
Dan keesokannya, Baik pasangan Jaka maupun pasangan Dodit sama sama di sibukkan dengan berbagai persiapan menjelang hari bersejarah mereka.
Berhubung Dodit belum punya motor, terpaksa dia meminjam motor milik Melati dahulu untuk mengurusi segala keperluan yang dia butuhkan. Sebenarnya selama bekerja di toko Melati, Dodit memiliki tabungan yang cukup untuk sekedar membeli motor, namun dia sudah punya tekad lain. Uang tabungannya dia ingin gunakan untuk usaha suatu saat nanti. Namun sayang, dia keburu mendapat masalah yang menjadi anugerah dalam hidupnya yaitu di suruh menikahi janda pujaan.
Dodit sebenarnya pria yang populer di kalangan manusia seusianya. Dia juga berkali kali merasakan yang namanya pacaran. Namun nasib buruk selalu menimpa dia. Kisah cintanya selalu kandas dan dia jadi pria yang tersakiti.
Karena itu, begitu mengenal Risma, Dodit hanya bisa menyukai janda itu diam diam. Apalagi dilihat dari usianya, Dodit sangat tidak yakin kalau cintanya bakal terwujud. Tapi takdir malah berkata lain. Dia mendapat kesempatan untuk membuktikan cintanya.
Dodit berasal dari keluarga sederhana dan memiliki satu adik perempuan yang masih sekolah. Ayahnya Dodit adalah adik dari ibunya Melati. Dodit memilih tidak meneruskan sekolah yang lebih tinggi karena keterbatasan biaya. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat. Dalam urusan pekerjaan, dia selalu penuh tanggung jawab dan jujur. Makanya begitu Melati merintis usaha, Dodit lah yang Melati tunjuk pertama kali untuk membantunya.
Di saat Dodit dan Jaka sedang sibuk sibuknya mengurus segala hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka, ada satu pemuda tampan yang justru sedang menikmati kesendirian. Hari ini dia terpaksa menutup tokonya. Dia hendak jalan jalan menghabiskan waktu.
"Mending aku jalan jalan ke kota, sekalian nyari baju buat acaranya Jaka." Gumamnya. Dan dia segera melajukan kuda besinya menuju ibu kota kabupaten yang dia tinggali.
Sepanjang perjalanan, Dirinya tetap fokus menembus ramainya jalan raya hingga tak butuh waktu lama, motor yang dia kendarai sudah memasuki kawasan kota.
Saat pria itu sedang asyik menikmati suasana, matanya tiba tiba menangkap sosok perempuan yang dia kenal sedang berdiri di tepi jalan depan sebuah gedung. Pria itu membaca nama gedung itu dan dahinya mengkerut. Karena merasa kenal, pria itu melajukan motornya ke arah dimana perempuan itu berdiri.
Perempuan yang sedang berdiri dibawah sebuah pohon, terlihat mengernyitkan dahinya saat tiba tiba ada motor yang berhenti tepat di hadapannya. Perempuan itu nampak kebingungan sembari menoleh ke kiri dan ke kanan terus kembali menatap heran pada seseorang di hadapannya.
Namun saat pria itu membuka helm, Mata perempuan itu membulat sempurna.
__ADS_1
"Juna!" Pekik perempuan itu. Pria bernama Juna pun menyunggingkan senyum.
"Gimana kabarmu, Wulan?" Tanya Juna sembari turun dari motor dan berdiri di sebelah Wulan.
"Kamu ngapain disini? Sendirian kayak orang hilang?" Bukannya menjawab, Wulan malah kembali melontarkan pertanyaan.
"Mau nyari janda. Kali aja ada janda baru netas hari ini." Jawab Juna santai dan hanya di balas cebikan bibir oleh Wulan.
"Ya sana masuk gedung. Banyak sidang perceraian tuh. Kali aja dapat." Balas Wulan dan Juna justru malah tergelak.
"Nggak ah, males. Lagian udah dapat juga. Ngapain masuk?" Ucap Juna membuat dahi Wulan berkerut.
"Udah dapat? Siapa?" Tanya Wulan.
"Ngomong ngomong kamu mau pulang apa mau ngapain, Lan?" tanya Juna.
"Mau pulang lah, nunggu angkot. Motorku kan ada di kamu. Maaf ya, belum sempat bayar utang." Jawab Wulan sembari tersenyum merasa tak enak.
"Santai aja kali, gunakan aja uang kamu untuk keperluan lain dulu. Gini aja deh, daripada kamu panas panas nungguin angkot, mending kamu ikut aku yuk nemenin cari baju." Usul Juna.
"Nyari baju?" Tanya Wulan.
__ADS_1
"Iya, buat acara nikahannya saudara. Daripada aku kayak orang hilang nyari baju sendiri. Ayok!" Jawab Juna sedikit memaksa.
"Nggak ada helm, lagian ntar aku pulangnya gimana? Takut kemalaman malah nggak ada kendaraan." Ucap Wulan ragu.
"Ntar aku antar sampai rumah. Sekalian aku pengin tahu rumah kamu. Kan kita sudah kenal, nggak salah dong aku pengin tahu rumah kamu." Desak Juna. Wulan nampak berpikir.
"Ayolah, Lan. Itung itung kamu gantian nolong aku." Ucap Juna lagi. Dan mau tak mau, Wulan pun menggangguk karena merasa tak enak juga jika dirinya menolak. Toh Juna juga pernah menolong dia jadi dia juga tidak ada salahnya menolong Juna menemaninya belanja.
Melihat kepala Wulan mengangguk, senyum Juna langsung terkembang. Dia membuka jok motor dan mengambil helm yang dia sembunyikan disana.
"Nih, Pake." Perintah Juna dan Wulan menerima helm tersebut.
Setelah siap, Juna segera menaiki motornya dan kemudian Wulan menyusul dan duduk di jok belakang.
"Sudah siap?" Tanya Juna.
"Sudah." Jawab Wulan.
"Oke!"
Dan beberapa saat kemudian motor pun melaju menuju tempat lain. Dalam hati, Juna begitu girang dengan senyum tersungging sepanjang jalan.
__ADS_1
"Lumayan dapat teman buat kencan."
...@@@@@...