
Detik demi detik merangkai menjadi menit, tiap menit merajut menjadi jam, tiap jam memutar menjadi hari, dan hari hari melangkah menjadi bulan. Tak terasa kini sudah sembilan bulan waktu berpijak tanpa bisa di hentikan.
Sembilan bulan yang cukup melelahkan dan menguji kesabaran bagi tiga pria yang sedang menanti buah cinta mereka yang masih bersemayam di dalam perut istri masing masing.
Rasa was was dan khawatir, tentu menjadi makanan mereka setiap hari ketika mereka harus bergelut dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil mereka.
Dan rasa was was itu semakin melebar saat hari persalinan sudah mulai dekat. Entah hari ini atau esok hari, namun yang pasti mereka benar benar siaga penuh.
Seperti yang terlihat saat ini, Jaka benar benar begitu panik saat bangun tidur tadi pagi sang istri merasakan perutnya sakit yang luar biasa. Melati terus berteriak dan mengaduh memegangi perutnya hingga mau tak mau dia langsung ambil tindakan membawa sang istri langsung meluncur ke rumah sakit.
Dan di sinilah Jaka berada, di dalam ruangan bersalin menamani sang istri yang mungkin beberapa menit lagi akan melahirkan. Jaka duduk di samping kanan brangkar Melati. Tangan mereka saling bertautan. Tak henti hentinya Jaka berdoa dalam hati dan memberi kekuaatan pada sang istri.
Air mata yang ingin keluar, Jaka coba pertahankan agar dia terlihat baik baik saja di mata sang istri.
"Sakit, Mas," Rintih Melati. Wajahnya terlihat sedikit pucat, keringatnya bercucuran dan suaranya lirih.
"Tahan ya, Sayang. Aku yakin kamu pasti kuat. Ada aku disini," ucap Jaka sambil sesekali mencium punggung tangan sang istri.
Sementara dokter dan perawat sudah siaga dan memberi pengarahan pada Melati yang semakin merintih kesakitan saat mencoba ngeden agar sang bayi bisa keluar.
__ADS_1
Jaka terus memberi semangat pada sang istri meski diirinya juga tahu hatinya tidak baik baik saja.
"Terus, Bu. Terus! Ya sebentar lagi, Terus, bu." Ucap sang dokter memberi arahan hingga akhirnya.
"Owekk! Owek!"
Satu bayi berhasil lahir dengan selamat dan Melati harus berjuang kembali untuk melahirkan satu bayi yang masih bersemayam dalam lahirnya. Segera salah satu perawat mengambil alih bayi yang sudah lahir dan membersihkan serta memberi perawatan khusus.
Lagi lagi sang dokter memberi arahan yang sama seperti sebelumnya. Melati menurutinya dengan segala sisa tenaga yang ada dan Jaka juga tak berhenti berdoa serta menyalurkan kata kata penyemangat untuk istrinya.
"Owek owek!"
Bayi kedua pun akhirnya lahir dengan selamat. Tangis Jaka seketika pecah. Dirinya meraung raung membenamkan wajahnya di sebelah kepala sang istri.
"Silahkan, Pak Jaka. Waktunya mengumandangkan adzan buat anak anak bapak," Ucap salah satu suster sambil menyerahkan salah satu bayi ke dalam gendongan Jaka.
Dengan suara bergetar dan sisa isak tangis, Jaka mulai mengumandangkan suara adzan di telinga kanan sang anak dan suara iqomah di telinga kiri. Begitu juga dengan bayi kedua, Jaka melakukan hal yanh sama.
Setelah semua beres, Melati di pindahkan ke ruang rawat inap. Dengan setia, Jaka terus menemani sang istri. Hingga beberapa saat kemudian, semua keluarga Jaka maupun Melati mulai berdatangan.
__ADS_1
"Ya ampun, Mel, kenapa masih bayi aja, anak anakmu udah keliatan tampan banget sih? Gila!" ucap Rani penuh dengan rasa kagum.
"Astaga! Ini sih benar benar tampan tujuh turunan tanpa ada tanjakan ya, Ran?" Ucap Desi asal dan kedua kakak ipar Melati saling terkekeh.
"Harus, dong. Lihat ini Altaf, baru masuk TK aja, ibu ibu udah banyak yang meminta kelak Altaf menjadi menantunya." Sela Yanti bangga. Sedangkan Rani dan Desi hanya mencebikan bibirnya meski mereka akui, Altaf memang pesonanya tidak main main.
"Sudah disiapkan nama buat mereka, Jak?" Tanya Emak.
"Sudah, Mak." jawab Jaka pasti.
"Jangan lupa tradisi," Ucap Jati seakan mengingatkan.
"Tentu dong Bang." Balas Jaka mantap.
Ya. Nama panggilan anak anak Jaka harus di samakan dengan nama anak anak saudara yang lain. Meski tidak wajib tapi ini seperti menjadi tradisi buat keluarga besar. Seperti Judika dengan dua anaknya beda usia Adiba dan Abizar, Juwita dengan satu anak Anesha, Janu dengan anak kembar Adnan dan Afnan, serta Jati dengan satu anak yaitu Altaf.
"Siapa, Jak? Nama anak anak kamu?" Tanya Julian.
"Arkan Putra Perjaka dan Arfan Putra Perjaka." Balas Jaka mantap sambil menatap sang istri yang mengulas senyum, "Kamu setuju dengan nama anak anak kita?"
__ADS_1
Melati mengulas senyum dan mengangguk pelan. Dan mereka pun berbahagia
...@@@@@...