
Dodit tertegun begitu dia melangkah keluar kamar. Rumah Risma terlihat nampak hening. Dodit mengedarkan pandangannya. Tidak terlihat seorangpun di berbagai ruangan selain dirinya dan sang istri yang sudah duduk manis di atas karpet dengan beberapa hidangan yang sudah siap dihadapannya.
Dia pun melangkah ke arah sang istri berada. Dengan banyak pertanyaan di benaknya, dia duduk dihadapan Risma.
"Kok sepi? Orang orang pada kemana?" Tanya Dodit begitu pantatnya menempel karpet.
"Udah pada pulang, tadi nggak bisa pada pamit sama kamu. Kamu tidurnya terlalu nyenyak jadi nggak enak buat bangunin." Jawab Risma sembari mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, "Ini pakai lauk apa, Dit?"
Lagi lagi hati Dodit menghangat. Dalam sehari kehidupannya benar benar berubah. Bahkan untuk makan pun sekarang ada yang mengambilkan.
"Itu aja, sama itu." Tunjuk Dodit ke arah sate dan telor ceplok bumbu balado.
"Sayurnya nggak?"
"Nggak dulu lah." Risma pun mengangguk. Dia mengambil makanan yang ditunjuk Dodit kemudian menyerahkanya pada sang suami.
"Nggak ada yang nginep disini apa?" Tanya Dodit lagi.
"Nggak ada, Dit. Lagian semua udah beres. Itu dekorasi dan tenda baru di bongkar besok." Jawab Risma sembari kembali mengisi piring untuk dirinya.
Dodit yang sedari tadi fokus melihat Risma mengambil makanan, seketika fokusnya terganggu saat melihat bagian depan tubuh sang istri yang terlihat jelas meski memakai baju tidur karena baju tidur yang Risma pakai adalah baju tidur yang kainnya sangat trasparan.
Dua benda kembar itu terlihat sangat tersiksa karena terjerat kain yang tidak sesuai dengan ukurannya. Apalagi bagian belahannya. Membuat Dodit yang sudah mulai mengunyah makanannya mendadak kesulitan menelan makanan tersebut.
Mata Dodit berlari kebagian bawah. Cara duduk Risma dengan kaki menyamping terlihat jelas sekali bagian kaki atas yang begitu mulus. Dan di pinggang terlihat semacam kain seperti tali berwarna merah muda. Dodit memastikan itu adalah segitiga bermuda yang dipakai Risma. Dodit meyakini, kalau kain segitiga yang di pakai Risma adalah segitiga yang bagian pinggangnya tipis. Yang lebar hanya bagian penutup sarang. Itu saja bentuknya tak terlalu lebar, hanya menutupi bagian lubang saja. Dodit menyimpulkan seperti itu karena pengalamannya beberapa kali menonton video. Dodit benar benar tidak fokus menikmati makanannya. Pikirannya sudah berkelana ke hal yang indah indah.
Tak butuh waktu lama, acara makan pun selesai. Risma segera membereskan piring kotor dan makanan yang masih tersisa memindahkannya di atas meja. Sedangkan Dodit memilih beranjak ke ruang tamu melihat keadaan.
__ADS_1
"Dit! Pintu gerbang kunci aja langsung, motor masukin keruang tamu!" Teriak Risma dari arah dapur.
"Iya!" Seru Dodit dan dia segera melaksanakan perintah Risma.
Setelah melaksanakan perintah sang istri, Dodit duduk di kursi pelaminan yang belum di bongkar. Pikirannya kembali menerawang ke kejadian tadi siang saat acara akad. Senyumnya tersungging sempurna.
"Kenapa, senyum senyum sendiri?" Tanya Risma tiba tiba hingga membuyarkan pikiran Dodit.
"Lagi teringat tadi siang aja." Jawab Dodit. Risma pun beranjak duduk kursi yang sama dengan Dodit.
"Masih nggak percaya kalau kamu sudah beristri?" Tanya Risma.
"Ya begitulah. Ini seperti mimpi yang berubah jadi nyata." Ucap Dodit dengan senyum yang masih tersungging.
"Wah! Berarti aku sering di mimpiin kamu dong, Dit?" Ledek Risma dan Dodit mengangguk dan menutup wajahnya karena malu.
"Tanya apa, Dit?"
"Kamu malam hari memakai baju seperti ini, apa nggak dingin?" Pertanyaan Dodit membuat Risma tersenyum.
"Enggalah Dit. Udah biasa aku kalau tidur pakai pakaian seperti ini. Di lemari banyak tuh. Lebih nyaman. Kan nanti tidurnya juga pakai selimut, Dit." Jawab Risma dan Dodit hanya manggut manggut.
"Kirain, kamu memakai pakaian seperti itu agar aku tergoda, Yang." Ucap Dodit polos dan hal itu membuat Risma tergelak.
"Ya engga lah, Dit. Aku udah terbiasa begini. Hayo! Pasti kamu mikir yang tidak tidak?" Terka Risma dan Dodit memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa malu.
"Ya wajarlah, Yang. Aku beripikir yang tidak tidak. Apalagi kita baru saja menikah." Ucap Dodit dan Risma tertawa renyah dibuatnya.
__ADS_1
"Emang apa yang kamu pikirkan, Dit?" Tanya Risma pura pura penasaran. Dodit mendongak sambil bersandar di kursi pelaminan.
"Yang pasti aku membayangkan, memegang bukit kembar, mengusap dan menciumnya dan merasakan semuanya yang ada di dirimu, Yang. Itu yang aku pikirkan." Jawab Dodit. Risma tertegun, suaminya benar benar polos. Dodit menjawab apa adanya.
"Kenapa cuma membayangkan? Emang nggak pengin gitu mewujudkannya menjadi nyata?" Tanya Risma. Dodit tercengang dan dia menoleh menatap istrinya.
"Emang boleh aku memegangnya, Yang?" Dan Risma malah tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Ya boleh lah, Dit. Kan sudah halal." Mata Dodit menjadi berbinar dengan senyum terkembang begitu Risma berkata seperti itu.
"Apa aku boleh memegangnya sekarang?" Tanya Dodit memastikan.
"Ya silahkan."
Seketika dada Dodit berdegup lebih kencang. Nafasnya memburu tak beraturan. Ditatapnya sang istri yang tersenyum dan duduk pasrah di sebelahnya.
Salah satu tangan Dodit perlahan terangkat. Risma tercengang melihat gerakan suaminya.
"Kenapa tangannya gemetaran gitu, Dit?"
"Grogi, Yang."
"Astaga!"
...@@@@@...
Hai hai hai, othornya lagi betah menyapa. Ini hari senin. Jangan lupa dukungannya, Votenya buat Jaka boleh? hihii jangan lupa gift, like, komen dan promoin juga kisah jaka ke temen temen, keluarga dan saudaranya ya. makasih.
__ADS_1