
Setelah mandi bersama, kini keduanya terlihat membersihkan sisa air bersama. Bukan bersama tapi lebih dominan Juna yang membersihkan sisa air yang masih menempel di ditubuhnya dan tubuh sang istri.
Sejak mandi, Juna selalu memperlakukan Wulan bagai ratu. Dari mulai menyiram tubuh dengan air, memakai sabun, hingga mengeringkan dengan handuk seperti yang sedang dilakukan saat ini.
Setelah selesai, kini giliran Juna yang mengeringkan tubuhnya. Wulan bergegas mengambil ganti baju. Namun ketika hendak memakainya, lagi lagi Juna yang mengambil alih. Juna berjongkok dengan tangan memegang segitiga bermuda sang istri dan memberi kode pada istrinya. Satu persatu kaki Wulan terangkat dan segitita bermuda itu kini mulai merambat naik.
Sebelum segitiga bermuda terpakai sempurna, Juna memajukan kepalanya dan memberi beberapa kecupan pada keindahan yang sudah tidak rimbun lagi di hadapannya.
"Baik baik di dalam ya? Nanti pas sudah di kios kamu akan aku mainkan lagi sampai kamu benar benar menyerah." Ucap Juna kepada keindahan milik sang istri.
Wulan hanya menatap heran namun kemudian tersenyum. Hari pertama menjadi istrinya, Juna nampak sekali memanjakannya. Kadang hati Wulan bertanya tanya, apakah Juna sudah mencintainya?
Setelah segitiga bermuda terpasang pada tempatnya, kini tangan Juna menggenggam kain penjerat bukit kembar. Lagi lagi sebelum terpakai, Juna menyempatkan diri menyesap puncak bukit kembar beberapa saat kemudian memasang kain tersebut.
"Ini nggak terlau kekecilan, Yang?" Tanya Juna begitu selesai memasang kain penjerat. Telapak tangannya sengaja masih memegang bukti kembar tersebut.
"Nggak dong, biar kenceng aja." Jawab Wulan.
"Oh, pantes, kenceng banget ini." Ucap Juna.
"Udah sih, kamu cepet pakai baju, nggak enak sama orang rumah." Ucap Wulan sambil meneruskan sendiri memakai pakaiannya. Juna tak menjawab namun dia menurutinya.
Setelah selesai semuanya, Wulan beranjak ke meja rias dan merapikan rambutnya sebentar kemudian dia melangkah menuju pintu.
"Aku tunggu di meja makan, Mas."Seru Wulan dan Juna hanya mengangguk.
Sebelum keluar kamar, Juna mengecek ponselnya terlebih dahulu. Banyak chat masuk di ponselnya. Dan kebanyakan adalah ungkapan kekecewaan para wanita yang menginginkan darinya. Tak tanggung tanggung ada beberapa wanita yang dengan berani mengirimkan foto barang pribadinya dengan kata kata yang tentunya sangat menggoda.
__ADS_1
"Jika nanti kamu bosan dengan punya istrimu, jangan ragu menghubungiku, Sayang? Aku siap dijadikan pelampiasan oleh kamu"
"Padahal aku hanya menginginkan benih darimu, Jun. Kamu nggak tanggung jawab pun nggak apa apa, asal dapat benihmu."
Juna hanya menghela kasar nafasnya. Dari dulu selalu saja begitu. Itulah salah satu alasan Juna membuka usaha di kota Jaka. Demi menghindari wanita wanita beringas yang tak peduli dengan harga dirinya. Terbukti selama tinggal di sini, Juna mendapat godaan namun tidak segila saat berada di kota kelahirannya.
Setelah mengecek pesan chat, Juna bergegas keluar kamar menyusul sang istri.
"Maaf, Bu, kita kesiangan." ucap Juna begitu dia sampai di meja makan. Terlihat sang mertua sedang menaruh lauk di atas meja.
"Nggak apa apa, Jun. Udah cepet sarapan." Jawab Sang mertua dan dia melangkah ke dapur.
"Ibu sudah sarapan?" Tanya Juna.
"Sudah tadi sama bapak." Jawab Ibu.
"Makasih, sayang." Ucap Juna namun Wulan hanya mendengus kemudian dia kembali mengambil piring dan mengisinya untuk diri sendiri.
"Mba, kok amplopnya dapat banyak banget?" Tanya adik Wulan yang baru saja keluar kamar dan ikut gabung sang kakak untuk sarapan. Amplop hasil sumbangan memang sengaja di taruh kamar sang adik karena kemarin mereka benar benar sedikit kewalahan dengan tamu yang membludak.
"Emang berapa banyak, Gi?" Tanya Wulan.
"Yang dua karung aja penuh, belum yang tercecer tuh, ada kali satu kantonng gede." Jawab Egi.
"Pasti kamu nyelipin beberapa amplopnya yah?" Tuduh Wulan dan sang adik menunjukkan senyum termanisnya.
"Tiga amplop doang, Mba, buat beli kuota." Jawab Egi jujur.
__ADS_1
"Kok cuma tiga amplop? Nggak kurang?" Kini Juna yang bersuara.
"Cukup lah, Bang." Jawab Egi merasa tidak enak dengan abang iparnya.
"Kalau kurang ya ambil lagi aja, itu nanti yang satu karung kasih ke Ibu, dan satu karung taruh di kamar Mba Wulan, sisanya buat kamu sama ponakan ponakan." Ujar Juna di sela sela.
"Ibu nggak usah, Jun. Itu uang kalian." Ucap Ibu begitu keluar dari dapur. Mungkin dia mendengar apa yang Juna katakan.
"Justru karena itu uang kita, Bu. makanya kita kasih buat ibu yang sekarung. Jangan di tolak loh." Ujar Juna.
"Beneran, Bang? Aku boleh ambil beberapa amplop lagi?" Tanya Egi dengan mata berbinar.
"Ya benar lah, Nggak mau?"
"Mau dong, Bang, mau." Sorak Egi riang.
Wulan hanya menyunggingkan senyumnya. Hatinya tertegun dengan sikap hangat yang Juna berikan pada keluarganya. Berbeda jauh dengan mantan suaminya.
"Oh ya, Bu. Sekalian kita mau ijin." Ucap Juna tiba tiba.
"Ijin? Ijin kemana?" Tanya sang ibu.
"Nanti malam, aku sama Wulan mau nginep di kios, Bu."
"Waduh."
...@@@@@...
__ADS_1
Malam pertama siapa yang paling berkesan? Jaka yang belum kenalan tapi udah ehem ehem, Dodit dengan kepolosannya dan Juna dengan kekuatannya? hihihi.. Makasih ya yang masih setia dukung Jaka. semoga kalian kawal Jaka sampai akhir nanti