
"Tiga puluh dua juta, lumayan ya, Mas!" Seru seorang istri setelah menghitung seluruh isi amplop hasil dari sumbangan pernikahan mereka.
Terlihat sang suami juga tersenyum. Tapi yang membuat tersenyum bukan masalah uangnya melainkan panggilan sang istri yang berubah sejak beberapa menit lalu.
Mas. Terdengar biasa bagi bagi seorang laki laki jika di panggil dengan kata tersebut. Namun berbeda dengan yang dirasakan pemuda berusia dua puluh tahun yang sekarang menyandang status sebagai suami wanita berusia dua puluh lima tahun tahun.
"Kok aku masih nggak percaya ya, Yang, waktu kamu manggil aku Mas?" Ucap sang suami yang biasa akrab di panggil Dodit, "Hatiku kayak hangat banget, waktu suara lembutmu manggil aku dengan kata, Mas."
"Ya kan tadi aku sudah bilang, itu bentuk aku menghargai kamu sebagai suamiku. Kan nggak lucu jika nanti diluaran sana, aku manggil kamu, Dodit gitu. Apa kata orang orang, memanggil suaminya dengan sebutan nama. Nggak sopan kedengarannya." Balas Risma.
Mereka pun saling melempar senyum kemudian mereka membereskan amplop bekas ke kantong plastik. Risma membawa kantong plastik itu ke belakang sedangkan Dodit memilih berbaring diatas kasur lantai yang digelar di atas karpet sembari menonton televisi.
Sepasang pengantin baru tersebut benar benar menikmati hari mereka. Meski sempat ada kejadian memalukan saat tukang dekorasi datang. Bagaimana tidak malu, terlalu asyik menikmati malam pertama sampai mereka lupa telah meninggalkan jejak yang sungguh tak terduga. Risma, yang bangun lebih pagi, juga langsung mandi dan setelah mandi langsung menuju dapur karena menurutnya, mending membuat sarapan dulu baru beres beres rumah.
Begitu juga saat mandi. Dodit yang terus merengek minta dimandikan, mau tidak mau sang istri pun mengalah. Dengan telaten Risma memandikan suaminya. Beruntung, Risma sudah siaga. Dia hanya memakai daster tanpa ada lapisan lagi di dalamnya. Dodit yang biasa mandi hanya butuh waktu sepuluh menit, Pagi tadi dia mandi menghabiskan waktu hampir satu jam. Tentu saja bukan hanya sekedar mandi yang dilakukan Dodit. Meski tidak terjadi penyodokan tapi tetap tangan Dodit yang sudah tidak lugu lagi, dengan lincah bermain main menyusuri tubuh sang istri hingga dasternya basah.
Belum kejadian siang hari hingga detik ini. Mereka benar benar menikmati waktu berdua. Mereka nampak keluar saat ada tukang dekor dan tukang tenda pernikahan. Setelah selesai, mereka kembali berdiam diri di dalam rumah.
__ADS_1
"Berarti kamu liburnya masih lama dong, Mas?" Tanya Risma begitu dia duduk disebelah Dodit dan menyandarkan punggungnya di kursi panjang depan televisi.
"Iya masih lama, Yang? Kenapa? Kamu libur juga?" Tanya Dodit yang memindahkan kepalanya ke pangkuan sang istri.
"Ya iya lah, Mas. Orang aku belanjanya di toko kamu." Tukas Risma.
"Berarti besok besok, aku pulang kerja, di sambut sang istri, yah?" Ujar Dodit dan Risma hanya mengangguk. Mereka saling berbagi senyum.
"Eh, Mas, nanti setelah acara nikahnya Mba Mel, kita piknik yuk." Usul Risma.
"Ya terserah, ke pantai apa pegunungan. Yang penting kita piknik." Jawab Risma semangat.
Dodit memindah kepalanya ke atas bantal yang dia gunakan tadi dan dia berbaring menghadap kaki lurus sang istri. salah satu tangannya telah bergerilya memasuki bagian bawah daster sang istri dan berhenti pada sarang tanpa pembungkus. Pastinya Risma sudah paham kalau malam ini akan menjadi malam panjang kedua sehingga dia sengaja hanya memakai daster tanpa segitiga bermuda dan kain penjerat gunung kembar.
"Ya sudah, nanti kita rencanakan aja lagi. Yang penting kita fokus buat anak dulu." Balas Dodit dan hal itu membuat Risma tersenyum gemas. Dia mengacak rambut Dodit dan mengusap pipi Dodit beberapa kali.
"Sepertinya kamu sudah siap jadi ayah, Mas?" Tanya Risma.
__ADS_1
"Siap nggak siap, harus siap dong, Yang. Aku sudah punya istri dan melakukan hubungan ranjang. Pastinya akan sangat sempurna dengan kehadiran anak, bukan?" Balas Dodit yang sudah sangat menikmati permainan jarinya dari dalam daster istrinya.
"Eh yang, nanti coba berbagai gaya lagi yah saat bikin anak." Sambung Dodit ketika tadi berhenti sejenak karena larut dengan permainan jarinya.
"Enggak lah, Yang, Aku nggak mau. Apa lagi gaya berdiri dengan gaya naik kuda. Enak sih, tapi capek. Aku nggak mau. Dua gaya itu juga bikin aku nggak bisa lihat wajah tampan kamu saat sedang main sodok. Males, nggak semangat." Tolak Risma. Dodit hanya mengulas senyum.Tangannya terus memijat dan mengorek sarang Istrinya. Karena ulah Dodit, hasrat Risma pun mulai merambat oleh rasa nikmat yang tercipta dari sentuhan jari di dalam sana.
"Ya udah nggak apa apa yang penting kamu senang, Yang. Berarti kita main satu gaya doang? kamu di bawah, aku di atas?" Tanya Dodit.
"Jangan, aku ketagihan saat gaya duduk dipangkuanmu, Mas. Enak banget." Ucap Risma.
"Aku juga suka, Yang. Atas dikenyot, bawah disodok, mantap!" Ucap Dodit, "Main sekarang aja yuk, Yang? Udah pengin."
"Yuk."
Dan mereka segera saja melepas apa yang menempel di badan sambil melakukan pemanasan. Kini Dodit duduk bersandar kursi, Risma dipangkuan Dodit dengan cucok rowo sudah tenggelam di sarangnya. Badan Risma naik turun di iringi suara khas. Plok, plok, plok.
...@@@@@...
__ADS_1