ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Juna Si Pemaksa..


__ADS_3

"Ini tanganmu lepas dulu, aku mau tutup warung! Udah mau malam itu. Kamu nggak pulang?" Cicit Wulan yang masih berusaha mengurai tangan Juna yang melingkar erat di pinggangnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Juna, Wulan tidak mengerti. Namun Wulan merasa Juna bahagia setelah dia menerima tawaran nikah pemuda tampan dibelakangnya. Wulan juga sedikit takut. Kalau dia menolaknya, Juna malah nekad melakukan hal yang lebih dari ini. Mengingat rumahnya memang dalam keadaan sepi.


Juna sendiri tak pernah membayangkan akan bertindak sekonyol ini pada perempuan. Dia yang selalu jaga image tiap dekat dengan wanita, tapi kali ini dia malah bertindak seperti bukan Juna yang sebenarnya. Meski tidak dipungkiri, Wulan terlihat sangat cantik tanpa make up. Laki laki manapun pasti suka dengan kecantikan perempuan itu. Makanya Juna dengan entengnya mengajak Wulan nikah. Mungkin sebagai laki laki, naluri dia yahu kalau perempuan secantik Wulan pasti banyak yang mengincarnya.


"Nggak lah, aku masih betah disini." Balas Juna setelah melepas pelukannya dan dia kembali duduk di tempat semula.


"Tapi aku bentar lagi mau pergi ke rumah pak Lik ku, Jun. Maaf, bukannya aku ngusir." Cicit Wulan sembari melanjutkan pekerjaannya.


"Emang ada acara apa di rumah Pak Lik mu?" Tanya Juna dengan mata yang terus memperhatikan Wulan.


"Syukuran khitanan ponakanku." Jawab Wulan. Dia nampak selesai menutup warungnya dan kini dia duduk tak jauh dadi Juna.


"Deket apa? Kamu jalan kaki?"


"Ya lumayan. Naik ojeg nanti, kan motor aku masih di tempatmu. Maaf aku belum bayar. hutangku." Cicit Wulan.


"Nggak perlu bayar. Kan kamu akan jadi istriku. Nggak usah dipikirin soal hutangnya. Ya udah nanti aku antar aja. Berangkat jam berapa?" Tawar Juna yang membuat Wulan tercengang.


"Jangan gitu, hutang tetap harus di bayar." Sanggah Wulan.

__ADS_1


"Kalau aku bilang jangan ya jangan, Wulan! Ih, gemesin banget yah? Cium lagi sini!" Ledek Juna dan Dia seketika tergelak saat melihat Wulan langsung menutup mulut dengan tangannya.


"Emangnya aku wanita apaan? Maen nyosor seenakmu." Sungut Wulan dari balik tangan yang menutupinya.


"Tadi aja kamu nyosor aku! Mau aku ingatkan lagi?" Ledek Juna masih dengan senyum senyum genitnya.


"Enak aja!" Sungut Wulan.


"Ya emang enak, enak banget malah. Kamu jangan terlalu sering pake lipstick yah, apa lagi nanti jika kita nikah. Jangan nodai bibirmu dengan benda benda aneh." Titah Juna dengan entengnya membuat Wulan semakin mendengus lagi.


"Ya ampun. Belum apa apa udah ngatur ngatur. Gimana nanti kalau sudah nikah, bisa bisa aku disuruh nggak pake baju." Gerutu Wulan.


"Jangan gila deh, Jun! Membayangkannya aja mengerikan." Dengus Wulan dan Juna makin tergelak.


"Ya jangan di bayangkan, dipraktekin aja nanti. Udah sana siap siap, katanya kamu mau pergi? Biar aku antar." Tawar Juna. Wulan mendengus dan dia nampak mau bersuara namun segera ucapannya di potong Juna, "Nggak usah protes dan ngelarang. Biar semua keluargamu tahu, kamu sudah punya calon suami lagi."


"Yang benar saja! Lagian, kamu kenapa sih? ngotot banget nikah sama aku? Aku janda loh Jun? Aku udah nggak segel?" Geram Wulan sembari melempar beberapa pertanyaan.


"Nggak masalah kamu janda. Yang aku cari yang membuatku nyaman. Aku nyaman dan tenang sama kamu, Lan. Lagian apa masalahnya kalau masih segel atau tidak. Toh hal itu rasanya sama. Cuma bedanya yang segel ada darahnya doang." Balas Juna dengan tenang namun nembuat hati Wulan tersentuh.

__ADS_1


"Tuh kan, bener, kamu sudah pengalaman dalam hubungan ranjang? Huu, ketahuan." Cibir Wulan dan Juna seketika terbahak.


"Ya ampun, Wulan! Aku tuh masih polos dan lugu. Ayo kita buktikan biar kamu percaya. Ayo!" Wulan mencebikkan bibirnya dan dia berdiri hendak beranjak namun tangannya ditarik oleh Juna hingga dia oleng dan jatuh dipangkuan Juna. Tentu saja pria itu kembali memeluknya.


"Juna! Ih. Ngeselin banget sih jadi orang! Lepas aku mau ganti baju!" Pekik Wulan terus memberontak. Namun tetap saja tenaga wanita itu kalah telak dengan tenaga laki laki berlengan kekar yang memangkunya.


"Aku ikut kamu ganti baju yah?" Ledek Juna dan tentu saja perempuan itu terkesiap entah untuk ke yang berapa kali. Dimatanya, hari ini Juna benar benar terlihat sangat mengesalkan dari biasanya.


"Jangan ngaco deh! Lepasin, Juna! Seneng banget peluk peluk seenaknya. Belum halal juga." Sungut Wulan yang terus berusaha memberontak.


"Tenang, bentar lagi aku akan segera halalin kamu, sehari setelah keluargaku kesini, hari berikutnya kita langsung ngijab." Ucap Juna enteng dan Wulan benar benar semakin kesal. Apalagi usahanya melepas jeratan tangan Juna dipinggangnya sama sekali tak berpengaruh. Membuat dia semakin kesal dan akhirnya pasrah terdiam.


"Sabtu besok kamu siap siap yah? Aku akan menjemputmu." Lanjut Juna membuat dahi Wulan berkerut.


"Siap siap ngapain?" Tanya Wulan sedikit menoleh.


"Aku akan mengenalkanmu ke orangtuaku dan keluarga besarku."


"Waduh.."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2