ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Tuduhan..


__ADS_3

"Habisin, Lan. Gratis itu loh." Perintah Juna yang merasa gemas melihat cara makan Wulan yang terlihat malu malu.


"Astaga! Iya, Juna. Ntar juga habis." Balas Wulan yang merasa sangat malu karena makannya diperhatikan terus oleh pria dihadapannya.


Juna mengulas senyum melihat perempuan yang baru saja resmi menyandang status janda dengan bukti akte cerai di dalam tas yang Wulan bawa.


"Sekarang perasaanmu gimana, Lan? setelah resmi berganti status?" Tanya Juna di sela sela manyantap hidangannya.


"Yah. Untuk saat ini sih lega, Jun. Beban di hati serasa runtuh gitu." Jawab Wulan.


"Kan dengar dengar kalau perempuan habis bercerai ada masa iddah tuh? Kasus kamu sendiri gimana masa iddahnya?" Tanya Juna lagi.


"Masa iddah tergantung keadaan wanitanya sih, Jun. Kalau aku, berhubung aku yang menggugat cerai ya aku punya masa iddah satu bulan. Harusnya aku nggak boleh loh, pergi sama laki laki lain. Rentan fitnah." Terang Wulan.

__ADS_1


"Hahaha ... Kalau kamu kena fitnah sama aku gimana?" Tanya Juna lagi. Kini makanannya terlihat sudah habis tak tersisa.


"Ya nggak tahu. Yang namanya fitnah tuh nggak enak loh, Jun." Jawab Wulan dan nampaknya dia juga sudah menghabiskan makanannya.


"Nggak enak di awal doang kan? Bagi aku sih, bodo amat dengan fitnah. Kan itu hanya asumsi dari pikiran buruk seseorang. Orang kitanya nggak ngapa ngapain terus di tuduh ngapa ngapain. Berarti yang bermasalah pikiran orang yang nuduh tersebut." Terang Juna berapi api.


"Emang kamu mau, di fitnah ada hubungan khusus dengan janda?" Tanya Wulan yang merasa heran dengan cara berpikir Juna meski itu memang benar adanya.


"Kalau jandanya secantik kamu, langsung dinikahkan juga mau." Balas Juna dengan diringi gelakan tawa. Sedangkan Wulan hanya mendengus.


"Percuma banyak yang ngantri kalau hati ini merasa nggak cocok. Bagiku, aku nggak suka di kejar, Lan. Aku lebih suka ngejar. Kaya ngejar janda seperti kamu misalnya." Balas Juna yang akhirnya membuat Wulan tak berkutik dan memilih mendengus daripada melanjutkan pertanyaan yang lain. Sudah pasti ujung ujungnya Juna menjawab kearahnya lagi.


"Dah ah! Sudah habis ini. Ayo kita pulang? Udah sore banget tuh. Mungkin nyampe rumah bisa bisa maghrib." Gerutu Wulan dan Juna kembali mengulas senyum.

__ADS_1


Tanpa banyak pertanyaan lagi, akhirnya mereka pun beranjak meninggalkan rumah makan dan turun ke bawah menuju tempat parkir motor.


Tak butuh waktu lama, kini motor Juna terlihat menembus jalan raya. Juna sengaja memilih arah lain yang jaraknya lebih dekat ke daerah tempat tinggal Wulan. Waktu yang sudah teramat sore membuat Wulan mau tak mau harus menuruti Juna. Karena menjelang malam memang kendaraan umum di daerah situ sudah tidak beroperasi.


Saat Juna sedang fokus menatapa jalan, tiba tiba tak jauh dari arah belakang ada sebuah motor yang mengikutinya. Pengendara motor tersebut terlihat geram saat menyaksikan perempuan yang dia kenal sedang asyik membonceng pria lain.


Pengendara itu memutar gasnya agar melaju lebih cepat hingga pengendara motor tersebut berhasil melewati motor Juna dan dengan seenaknya berhenti melintang menghadang motor Juna.


Juna dan Wulan nampak kaget karena di depan mereka ada motor yang melintang. Beruntung Juna mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang jadi dia dengan mudah menghentikan laju motornya tepat di dekat motor tersebut.


Juna nampak heran sedang Wulan nampak terkejut saat melihat siapa orang yang menghadang di tengah jalan.


"Jadi benar dugaanku, Kamu sangat menginginkan perceraian karena kamu berselingkuh! Dasar wanita munafik! " Tuduh orang itu nampak menahan amarah.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2