya tergelak.
"Tapi kalau jandanya, janda baik baik ya nggak apa apa sih, Jak." Ucap Juwita lagi.
"Yah, Mba Juwi. Kalau pakde Rahmat menyetujui, pasti jandanya memang janda kualitas tinggi lah, Mba. Bukan kaleng kaleng. Bener nggak, Jak?" Tukas Janu dan Jaka dengan girang mengiyakan.
"Aku juga sepertinya akan dapat janda." Ucap Juna tiba tiba dan tentu saja seketika menatap ke arah Juna.
"Yang bener, Bang?" Tanya Jeni, adik Juna yang duduk disebelahnya.
"Iya, janda baru mekar."
"Astaga!"
...@@@@@...
__ADS_1
Wah, udah mulai bau bau pernikahan Jaka nih, keseruan apa sajakah yang akan terjadi? ditunggu ya? Dan jangan lupa, kasih tetep kasih dukungan. Biar othor makin semangat. Karena komentar kalian, like kalian, gift kalian, vote kalian dan Rate dari kalian adalah penyemangat othor. Jadi ayok! Angkat jempol pembaca dan klik apa yang kalian mampu berikan sebagai bentuk dukungan. Makasih.