
Sepasang pengantin baru itu masih berada di tempat yang sama. Masih dalam posisi yang sama dan masih dalam suasana hati yang sama. Keadaan rumah yang sepi seakan mendukung mereka untuk melakukan apapun dan dimanapun sesuka mereka.
Sang suami masih memeluk tubuh polos sang istri dari belakang dengan telapak tangan yang mendarat di tempat berbeda. Sedangkan sang istri masih menikmati sentuhan yang sudah sangat dia rindukan. Lama tak merasakan sentuhan seorang pria membuat perempuan itu pasrah ketika tangan suami barunya bergerilya ke seluruh tubuhnya.
"Tiap malam, di komplek sini sepi banget apa, Yang?" Tanya Dodit sembari matanya menatap ke arah kaca yang menembus depan rumah.
"Iya. Makanya tiap jam enam sore aku sudah kunci pintu dan nggak berani keluar rumah." Jawab Risma.
"Pantes. Kita main disini dari tadi, kamu tenang tenang saja. Keadaan benar benar mendukung kita. Apalagi kaca depan nggak tembus pandang ke dalam ya, Yang?" Balas Dodit yang membuat Risma tertawa renyah.
"Aku juga heran sih, Dit. Kok kita bisa main disini? Tapi tadi aku udah terlanjur menikmati sentuhanmu saat mainij bukit kembar, Jadi ya udah lah. Kalau pengantin yang lain malam pertama di kamar, nah kita, malam pertama di kursi pengantin kita." Ucap Risma dan keduanya tergelak bersamaan.
"Yang, berarti punya kamu sudah lama nggak dimasukin yah?" Tanya Dodit yang tangannya masih memijat mijat sarang istrinya.
"Ya sudah lama banget. Ada dua tahun lebih." Jawab Risma sembari menatap tangan Dodit dibawah sana. Dodit hanya manggut manggut.
"Terus ini? Kenapa bisa kenyal dan indah begini sih, yang? Benar benar enak saat dimakan." Tanya Dodit lagi sembari memijat salah satu bukit kembar.
"Ya nggak di apa apain, Dit. Kan kamu tadi lihat kain yang aku pakai? Cuma pakai itu." Jawab Risma lagi.
"Emang benar, Yang? Punya mantan suami kamu dulu kecil?" Tanya Dodit lagi. Entah kenapa dia jadi banyak bertanya saat ini.
"Iya, mana bengkok lagi. Makanya pas tadi punya kamu masuk ke dalam semua. Nikmat banget, Dit. Benar benar memenuhi lubang." Dodit tertawa renyah mendengar jawaban Risma.
__ADS_1
"Yang. Ini sih bulu bulu kamu udah dirapiin lagi apa belum? Kok masih sama kayak yang dulu aku lihat?" Tanya Dodit sembari memainkan bulu bulu pendek di sekitar sayang istrinya.
Mendengar kata bulu, Risma bukannya menjawab malah berdiri seperti mengingat sesuatu hingga Dodit terkejut. Risma pun beranjak dari kursinya.
"Mau kemana, Yang?" Tanya Dodit.
"Bentar, aku ke dalam. Kamu sini aja." Balas Risma dan dia langsung pergi saja masuk ke dalam.
Tak butuh waktu lama, Risma kembali dan tangannya membawa sebuah gunting. Dodit mengernyitkan dahinya dan bertanya tanya, apa yang akan dilakukan istrinya dengan gunting itu. Terlihat disana, Risma duduk dihadapan Dodit. Namun kali ini posisinya beda. Risma duduk di salah satu kursi yang tertata tadi menghadap Dodit.
"Berdiri, Dit." Titah Risma.
"Mau ngapain?" Tanya Dodit sembari berdiri.
Risma tidak menjawab. Namun kedua tanganya bergerak menuju bulu bulu disekitar cucak rowo yang gondrong acak acakan dan mengguntingnya. Dodit tertegun namun tak lama kemudian dia tersenyum. Ternyata Risma berniat merapikan bulu bulu suaminya.
"Jarang, Yang." Jawab Dodit sambil cecengesan.
"Pantes. Rimbun begini." Balas Risma dan Dodit hanya tertawa renyah.
"Malas rapiinnya, Yang." balas Dodit. Matanya terus memandang perkerjaan sang istri dengan hati yang menghangat. Bahkan sampai bulu bulu pun ada yang mengurusnya setelah dia naik pangkat menjadi suami.
Tak lama kemudian, terlihat Risma sudah menyelesaikan mencukur bulu sang suami. Bulu bulu yang sudah terpotong, ditaruh di kolong kursi pengantin.
__ADS_1
"Kok masih ada sisa, Yang? Nggak digundul sekalian?" Tanya Dodit yang melihat Risma memainkan bulu bulu pendek milik Dodit.
"Nggak lah, nggak bagus. Bagusan begini. punya kamu jadi makin terlihat ganteng kayak kamu, Dit." Jawab Risma sembari memijat cucak rowo yang menegang.
"Ganteng dari mana sih, Yang? Kayak gitu dibilang ganteng." Ucap Dodit sembari tergelak.
"Lah ini buktinya. Gede, panjang dan bulunya rapi. Ganteng kan?" Balas Risma dan Dodit pun memilih mengalah dan mengiyakan ucapan istrinya.
Risma tiba tiba memajukan wajahnya dan kini kembali mulutnya melahap benda itu beberapa saat.
"Enak bangat, Yang. main lagi yuk?" Ajak Dodit dan Risma menghentikan kegiatan mulutnya terus menatap sang suami.
"Main di kamar ya? Biar nanti langsung tidur kalau sudah sangat cape." Pinta Risma dan lagi lagi Dodit mengiyakan.
Risma hendak bangkit dari tempat duduknya namun tiba tiba Dodit melarang Risma berdiri. Dodit tersenyum kemudian membungkuk dan menyodorkan kedua tangannya menyongsong tubuh sang istri.
Kini tubuh Risma diangkat oleh Dodi ala ala pria romantis.
"Nggak berat, Dit?" Tanya Risma saat tubuhnya sudah terangkat.
"Nggak dong, Ni lihat otot aku." Balas Dodit dan mereka tergelak.
Risma melingkarkan tangannya dileher sang suami. Dan kini Dodit siap siap melangkah namun sebelum melangkah Dodit tiba tiba berseru
__ADS_1
"Ronde ke dua dimulai, Yeah!"
...@@@@@...