
Bintang bintang itu sedang memamerkan kemerlip sinarnya. Bulan itu sedang menyuguhkan purnamanya. Angin itu sedang berhembus dengan lembutnya.
Di sana. Di bangku panjang bawah pohon mangga. Sepasang manusia sedang bercengkrama merayakan kebahagiaannya. Kebahagiaan yang datang setelah keluarga pihak wanita langsung memberi lampu hijau untuk melanjutkan hubungan mereka tanpa syarat dari sang kepala keluarga.
Sementara itu di dalam dua rumah. Mata mata penasaran nampak terselip diantara tirai tirai kaca. Dengan membawa banyak seribu tanya, mata mata itu tertuju pada satu titik yaitu pasangan yang sedang berbahagia.
"Melati kok beruntung banget ya, Ran." Ucap Desi salah satu kakak ipar Melati yang matanya terus mengawasi gerak gerik kekasih adik iparnya.
"Iya, pake doa apa tuh anak? Lihat tuh, dilihat dari punggungnya aja sudah ketahuan kalau dia tampan sekali." Ucap Rani dan hal itu sukses membuat Desi menoleh dengan dahi berkerut.
"Bagaimana bisa kelihatan tampan kalau lihat dari punggungnya Ran?" Tanya Desi.
"Nahh tuh, lihat punggung si Jaka. Keliatan banget kan betapa tampannya dia." Tunjuk Rani. Desi pun melihatnya dan tanda tanya masih saja bertengger di kepalanya.
"Lihat tuh punggungnya! Seakan sedang memanggilku." Ucap Rani lagi dan dahi Desi lagi lagi berkerut.
"Memanggilmu?"
"Iya, punggung Jaka seakan memanggilku dan berkata, sini aku ingin menggendongmu."
"Astaga, Rani." Ucap Desi seketika tawanya pecah.
"Bandingkan coba Des dengan punggung suamimu." Perintah Rani dan keduanya menoleh.
Bukannya punggung yang mereka lihat namun dua wajah yang menunjukkan raut sebal.
"Asam amat ya." Sambung Rani dan keduanya terbahak serentak
Sedangkan suami mereka semakin cemberut dengan tingkah istri istri mereka.
"Kalian ini benar benar ya, di depan suami malah terang terangan muji pria lain." Ucap Falah ketus.
"Ya ampun bang. Masa iya kita harus jelek jelekin calon adik ipar?? dosa tahu, itu fitnah. orang ganteng gitu dibilang jelek." Balas Desi.
"Ampun deh kalian ini. Udah ayok masuk kamar." Ucap Rudi dan dia segera menarik tangan istrinya.
"Ya ampun bang ntar dulu. Baru juga jam segini." Protes Rani.
"Nggak ada nggak ada. Mending kita masuk kamar kasih anak kita seorang adik." Ucap Rudi tegas.
"Kamu juga ayo." Ucap Falah yang langsung menarik tangan istrinya juga.
"Ntar dulu sih bang. Bentar lagi sinetron kesayanganku tayang." Ucap Desi beralasan.
"Nggak ada sinetron sinetronan. Mending kita nonton film dikamar, bikin anak kita ada temennya."
__ADS_1
"Ya ampun abang, nggak bisa lihat istri seneng dikit aja." Gerutu Desi.
"Iya nih, kakak adik, sama aja sifatnya" Sambung Rani.
Sementara di rumah yang lain.
"Kenapa ada pria setampan itu sih? Astaga. dan juga kenapa Melati yang dapat?" Gerutu Siti di depan suaminya.
"Emang kenapa kalau Melati yang dapat? Masalah buat kamu?" Tanya suaminya dan yang pasti perasannya juga sedang sangat kacau.
Siti menoleh dan mencebikkan bibirnya.
"Harusnya ya jangan Melati yang dapat. Kan masih banyak cewek lain yang lebih cantik." Ucap Siti yang sedang kembali mengintip Jaka dan Melati.
"Orang dianya lebih tertarik sama Melati, kenapa kamu ngatur ngatur." Cibir suaminya.
"Kamu juga sebenarnya nggak rela kan Melati dapat pria yang lebih tampan dari kamu?"
"Iyalah, siapa yang rela. Dan sialnya aku malah melepas Melati namun dapat bunga bangkai." Sentak suami Siti dan dia langung beranjak menuju kamar.
"Maksud kamu apa ngomong bunga bangkai?" Teriak Siti
"Pikir aja sendiri."
"Sial."
