ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Jika Perempuan Adu Mulut..


__ADS_3

"Apa! Oke, aku segera meluncur ke pasar!"


Klik.


"Ada apa, Jak?" Tanya Rois yang memandang heran wajah sahabatnya.


"Ini calon istriku sedang ribut di kiosnya sama perempuan." Jawab Jaka sembari melangkah menuju kamar mengambil jaket dan kunci motor.


"Ribut sama siapa?" Tanya Rois lagi.


"Nggak tahu, aku kepasar bentar ya?" Pamit Jaka pada dua sahabatnya.


"Sipp, ini serahin aja ke kita." Balas Iwang.


Jaka bergegas menyalakan motornya dan tak butuh lama motor itu sudah melesat menuju kios Melati.


Sementara di kios, Melati benar benar sedang adu mulut dengan seorang perempuan yang mengaku pernah ada hubungan dengan calon suaminya. Adu mulut tersebut bahkan menjadi tontonan orang orang yang lewat.


"Ngomongnya itu langsung ke Jaka, mba! Anda salah alamat jika langsung ngomong sama saya!" Teriak Melati dengan wajah yang merah padam.


"Harusnya kamu sebagai wanita tahu diri! Sebelum sama kamu, Jaka itu sudah jalan duluan sama saya! Dan semuanya rencana kita berantakan gara gara godaan anda!" Bentak perempuan itu tak kalah emosi.


"Lah kalau Jaka tergoda sama saya, harusnya anda interopeksi dulu dong! Apa kurangnya anda! Lagian, kok anda pede sekali kalau Jaka serius menanggapi anda? Meragukan!" Hardik Melati.

__ADS_1


"Loh, emang kenyataannya Jaka sudah jalan sama saya, tapi pas kenal kamu aja, Jaka langsung berubah. Sampai keluar dari kerjaan segala, itu juga pasti kamu kan yang mempengaruhi?" Tuding perempuan itu.


Adu mulut dua perempuan itu benar benar semakin sengit dan tak dapat dihentikan siapapun. Hingga ada dua perempuan yang mendatangi mereka karena perempuan itu mengenal salah satu perempuan yang sedang adu mulut tersebut.


"Melati! Ada apa ini?" Tanya salah satu wanita paruh baya begitu dia berada di dekat Melati. Kedua perempuan yang sedang adu mulut seketika menoleh.


"Emak! Yanti!" Pekik Melati.


"Oh, jadi ini ibu kamu! Bilangin tuh, Bu, sama anak perempuan Ibu, jangan jadi pelakor, merebut laki orang! Pakai rencana mau nikah segala, Udah jelas jelas laki lakinya lagi menjalin hubungan sama saya. eh anak ibu malah menggodanya." Ucap perempuan sambil menuding ketiga perempuan yang ada di hadapannya.


"Apa kamu bilang? Siapa yang pelakor?" Tanya Emak terlihat emosi.


"Anak ibu lah! Dengan bangganya dia akan menikahi laki laki yang sudah punya pasangan. Pasti karena didikan ibu tuh yang nggak bener, makanya dia jadi perempuan yang nggak bener juga." Ejek perempuan itu dengan angkuhnya.


"Mak? Pasti dia cuma ngaku ngaku!" Bisik Yanti.


"Biarin aja, biar Emak bikin malu perempuan ini." Balas Emak.


"Gara gara anak perempuan ibu, laki laki saya sekarang menghindar! Dia nggak pernah balas pesan chat saya. Itu semua gara gara perempuan ini!" Bentak perempuan itu.


"Ya udah, kalau kamu merasa benar. Kita datangi rumahnya, biar semua jelas, Ayo tunjukkan rumah laki laki kamu!" Tantang Emak. Perempuan itu seketika panik. Dia sebenarnya tidak tahu letak rumah Jaka.


"Ayo mba! Kita ke rumah Jaka bareng bareng, biar semuanya jelas. Kalau Jaka memang ada hubungan dengan kamu, oke! Aku mundur, tapi kita buktiin dulu." Tantang Melati.

__ADS_1


Perempuan itu malah terdiam. Dia nampak berpikir keras dengan sorot mata tajam ke arah tiga perempuan di hadapannya.


Saat suasana semakin tegang, Jaka akhirnya sampai. Dia segera memarkirkan motornya dan beranjak menuju kerumunan orang yang ada di dekat kios calon istrinya.


"Emak! Melati! Ada apa ini?" Tanya Jaka begitu dia sudah berdiri di dekat kios. Semuanya serentak menoleh ke arah Jaka.


"Jaka? kebetulan kamu disini, kamu kenal sama perempuan ini?" Tunjuk Emak.


"Ninis? Kamu ngapain disini?" Tanya Jaka yang merasa heran dengan keberadaan janda muda itu.


"Kamu kenal, Jak?" Tanya Emak sekali lagi.


"Kenal, Mak. Dia mantan nasabahku yang susah bayar utang." Jawab Jaka apa adanya membuat wajah Ninis menjadi pias. Mulutnya diam terkunci merasa tertohok dengan jawaban Jaka.


"Oh, cuma mantan nasabah? Bilangin itu, kalau mimpi jangan ketinggian. Pake ngehina emak lagi." Ucap Emak dengan ketusnya.


"Apa? Menghina emak? Kamu menghina ibu aku, Nis? Maksudnya apa!" Bentak Jaka dan Ninis semakin kaget mendengar pertanyaan Jaka.


"Ibu kamu, Bang?" Tanya Ninis gemetar.


"Iya, dia ibuku, Kenapa? Kamu berani menghina ibu?" Hardik Jaka.


Ninis pun menjadi pucat, dia terdiam. Otaknya berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Jaka.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2