
Disaat seluruh keluarga sedang berkumpul sambil menyaksikan orkes dangdut, Juna justru memilih pergi meninggalkan pesta perayaan pernikahan saudaranya. Juna sengaja pergi karena dia harus mengantar seorang perempuan bernama Wulan yang sejak pagi dia ajak untuk dikenalkan dengan orang tuanya.
Sebenarnya Wulan sudah merengek minta pulang sejak siang hari begitu resepsi pernikahan selesai, namun Juna menahannya hingga malam menjelang. Tentu saja Wulan tidak bisa membantah keinginan Juna. Dia tidak mungkin melarikan diri. Juna selalu berada di dekatnya dan pergi hanya sebentar kemudian kembali lagi.
Wulan mendengus kesal, wajahnya di tekuk, pasalnya dia sudah lelah dan gerah karena seharian masih memakai baju yang sama. Dia ingin segera pulang dan mandi, namun Juna malah melajukan mobilnya ke jalan yang bukan menuju kotanya.
Bagaimana tidak kesal, Jarak kota yang ditinggali Juna dengan kota Wulan bisa di tempuh paling lama dua puluh menit, namun Juna malah lebih memilih jalan yang jaraknya lebih jauh dan tentu saja akan lebih lama sampai ke rumah Wulan. Alasannya Juna ingin jalan jalan.
"Orang udah pengin cepet sampai, malah lewat jalan lain. Menyebalkan." Gerutu Wulan. Bibirnya mengerucut. Matanya memandang ke luar mobil. Juna hanya mengulum senyum mendengar perempuan disebelahnya menggerutu sepanjang perjalanan.
"Ada yah? Cewek, di ajak jalan jalan pria tampan pakai mobil, malah menggerutu terus dari tadi. Kalau cewek lain pasti sudah bahagia banget." Ujar Juna yang matanya tetap fokus menghadap ke arah depan.
"Ya ada lah. Aku beda sama cewek cewek kebanyakan. Aku tuh cewek langka dan istimewa." Sungut Wulan memanggakan dirinya.
"Nah, itu lah sebabnya, aku ingin segera menikahimu. Karena kamu istimewa." Balas Juna sembari melirik Wulan yang sedang mencebikkan bibirnya. Sedangkan Juna tersenyum sembari manaik turunkan ke dua alisnya.
"Aku tuh masih heran loh, Jun? Kita kenal belum lama, tapi kok kamu sebegitu niatnya menikah denganku? Istimewanya aku apa coba? janda biasa yang hanya berjualan nasi." Dumel Wulan.
Mendengar ocehan Wulan yang masih mempertanyankan niatnya menikahi janda tersebut, Juna segera menepikan mobil dan menghentikannya. Wulan terkejut karena mobil tiba tiba berhenti, padahal jarak rumah masih jauh. Juna melepas sabuk pengaman terus memutar badan, mengulurkan tangan kesamping kursi mobil yang di duduki Wulan dan menarik alat yang membuat sandaran kursi yang di duduki Wulan berubah lebih rendah. Tentu saja menjadi kaget dan panik. Posisinya seperti orang berbaring.
Wulan hendak protes namun dia malah melihat badan Juna maju hingga dia mau tidak mau mundur dan terpojok hingga kini posisi setelah badan juna berada di atas Wulan dengan wajah yang begitu dekat.
__ADS_1
Wulan nampak panik. Apa lagi Juna tatapannya sangat tajam dengan senyuman nakal.
"Apa yang akan kamu lakukan, Jun?" Tanya Wulan dengan perasaan yang campur aduk.
Juna tidak langsung menjawab, namun salah satu tangannya terangkat membelai lembut wajah halus janda baru menetas tersebut. Dan hal itu membuat Wulan semakin menunjukkan wajah takutnya.
"Kamu pikir, seorang pria melakukan hal seperti ini di tempat sepi, apa yang akan dia lakukan?" Ucap Juna dan hal itu membuat Wulan bergidik semakin takut.
"Jun! Jangan seperti ini? Tolong?" Mohon Wulan dengan wajah memelas. Juna semakin tersenyum miring.
"Bukankah kamu masih meragukan aku? Kenapa aku ingin menikahimu?" Tanya Juna dan Wulan perlahan mengangguk, "Kenapa masih mempertanyakannya?"
Wulan semakin panik. Meski tidak di pungkiri, wajah Juna sangat begitu tampan jika dilihat dari sangat dekat. Namun, meski terlihat tampan, wajah Juna juga terlihat menakutkan.
"Ya karena aku ...." Mata Wulan membelalak. Ucapannya terpotong karena bibir Juna membungkam mulutnya secara mendadak. Juna menempelkan bibir itu sedikit lama hingga Wulan merasa kehabisan nafas dan dia memukul bahu Juna berkali kali.
"Bukankah kamu tahu? Aku sangat serius dengan niatku? Kenapa masih ada pertanyaan seperti itu?" Tanya Juna lagi sesaat setelah melepas bibirnya dan membuat Wulan tersengal sengal.
Wulan benar benar kesulitan menelan ludahnya sendiri. Juna yang dihadapannya benar benar terlihat menakutkan. Pikiran buruk pun bermunculan. Apa lagi keadan sepi dan mereka terkunci di dalam mobil.
"Katakan? Kenapa masih mempertanyakan hal itu?" Desak Juna.
__ADS_1
"Aku nggak ada maskud..." Lagi lagi mata Wulan membelalak. Bibir Juna membungkam mulutnya sama seperti tadi.
Kembali Wulan tersengal sengal begitu bibir mereka terlepas. Juna mentapnya tajam dengan senyum jahatnya.
"Jun, Tolong? Jangan seperti ini?" Rintih Wulan yang sudah sangat ketakutan.
"Bagaimana kalau kita malam ini khilaf?" Tanya Juna masih dengan senyum nakalnya.
"Jangan, Jun. Maaf, aku mohon jangan melakukan itu." Rintih Wulan. Airmatanya sudah mulai menampakkan diri dari dua sudut matanya.
Sebenarnya Juna tidak tega melakukan hal ini, namun dia tersinggung dengan pertanyaan Wulan yang sepertinya masih meragukan niatnya. Maka itu Juna sengaja menjahili janda tersebut.
"Masih mau mempertanyakan kesungguhanku?" Tanya Juna dan Wulan segera menggeleng.
"Yakin?" Tegas Juna dan Wulan langsung mengangguk.
"Baiklah, jangan berani kamu mempertanyakan seperti itu lagi, mengerti!" Lagi lagi Wulan langsung mengangguk cepat.
Juna mengangkat tubuhnya. Tangannya kembali memegang alat pengontrol jok mobil dan menariknya hingga sandaran kursi mobil mendorong tubuh Wulan maju menyongsong Juna yang sengaja menyambutnya dan kembali bibir mereka bersatu.
Cup.
__ADS_1
...@@@@@...