"Aku masih nggak nyangka, Yang." Ucap Jaka sembari menautkan jari jarinya dengan jaru jari Melati.
"Nggak nyangka kenapa?" Tanya Melati menatap lekat wajah kekasihnya.
"Kita kenal nggak ada satu hari. Bahkan saat kita kenal justru tak lama kemudian kita langsung jadian. Dan sebelum hubungan kita menginjak satu bulan, restu sudah kita dapatkan." Ucap Jaka yang matanya lurus memandang Bulan.
"Yah, mungkin ini jalan takdir kita, Yang. Dan aku kangen masa masa awal kita kenalan." Ucap Melati.
"Apalagi aku, Yang, benar benar masa paling indah saat itu." Dan keduanya saling melempar senyum.
"Katanya kamu suka aku sejak lama, Yang? Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu?" Tanya Jaka. Kini dia bersila kaki diatas bangku panjang yang terbuat dari bambu.
"Nggak berani, Yang, apa lagi banyak banget yang suka sama kamu. Ya udah aku pendam aja rasa ini." Ucap Melati tanpa menatap kekasihnya.
Tangan Jaka terangkat dan dia mencubit pipi melati.
"Aduh, sakit sayang." Pekik Melati. Jaka malah tergelak.
"Gemas aku, Yang."
__ADS_1
"Dihh." Dan keduanya sama sama tergelak.
"Berarti besok gantian aku yang ke rumah kamu, Yang?" Tanya Melati.
"Iya lah, apa lagi kamu dengar sendiri kan bapak kamu tadi bilang apa." Jawab Jaka. Kembali dia bermain main jari tangan Melati.
"Aku juga nggak nyangka, bapak akan langsung setuju aja, Yang."
"Mungkin karena bapak kamu mengenal bang Jati Yang. Bukankah bapak tadi seketika bilang setuju begitu mak Ida menceritakan siapa saya?" Terang Jaka dan Melati manggut manggut tanda setuju dengan pendapat Jaka.
"Kira kira orangtua kamu merestui kita nggak ya? Aku takut, Yang." Rajuk Melati dan Jaka pun menggeser duduknya dan kini badannya berdampingan dengan bada Melati.
"Semoga aja bapak sama emak setuju. Biar kita cepet halal." Ucap Jaka penuh harap.
"Berarti aku harus cepat cepat ke dokter kandungan, Yang." Ucap Melati.
"Loh kenapa, Yang?" Tanya Jaka heran.
"Lepas KB lah, Yang." Jawab Melati dan Jaka malah tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" Tanya Melati heran.
"Jadi keingat pertama kali kita kenal. Pertama ketemu, bukannya kenalan dulu eh malah langsung berbagi keringat Hahha." Jawab Jaka dan Melati pun ikutan tertawa renyah.
"Aku juga nggak nyangka. Tapi jujur setelah kejadian itu, aku takut kamu pergi, Yang. Apa lagi pas kamu diem diem mengabaikan pesanku dan kamu mesra sama perempuan beranak satu. Aku sempat nyesel saat itu."
Mendengar kejujuran Melati, Jaka tersenyum sejenak. Seketika dia mengangkat tangan Melati dan menci*um punggung tangannya dalam waktu yang cukup lama.
"Nggak lah Yang, aku bukan laki laki yang tak bertanggung jawab. Bahkan kamu satu satunya wanita yang saat itu langsung aku kasih harapan dan mengajakmu jadian. Karena aku langsung nyaman saat bersamamu, Yang." Ucap Jaka panjang lebar dan hal itu membuat hati Melati menghangat.
Sejenak mereka terdiam menikmati pemandangan malam.
Ting.
Tanda pesan masuk dari sebuah ponsel. Dan ternyata itu ponsel Melati. Dia langsung menyalakan layar ponsel dan membuka kuncinya kemudian dia menekan tombol pesan chat.
Matanya membulat seketika tatkala Melati membaca salah satu chat yang berisi.
"Jangan lupa, aku butuh penjelasanmu, besok!"
...@@@@@...
Senangnyah yang sudah dapat restu. Jadi pengin Hiks. Makasih buat yang masih setia hingga detik ini mengikuti abang Jaka. Jangan lupa ya dukungannya jangan sampai bosen.
Dan Othor juga ingin memperkenalkan karya pertama othor nih. Seru loh. Cek aja, pasti gemes juga nanti. Bagi yang sudi mampir jangan lupa dukungannya juga ya . Makasih.
__ADS_1