ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Juna Yang Rese..


__ADS_3

"Apa kamu sedang menggodaku?"


Wulan terperanjat. Dia menoleh cepat kearah sumber suara. Matanya membulat. Nyatanya di dalam kamar ini, Juna sedang berdiri menyandarkan bahunya dan bersilang dada. Wulan lupa kalau dari pintu kamar mandi, ujung ranjang yang menempel tembok saja tidak kelihatan, apa lagi Juna. Bisa saja dia sengaja duduk di ujung ranjang sana.


Spontan saja Wulan salah tingkah. Dia menutupi dua benda penting pada tubuhnya dengan tangan. Namun itu tak cukup menutupi semuanya. Dia langsung menyembunyikan badannya di balik pintu lemari yang terbuka.


"Orang aku udah lihat, kenapa mesti ditutupin, Istriku?" Ucap Juna dengan senyum nakalnya menggoda sang istri.


"Juna! Keluar dulu! Aku mau ganti baju!" Hardik Wulan tanpa mau memandang Juna karena sangat jelas dia begitu malu.


"Ternyata di bawah sana rimbun sekali, Meski tetap terlihat indah sih. Dan si kembar juga, putih banget. Bikin ngiler aja." Ledek Juna dengan pikiran nakalnya. Senyumnya pun tak lepas dari bibirnya.


"Juna! Keluar!" Hardik Wulan pelan. Dia tidak berani berteriak. Takut ada yang mendengarnya.


Suasana seketika mendadak hening. Wulan yang matanya terpejam merasakan keheningan yang mendadak. Wulan penasaran. Ketika dia membuka matanya tiba tiba pintu lemari ada yang menariknya secara paksa dan sesosok tubuh tegap kini tepat berdiri dihadapan Wulan. Wanita itu syok, kembali kedua tangannya menutup bagian tubuh yang penting. Dia hendak menghindar, namun kedua tangan Juna telah menguncinya kanan dan kiri hingga Wulan benar benar terperangkap. Dia hanya bisa menuduk malu dengan detak jantung yang melompat lompat. Sedangkan Juna terus menatap istrinya dengan senyum nakal yang terus terkembang.


"Aku lapar?" Bisik Juna tepat di dekat telinga dan bisikan itu sukses membuat bulu kuduk Wulan meremang.


"Ya sana! keluar! makan!" Jawab Wulan tetap menunduk.


"Aku pengin makan kamu." Wulan tersentak. Seketika mendongak. Tatapannya sesaat beradu dengan tatapan Juna namun dia kembali menduduk.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Wulan! Juna! Itu keluarga kamu nungguin!" Kini terdengar teriakan sang ibu dari luar kamar.


"Iya, Bu! Bentar lagi!" Teriak Juna. Dia terus menatap sang istri. Senyumnya masih terkembang.


"Detik ini kamu lolos, tapi nanti malam, siapkan tenagamu, oke!" Lagi lagi Wulan bergidik mendengar ucapan Juna yang mengerikan. Juna melepas kungkunganya, dia membalik badan dan hendak melangkah. Namun saat kakinya hendak terangkat, Juna mengurungkan niatnya dan kembali menghadap sang istri.


"Nanti malam, yang rimbun biar aku yang rapiin, jangan menolak, kalau kamu menolak, akan aku buat kamu tidak tidur sampai pagi!" Ancam Juna dan dia segera melenggang menuju pintu dengan terkekeh dan perasaan yang sangat bahagia.


Sedangkan Wulan, hanya bisa merutuki dan mengumpat suaminya dalam hati. Melihat Juna yang sudah menghilang dari balik pintu kamar, Wulan segera saja mencari pakaian dan memakainya dengan perasaan dongkol.


Tak lama kemudian Wulan pun terlihat mendekat ke tempat keluarganya dan keluarga Juna berkumpul. Wulan memilih duduk di sebelah kakaknya. Namun saat matanya menangkap tatapan Juna, seketika dia ragu duduk di tempat itu karena Juna memberi kode kalau Wulan harus duduk di sebelahnya. Kali ini Wulan membantah. Dia tetap duduk di sebelah kakaknya hingga membuat Juna mendelik.


"Iya!" Jawab Juna spontan dengan tatapan terus menatap Wulan. Semua yang mendengar pun tertawa. Juna terkena virus bucin akut.


"Ya elah, Bang Juna. Masa cemburu sama kakak kandung mba Wulan? nggak ada akhlak banget." Oceh Jafin.


"Ya kan aku pengin terlihat mesra di hadapan kalian, Eh, dia malah duduk disana. Nggak mau romatisan dengan suami." Adu Juna. Dan lagi lagi semua yang mendengarnya tergelak.


"Sana, Lan, kamu pindah kesana, daripada suami kamu makin marah." Ucap sang kakak. Wulan mendengus dan dia beranjak pindah tempat duduk. Senyum Juna seketika terkembang.

__ADS_1


"Nah! Kayak gini kan bagus." Ujar Juna setelah Wulan duduk disebelahnya dan dia meraih telapak tangan istrinya.


"Amit amit, hih! Kayak abg labil aja si Aa." Cibir Jeni adik Juna. Namun sang kakak tidak menanggapinya


"Nanti, saat resepsi di Bandung, kami harap keluaga Wulan ikut semua. Ya, biar acara semakin meriah kalau semua ikut. Wulan juga pasti akan senang jika semua keluarganya hadir, Wulan kalau ada temen yang ingin ikut, ajak aja yah." Ucap Janu.


"Urusan transportasi sama penginapan, kalian jangan khawatir, itu nanti jadi urusan saya." Ucap Bang Onta dan tentu saja yang mendengarnya semua terkejut. Terutama keluarga Wulan.


"Lah, ya jangan, biar nanti kami aja yang menyiapkan semua yang berurusan dengan keluarga kami." Tolak kakak pertama Wulan. Wulan mempunyai dua kakak laki laki dan satu adik laki laki, kedua kakaknya sudah menikah dan hidup terpisah.


"Jangan sungkan, Bang. Wulan sudah jadi bagian keluarga kami. Sudah sepantasnya kami juga memperlakukan keluargnya dengan baik." Kini Jati yang angkat bicara.


"Nanti, koordinasikan saja dengan Juna. Biar nanti saya gampang mempersiapkannya." Ucap Bang Onta lagi.


"Beres, Bang Onta." Balas Juna.


Mendengar Juna menyebut Bang Onta, keluarga Wulan serentak merasa heran.


"Kok manggilnya bang Onta?" Tanya saudara Wulan.


"Iya, karena dia punya bisnis jual beli Unta di Arab, dia kan sultan Arab."

__ADS_1


"Wah!"


@@@@@


__ADS_2