
"Rima?"
Seketika wajah Melati berubah. Dengan segera dia melewati Jaka dan masuk kembali ke kiosnya. Sedangkan Jaka jadi salah tingkah sendri. Dia tahu Melati pasti sedang cemburu saat ini.
"Bang Jaka lagi ngapain?" Tanya Rima yang justru mendekati Jaka. Apalagi pesona Jaka semakin memukau setelah potong rambut, membuat Rima terus memandanginya. Dan hal itu membuat Jaka semakin tak enak perasannya. Dia melirik ke dalam toko. Di sana Melati terlihat biasa saja namun Jaka tahu kekasihnya sedang menahan cemburu.
"Ini mau ketemu Bapak, Rim." Jawab Jaka agak gugup.
"Sekarang kok yang narik di daerahku bukan bang Jaka lagi? bang Jaka pindah?" Tanya Rima dan dia berusaha semakin dekat dengan Jaka namun sebisa mungkin Jaka berjaga jarak.
Jaka lagi lagi melirik ke arah Melati. Kini kekasihnya terlihat sedang melayani pembeli yang kebetulan pembeli itu berdiri di dekat etalase yang tak jauh dari Jaka dan Rima berada.
"Oh, aku sudah nggak kerja disana lagi, Rim." Jawab Jaka dan tentu saja Rima terlihat terkejut.
"Kenapa bang?" Tanya Rima dengan rasa terkejutnya.
"Aku mau buka usaha sendiri dan kemungkinan sebentar lagi aku akan menikah." Ucap Jaka jujur.
Tentu saja Melati yang sedang melayani pembeli juga sayup sayup mendengar pembicaraan Jaka yang memang berdiri tak terlalu jauh dari kiosnya.
"Menikah? Mana mungin? Jangan bohong bang?" Tanya Rima tak percaya.
"Ya tanya saja sama bapakku. Makanya sekarang aku mau menemui bapak karena ada hal yang harus aku bicarakan. Aku nggak minta kamu percaya." Mendengar jawaban Jaka yang sangat meyakinkan, nampak sekali wajah kecewa yang Rima tunjukkan.
"Terus nasibku gimana bang?" Tentu saja Jaka kaget dengan pertanyaan Rima.
"Nasibmu?"
"Iya, nasibku jika nggak ada abang gimana? sedangkan Alif sudah sangat cocok sama abang?" Tentu saja Jaka sangat terkejut dengan alasan yang dibuat Rima. Hati Melati juga semakin bergemuruh dengan apa yang dia dengar. Namun dia berusaha tenang karena sedang berhadapan dengan pembeli.
__ADS_1
"Apa hubungannya denganku? nasibmu ya kamu urus sendiri lah. Bukankah kedekatan kita tak lebih hanya sebatas teman dan juga penagih serta pengutang. Kenapa aku harus mikirin nasib kamu?" Ucap Jaka terdengar pedas namun memang harus begitu biar terlihat tegas. Apalagi ada Melati yag sepertinya menguping pembicaraan tersebut.
"Ya jangan begitu dong Bang, masa dua bulan kita deket, aku benar benar ngga ada artinya dimata kamu?" Protes Rima yang tak terima begitu saja dengan kabar yang baru dia dengar.
"Dari awal memang kita tidak ada hubungan apa apa kan Rim? Kamu jangan ngada ngada deh, bukankah aku bilang jalani dulu itu juga karena kamu yang memaksanya dan kamu juga tahu alasannya. Kenapa kamu menyalah artikan kata kataku?" Ujar Jaka yang terlihat sedikit emosi.
"Tapi aku sudah terlanjur berharap sama bang Jaka." Ucap Rima seperti mengiba.
"Ya itu masalahmu. Aku sudah pernah bilang jangan terlalu berharap. Aku kalau nggak suka ya bilang nggak suka. Kamu yang menyalah artikan ucapanku malah aku yang seakan akan berslah. Itulah sebabnya aku males deket dengan perempuan, salah satuya ya kaya gini. ngasih harapan enggak, malah aku yang disalahkan."
"Tapi bang?"
"Sudah Rim. dan maaf jika gara gara sikap aku, kamu jadi berharap lebih. Dan tolong mulai saat ini, aku sudah tidak akan lagi berhubungan dengan wanita manapun selain calon istri saya, mengerti!" Ucap Jaka tegas dan dia segera pergi meninggalkan Rima yang nampak begitu kecewa. Namun wanita di dalam kios justru malah tersenyum gembira mendengar pengakuan Jaka barusan.
