ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Lima Setengah..


__ADS_3

Akhirnya Wulan pun pasrah saat Juna menawari bahkan memaksanya mengantar ke rumah Pamannya. Wulan sebenarnya takut dengan reaksi keluarga besar yang sedang berkumpul di acara tasyakuran khitan anak pamannya. Karena yang baru saja resmi jadi janda, malah datang dengan seorang pria. Wulan takut akan tanggapan miring keluarga besar tentangnya.


Namun sesampainya disana, ternyata tanggapan keluarga besar Wulan berbeda jauh dari yang dipikirkannya. Meski awalnya mereka memandang heran dan banyak pertanyaan. Namun Juna yang menjawab dengan tenang dan lancar membuat seluruh keluarga berdecak kagum atas keberanian Juna. Apa lagi saat mereka membandingkan kelebihan Juna dengan Bagus, membuat Wulan lega bahkan menyunginggkan senyumnya. Orang tua Wulan pun semakin yakin atas keseriusan Juna dengan melihat pria itu yang sangat mudah berbaur dengan keluarga besar Wulan. Berbeda jauh dengan Bagus. Dia tidak seakrab Juna saat baru pertama kali berbaur dengan keluarga Wulan. Bagus malah terkesan angkuh.


Dan kini, Juna terlihat sedang dikerubuti saudara saudara Wulan yang berjenis perempuan. Tentu saja hal itu terjadi karena ketampanan Juna yang luar biasa. Hampir semua memuji keberuntungan Wulan mendapat ganti seorang pria yang begitu menakjubkan.


Selain Juna, kebahagiaan juga sedang dirasakan oleh sepasang pengantin baru di malam keduanya sebagai sepasang suami istri. Pasangan beda usia dimana sang suami lebih muda dari sang istri nampak begitu mesra dan romantis. Mereka malam ini terlihat sedang duduk diatas karpet depan televisi dengan amplop bertebaran di hadapan mereka. Dengan bersenda gurau, mereka membuka satu persatu amplop yang mereka dapatkan dari sumbangan orang orang yang memberi doa restu atas pernikahan mereka.


"Padahal kita nggak nyebar undangan, tapi bisa dapat sebanyak ini amplopnya." Gumam Risma.


"Rejeki kamu, Yang. Bersyukur saja." Tukas Dodit.


"Rejeki kita, Dit." Protes Risma.


"Iya, tapi semua kamu yang pegang. Biar keuangan kamu yang ngatur. Nanti uang tabunganku juga akan aku kasih ke kamu, Yang." Ucap Dodit dengan entengnya namun membuat Risma tercengang. Dodit berbeda dengan mantan suaminya. Dulu bahkan uang sumbangan, suaminya yang memegang uang lebih banyak dengan alasan karena dia kepala rumah tangga. Tapi Dodit malah memasrahkannya semuanya, bahkan juga tabungan pribadinya.


"Kok gitu? Apa kamu nggak butuh pegangan uang?" Tanya Risma menatap heran pada suaminya.

__ADS_1


"Ya butuh, tapi aku nggak mau ada yang di sembunyikan, Yang. Begitu juga soal keuangan. Aku ingin segalanya terbuka. Kata orang tuaku, jangan ada sesuatu yang disembunyikan dalam rumah tangga. Harus saling terbuka tiap ada masalah termasuk tentang uang. Keluargaku bukan dari keluarga kaya, Yang. Tapi ibu sama bapak jarang bertengkar masalah uang. Aku ingin mengikuti jejak mereka." Tentu saja Risma semakin tertegun mendengarnya. Dia tersenyum dan mendekati suaminya dan mengecup dalam dalam pipi Dodit.


"Ya udah, mulai malam ini, aku manggil kamu, Mas. Karena kamu sudah jadi suamiku." Dodit menoleh dengan dahi berkerut.


"Mas?"


"Iya, kan kamu sudah jadi suamiku. Aku harus menghargai dong. Dan panggilan Mas juga biar semakin dekat dan harmonis." Jawab Risma mambalas tatapan Risma dengan tersenyum manis.


"Kok aku kayak seneng gitu yah? Mas. Wah, Nggak kebayang aku." Ucap Dodit dengan mata yang berbinar. Risma kembali mengecup pipi Dodit setelah melihat reaksi sang suami dengan perubahan panggilan kepadanya.


"Mas, besok kita nginep di rumahmu yah?" Usul Risma membuat Dodit kembali menatap istrinya, " Biar aku bisa akrab sama orangtuamu, Mas." Dan Dodit seketuka mengangguk dengan tersenyum.


Tentu dong. Tapi nanti setelah acaranya Mba Melati ya, Mas. Aku ingin bantu bantu di acara nikahnya dia." Usul Risma.


"Tentu, aku juga akan kesana." Balas Dodit dan mereka saling lempar senyum terus kembali melanjutkan buka isi amplopnya dan menghitung isinya.


Rata rata isi amplop itu berisi mata uang kertas berwarna biru dan beberapa lembar bewarna merah dengan angka nol berderet sebanyak lima kali.

__ADS_1


"Yang, setelah ini kita bikin anak lagi yah?" Pinta Dodit tanpa menoleh ke arah sang istri. Tangannya sibuk membuka amplop yang tinggal separuh.


"Nanti malam berapa ronde, Mas? Jangan banyak banyak ntar sarangku lecet lecet." Pinta Risma dan tentu saja membuat Dodit terkekeh.


"Penginnya sih tujuh atau delapan ronde, Yang." Ucapan Dodit seketika membuat Risma terkesiap.


"Yang bener aja, Yang. Semalam aja aku sangat kelelahan dan langsung tidur setelah ronde ke empat selesai." Tutur Risma.


"Semalam lima setengah ronde kali, Yang." Balas Dodit dan tentu saja Risma kembali terkejut.


"Lima setengah ronde?" Tanya Risma.


"Iya, yang kelima tuh aku lakukan saat kamu sudah terlelap. Sarangmu terus memohon minta dimasukin. Ya aku kasian dong nggak tega melihatnya, akhirnya aku sodok lagi pelan pelan, takut kamu terbangun." Risma membulatkan matanya dengan pengakuan sang suami.


"Gila kamu, Mas! Terus yang setengah ronde, gimana maksudnya tuh? Kok bisa ada setengah ronde?" Tanya Risma penasaran.


"Ya ada lah. Kamu nggak ingat pas dikursi pengantin? Di situ kan aku nyembur dimulut kamu sebelum nyodok. Itu namanya setengah ronde, bukan full."

__ADS_1


"Astaga!"


...@@@@@...


__ADS_2