
"Jaka! Bangun! Turun dulu! Ajak Melati sarapan!" Teriak emak dari luar kamar sambil gedor gedor pintu. Tanpa emak sadari, perbuatannya menghancurkan kenikmatan yang sedang tercipta dari dua orang di dalamnya.
Jaka berdecak kesal sedangkan Melati tertawa lirih.
"Jaka!" Teriak emak lagi tanpa basa basi.
"Iya, mak!" Balas Jaka tak kalah keras. Dia benar benar merasa kesal. Lagi enak enaknya menikmati hadiah ulang tahun malah ada ganguan.
"Cepet keluar! Udah mau jam sembilan itu! Kasian Melati belum makan dari semalam!"
"Iya, iya!"
Melati duduk ditengah ranjang, Jaka bangkit dan duduk di sebelah Melati. Wajahnya ditekuk dan sesekali mendengus. Melati memajukan wajahnya dan mencium pipi sang suami dalam dalam.
"Jangan cemberut gitu ah? Tambah cakep tahu! Udah sana pake baju." Ucap Melati setelah bibirnya terlepas.
Jaka mendengus terus beranjak turun ranjang menuju lemari baju. Dibukanya kolor yang dia pakai dan diambilnya boxer, celana pendek dan kaos oblong. Melati terus mengembangkan senyumnya melihat wajah frustasi sang suami karena terganggu saat melepas rindu pada si tembem. Melati pun kembali memakai pakaiannya.
"Ayo, Yang, keluar." Ajak Jaka setelah siap. Melati pun menurutinya. Dia turun dari ranjang dan melangkah mengikuti suaminya.
"Ciee pengantin baru, kesiangan ya, Bang?" Ledek Julian begitu melihat Jaka dan Melati turun.
"Jelas kesiangan lah, Jul. Semalam kan habis ho'a ho'e." Timpal Jafin dan semua yang mendengar serentak tertawa termasuk para tetangga yang masih membantu di belakang walau acara hajatan sudah selesai.
"Kalian ini! Mesum banget pikirannya!" Sungut Jaka. Dia masih tidak terima dengan gagalnya menyantap si tembem.
Jaka dan Melati duduk dilantai bersama yang lain. Jaka segera mengambil piring. Namun saat Melati juga akan mengambil piring, tangan Jaka mencegahnya.
__ADS_1
"Kamu diam aja, Yang. Biar aku suapin kamu." Tentu saja ucapan Jaka membuat yang mendengarnya mengeluarkan berbagai ekspresi.
"Cocwet! Bang Jaka romantis." Tukas Jeni.
"Bukan romantis, Jen. Tapi Jaka ngerasa salah karena semalam cuekin bini sampai nggak makan." Ceteluk Istrinya Janu dan semuanya terbahak.
Jaka yang sedari tadi diledek hanya mendengus. Tapi dalam hatinya membenarkan ucapan kakak ipar sepupu itu. Jaka merasa bersalah karena mengabaikan sang istri demi menyapa teman teman. Meski dari wajah Melati tidak terlihat ada kekecewaan, namun tetap dia merasa egois karena mementingkan dirinya sendiri. Jaka tidak berpikir kalau Melati masih canggung menghadapi keluarga barunya. Selain Yanti dan Jati, hanya Jaka yang dia kenal.
Melati terlihat merasa canggung pagi ini. Apalagi semua mata seperti sedang menatapnya. Tapi sepertinya Jaka tidak peduli. Dia tetap terus menyuapi sang istri dan juga dirinya.
"Altaf, Adnan sama afnan, mana?" Tanya Janu begitu melihat anaknya Jati masuk sendirian menghampiri orang tuanya. Padahal tadi anak kembar Janu sedang bermain dengan Altaf.
"Di luar Om, lagi jajan sama eyang Rizki." jawab Altaf begitu duduk dipangkuannya.
"Semalam dangdutan, selesai jam berapa, Bang?" Tanya Jaka sesaat menatap kakaknya.
"Jam dua belas lah, Jak. Sesuai aturan warga." Jawab Jati.
"Ya iyalah nggak denger, kan suara dangdutnya kalah sama suara rintihan nikmat." Balas Jibril.
"Kalian nih ya? Pikirannya mesum mulu." Cibir Jeni sambil menunjuk ke arah deretan laki laki yang masih bujang. Julian, Jibril, Jubair, Jafan dan Jafin.
"Tapi kan kita ngomongin fakta." Ujar Jubair dan kelima bersuadara itu tergelak bersama.
"Oh iya, Jak, itu amplop amplop titipan teman kamu semalam, aku taruh di plastik hitam dekat kamarmu." Ucap Yanti.
"Oh, iya, Mba. Makasih. Mereka pada bilang apa, Mba?" Tanya Jaka yang tangannya masih menyuapi Melati dan juga sesekali menyuapi dirinya.
__ADS_1
"Ya nggak bilang apa apa sih. Mereka pada ngerti kok." Balas Yanti.
"Dapat amplop banyak ya, Bang?" Tanya Jefina.
"Lumayan." Jawab Jaka singkat.
Di saat semua hampir selesai sarapan, Judika beserta anak dan istri, Juga Juwita bersama anak dan suami pun datang. Mereka sengaja menginap di hotel terdekat karena tidak kebagian tempat dan juga biar anak abak mereka yang masih kecil nyaman.
"Kalian udah sarapan?" Tanya Jati begitu mereka gabung bersama.
"Udah tadi di hotel." Jawab Judika.
Sementara Bang Onta nampak sedang sibuk menatap ponselnya. dua jempolnya juga aktif bergerak gerak lincah menyentuh papan huruf menjadi kata kata sesuai yang dia pikirkan.
"Bang, Onta. Sibuk bener?" Celetuk Julian.
"Namanya juga orang sibuk, Jul. Pasti ya sibuklah. Tahu sendiri, bisnis dia banyak." Jawab jubair. Dan semua percaya.
Bang Onta memang menjalankan bermacam macam bisnis yang penghasilannya benar benar fantastis. Dari perhotelan, pusat perbelanjaan, tempat wisata modern dan masih banyak lagi. Makanya, dia enteng saja saat trasnfer sejumlah uang kepada Jaka. Jumlah uang yang dia transfer untuk Jaka sama dengan jumlah keuntungan satu hari dari beberapa bisnisnya.
Bang Onta nampaknya telah selesai dengan pekerjaan dari balik ponselnya. Terlihat dia memasukkan ponsel kedalam saku bajunya dan menatap saudara suadaranya.
"Mumpung lagi pada kumpul, besok piknik Ya." Ucap Bang Onta dengan wajah serius.
"Piknik?" Tanya Jafan mewakili yang lainnya.
"Iya, aku sudah memilih tempat piknik dan hotel, kalian tinggal berangkat aja."
__ADS_1
"Horee!"
...@@@@@...