"Ternyata benar, menaklukan hati kamu susah banget Jak." Gumam Rima dan dia pun berjalan gontai menuju pasar.
Sementara Melati yang tadi sempat terbakar cemburu, kini hatinya damai kembali. Senyum pun terkembang manis dibibirnya. Bahkan hingga pembeli yang dilayaninya pergi, senyum itu masih terukir di sana hingga dia tak sadar ada sosok yang sedang memperhatikanya.
Mendengar ada yang menggombalinya, Melati langsung memalingkan pandangannya ke sumber suara. Dan ternyata ada Juna berdiri di depan tokonya. Pria itu tersenyum manis, namun sayang manisnya tak bisa melelehkan hati Melati.
"Ngapain kamu di sini? Urus saja sana tokomu." Ucap Melati ketus. Tapi Juna tak peduli. Dia tetap berdiri di depan toko Melati.
"Ya ampun langsung jutek aja ni anak orang, jadi pengin cepet cepet halalin." Goda pemilik toko sebelah yang sedang mengadakan acara pembukaan tersebut.
"Maaf, aku sudah punya hak milik. jadi tidak ada celah untuk pria lain." Nawab Melati masih dengan wajah tak bersahabatnya.
"Yakin? Tapi sepertimya belum ada tanda tanda janur kuning melengkung dirumahmu?" Ucap Juna lagi. Dia begitu gencar ingin mendekati Melati.
"Ya nggak bakalan ada janur kuning lah. Janur kuningya habis buat bikin ketupat." Jawaban ketus Melati justru disambut tawa kencang oleh Juna hingga Melati dan Dodit yang ada di sana merasa heran.
__ADS_1
"Selama belum ada kata sah, berarti masih bisa aku perjuangin dong?"
"Dih nggak tahu malu banget sih, pengin sesuatu kok yang sudah ada pemiliknya." Cibir Melati.
"Justru itu tantangannya." Ucap Juna bangga.
"Jadi kamu bangga merusak hubungan orang lain?" Tanya Melati. Tentu saja dia sangat geram dengan sikap Juna.
"Loh selama hubungan itu belum resmi kayaknya nggak masalah."
"Oh jadi begini sifat sodaranya bang Jati. Menghalalkan segala cara untuk menghancurkan hubungan seseorang meski statusnya pacaran?" Astaga. Aku kira keluarga bang Jati orang baik baik semua ternyata ada juga yang tak tahu malu."
"Hahhaa serius amat kamu menanggapinya Mel. Apa dimata kamu aku terlihat seburuk itu?" Tanya Juna dengan wajah sama sekali tak merasa bersalah.
"Pikir aja sendiri." Ucap Melati ketus dan dia segera naik kelantai atas.
Juna hanya senyum senyum tak jelas dengan mata terus memperhatikan Melati hingga tubuh itu menghilang.
"Apa kamu tahu, siapa pacar Melati?" Tanya Juna kepada Dodit yang dari tadi hanya diam melihat dan mendengarkan perdebatan kedua orang tersebut.
Dodit mengangkat kedua bahunya sebagai tanda kalau dia tidak tahu siapa pacar Melati.
Dodit memang tadi melihat Melati sedang di hadang seorang pria namun Dodit merasa itu bukan pacar Melati karena setelah Melati masuk kios, pria tadi berbicara dengan perempuan dan terlihat sangat serius.
Sementara Juna, otaknya terus berpikir. Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya. Dia tidak yakin kalau Melati memiliki hubungan dengan seseorang. Karena dari yang dia dengar lewat Jati, Melati itu susah jatuh cinta sejak cerai. Tiba tiba senyum Juna terbesit.
"Aku yakin kamu bohong Mel, dan lihat saja, aku akan menaklukkan hati kamu."
...@@@@@...
__ADS_1
Aduh, juragan ranjang mau buat ulah apa itu? haduh. Jun urusi aja itu ranjang ranjangmu loh. Eh juragan ranjang kalau dibikin cerita sendiri kayaknya seru kali yah. Makasih ya Jaka lover yang masih setia sampai detik ini. Makasih dukungannya.
Bagi yang mau gabung di Grup Chat Perjaka, Silahkan tinggalkan komen di setiap bab perjaka. Biar duo Admin bisa langsung acc dan kalian bisa ngikutin keseruan GC perjaka. Di grup perjaka mau ngomong apa aja silahkan yang penting sopan dan jangan ngajakin War. Seasyik apa sih ikut di grup perjaka? buktiin aja sendiri? Okey. Dhoom.!!!