
Dan hari pun kini telah berganti. Sesuai rencana, Melati pergi ke dokter kandungan untuk konsultasi masalah kesehatan wanita serta melepas alat kb yang terpasang di badannya. Dia sengaja pergi sendiri. Kalau Jaka ikut bisa bisa urusannya jadi panjang.
Sedangkan di rumahnya Jaka sedang sibuk menulis undangan di bantu kedua sahabat karibnya yang sengaja libur demi membantu Jaka.
"Banyak banget yang di undang, Jak. Apa waktunya cukup?" Tanya Rois begitu melihat daftar nama yang Jaka undang.
"Cukuplah. Kan yang nyebar juga nggak satu dua orang." Balas Jaka.
"Gimana tanggapan perempuan perempuan penggemarmu, Jak? Pada aneh aneh nggak?" Tanya Iwang.
"Ya begitulah. Malah ada yang telfon sambil nangis nangis coba. Heran aku." Jawab Jaka.
"Emang kamu ngasih pengumuman apa gimana? Kalau kamu akan nikah?" Tanya Rois.
"Ya elah Is, masa hal gituan ditanyakan. Tanpa Jaka ngasih tahu pun, para stalker Jaka pasti sudah gerak cepat mengetahuinya. Buktinya ada kan tuh yang status hari patah hati sekabupaten gara gara Jaka mau nikah." Ucap Iwang.
"Sampai segitunya? Astaga!"
Sementara itu, di tempat lain, Melati langsung meluncur ke arah tokonya setelah dia selesai berkonsultasi dengan dokter. Terlihat di kiosnya, Dodit sedang berdendang sembari membereskan barang barang yang sudah dikasih petunjuk oleh Melati tadi pagi.
__ADS_1
"Gimana, Dit. Yang dibawa pulang sudah kamu pisah?" Tanya Melati setelah dia meletakkan tasnya dalam laci.
"Sudah, Mba. Itu." Jawab Dodit yang saat ini sedang menyusun beberapa gula dalam etalase.
"Baguslah." Jawab Melati dan dia bergegas saja membantu Dodit membereskan barang yang belum tersentuh.
Mereka benar benar bahu membahu dan sangat kompak hingga tak terasa pekerjaan mereka pun hampir selesai. Melati sengaja menutup kiosnya dan memberi tulisan kalau tokonya tutup beberapa hari.
"Dit, nanti setelah menikah, kamu rencananya gimana? Mau tetap kerja disini atau bantuin usaha Risma?" Tanya Melati sembari menata kembali plastik plastik sesuai ukurannya.
"Penginnya sih membantu usaha istri, Mba. Niatnya sih Risma yang buat dagangan, ntar aku yang jual gitu mangkal pake gerobag. Tapi sayang juga ya, Mba, kalau berhenti kerja di toko Mba Mel." Jawab Dodik yang sejenak menghentikan kerjaannya.
"Pasti dong, Mba. Kan ini demi terciptanya rumah tangga yang harmonis." Jawab Dodit dengan angkuhnya.
"Cih, gayamu, Dit. Berat loh, Dit, menjalankan hidup berumah tangga." Ujar Melati.
"Berat atau engga itu tergantung bagaimana cara kita menjalaninya, Mba. Dan aku harap sih nanti aku sama Risma bisa saling terbuka. Meski aku usianya masih muda tapi aku akan membuktikan kalau aku lebih baik dari mantan suami Risma dan aku bisa membuat Risma bangga memiliki suami sepertiku." Ucap Dodit berapi api dan hal itu membuat Melati tergelak dan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya bahagia banget gitu ya, Dit. Mimpinya bakal terwujud." Ledek Melati dan Dodit malah terbahak lebih dulu.
__ADS_1
"Ya pasti dong, Mba. Aku sangat sangat bahagia. Risma janda pujaanku beberapa hari lagi akan jatuh ke dalam pelukanku. Meski jalan jodoh kita ada campur tangan Pak Rt, tapi aku menganggap bahwa dia adalah anugerah terindah yang akan segera aku miliki." Balas Dodit makin berapi api.
"Dih, bisa aja kalau ngomong ni bocah." Balas Melati sembari melempar beberapa plastik ke arah Dodit karena saking gemasnya melihat tingkah Dodit menunjukkan kebahagiannya.
Di saat Dodit dan Melati asyik bergurau, terdengar pintu kios yang terbuka ada yang mengetuknya. Seketika suara tawa mereka terhenti dan keduanya serentak menoleh.
"Maaf, apa benar ini tokonya Melati?" Tanya orang itu dengan wajah yang nampak sangat tidak bersahabat.
"Iya, benar, ada apa ya?" Tanya Melati.
"Apa kamu yang bernama Melati?" Bukannya menjawab, orang itu balik bertanya dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka.
"Iya, benar." Jawab Melati dengan dahi berkerut.
"Asal Mba tahu ya, Gara gara kamu, Jaka jadi berpaling dariku."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1