
Dan dihari yang sama di kediaman Jaka, satu persatu saudara Jaka telah kembali ke kota asalnya masing masing. Tinggal Jati, Jaka, Julian dan dua wanita muda yang nampak duduk santai di teras rumah Emak. Sedangkan seorang anak kecil, sudah tertidur di depan televisi rumah tersebut. Mungkin dia kelelahan karena seharian bermain dengan saudara saudaranya
Beda dengan Juna, Julian lebih memilih tinggal di rumah Bapaknya Jaka. Karena di rumah itu sekarang sepi sejak Jaka menikah.
Emak dan bapak tidak ikut bergabung karena mereka juga sedang pergi kondangan ke hajatan teman sesama pedagang.
"Kamu jadi nyari mobil, Jak?" Tanya Jati.
"Ya jadi lah, Bang." Jawab Jaka. Dia dan Melati memang berencana membeli mobil. Bahkan mereka juga membeli kios kosong di belakang kios Melati. Dan sisa pembelian kios, Jaka gunakan buat mencari mobil bekas. Maka itu, dia minta bantuan abangnya yang sudah banyak pengalaman dan kenalan.
"Ya udah, besok kita ke rumah teman abang. Katanya mobil yang kamu mau disana ada." Balas Jati.
"Beneran, Bang? Baguslah." Ucap Jaka senang.
"Terus kalian jadi nambah tenaga nggak?" Kini giliran Yanti yang bertanya.
"Ya jadi nanti kalau kios belakang sudah siap. Kita pengin nambah tenaga perempuan dua orang." Jawab Jaka.
"Enak aja nyari tenaga rperempuan. Aku maunya laki laki." Sergah Melati.
"Loh? Kan sudah ada aku sama Dodit? Kalau nambah perempuan kan, biiar kamu ada temannya, Yang." Tukas Jaka.
"Nggak! Aku nggak mau. Enak aja. Entar itu perempuan bukannya fokus kerja tapi malah fokus lihatin kamu terus gimana? Enak aja, seharian mandangin wajah suamiku. Pokoknya aku maunya laki laki. TiTiK!" Tiha Wulan tak mau terbantahkan.
Semua nampak terperangah mendengar alasan Melati. Dan sedetik kemudian mereka tertawa.
__ADS_1
"Astaga! Segitunya kamu, Yang? Iya iya, nyari laki laki aja." Ucap Jaka akhirnya mengalah.
Dan mereka yang berada di sana, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Terus kamu sendiri, gimana, Jul? Membuka usaha disini? Banyak yang minat nggak?" Tanya Jati sambil menyeruput kopinya.
"Lumayan, Jat. Aku sih yakin ini akan lancar, di sini jarang banget ada distro, peluangnya besar." Jawab Julian.
"Disini mah asal harganya wajar ya pasti banyak yang minat, Jul. Tahu sendiri, ini bukan kota besar." Ujar Jaka.
"Jul, kamu serius? Belum memilih tiga perawan yang melamarmu?" Tanya Yanti sambil mengupas salak.
"Gimana nggak bingung, Mah. Tiga perawannya cantik cantik banget." Timpal Jati pada istrinya.
"Iya, kemarin, Bang Judika ngasih lihat foto foto fotonya, gila!" Ungkap Jaka.
"Hahaha ... Ya enggak, Sayang. Yang paling cantik ya istriku lah," Balas Jaka cengengesan.
"Dengar dengar mereka nggak ada yang mau ngalah ya, Jul?" Tanya Yanti lagi.
"Kamu nih gimana sih, Mah. Wanita mana yang mau nyerah buat ngedapatin saudara saudara papah? Bahkan mamah tahu kan? Anak Pak kades?" Lagi lagi Jati yang menjawab pertanyaan istrinya.
"Ah iya, bener. Emang Ririn masih suka godain kamu, Pah?" Tanya Yanti pada suaminya.
"Ya masih lah, untung papah lelaki setia, coba kalau papah playboy kaya Jibril, mungkin mamah sudah di poligami." Balas Jati.
__ADS_1
"Enak aja." Sungut Yanti.
"Beneran, Jul? Nggak ada yang mau mundur satupun?" Kini Melati yang melempar pertanyaan. Biar bagaimana pun, dia juga penasaran.
"Ya begitu lah, mana orang tuanya pada ngasih dukungan lagi." Balas Julian lesu.
"Ya kamu coba kasih tantangan, Jul. Tantangan yang kemungkinan mereka nggak mau melakukannya dan menyerah?" Usul Jaka.
"Pernah, Jak. Aku pernah ngasih tantangan. Menurutku ini tantangan paling gila, namun hasilnya mereka tetap aja maju." Balas Julian berapi api.
"Tantangan apa tuh?" Celetuk Yanti.
"Pokoknya adalah, Yan. Aku sendiri juga nggak nyangka. Mereka tatap mau melakukannya." Balas Julian.
"Tantangan apaan sih? Minum racun?" Tebak Jaka.
"Heleh, bukan lah. Mana berani aku ngasih tantangan seperti itu." Jawab Julian.
"Lah terus tantangan apaan? Tinggal cerita? Apa susahnya sih?" Sungut Jaka.
"Jadi gini, mereka pernah datang tuh secara nggak sengaja, ketiganya datang ke rumah. Otomatiskan mereka ribut ribut. Untung mamah papah lagi pergi saat itu. Aku jengah dong, aku bawa ketiganya ke ruang atas. Nggak enak. Mereka masih ribut terus. Bar bar deh pokoknya. Aku berpikir keras tuh saat itu. Nah aku nemu ide, dan aku yakin kalau mereka pasti nolak. Ya udah aku bilang ke mereka, jika kalian masih beneran perawan, sekarang juga kasih kesucian kalian buat aku. Jika ketiganya masih suci, aku nikahin ketiganya, gitu." Ungkap Julian berapi api.
"Terus?" Sela Yanti.
"Aku pikir mereka nggak mau, karena mereka terdiam semuanya. Eh tak lama kemudian, bukannya ngomong, protes atau gimana, salah satu dari mereka melepas pakaian satu persatu, gitu aja. Gila! Aku kaget dong. Terus dua cewek yang lain aku pikir mereka menyerah eh malah ngikutin buka pakaian sampai semuanya terlepas. Harusnya aku senang kan? Tapi aku malah takut dan aku kabur kesini."
__ADS_1
"Astaga!"
...@@@@@...