
Sedikit panik. Itu lah yang Melati rasakan detik ini. Sang suami benar benar akan mewujudkan keinginannnya. Melakukan aktifitas di rumah tanpa sehelai benang pun yang menutupi badannya. Langkah kaki Jaka tinggal beberapa lagi masuk kedalam rumah. Berarti tinggal beberapa saat lagi, baju yang Melati pakai sekarang akan terlepas. Di perhatikanya wajah sang suami yang terus menyungggingkan senyum nakalnya. Senyum yang menakutkan namun tetap memperlihatkan ketampanannya.
Langkah kaki Jaka kini telah melewati pintu rumah. Dan saat itu pula diturunkannya tubuh Melati lalu Jaka memutar badan mengunci pintu. Otak Melati berpikir keras. Mencari cara agar keinginan sang suami tidak terwujud. Meski pun itu tak mungkin, setidaknya menunda waktu agar niat Jaka tidak dilaksanakan sepagi ini.
Melati segera melangkahkan kakinya ke dapur. Entah apa tujuannya, yang penting dia dapat mengulur waktu agar keinginan sang suami bisa tertunda.
Sesampainya di dapur. Melati bingung mau melakukan apa. Dia hanya berdiri di dekat dinding dekar kompor sambil berpikir. Namun saat dia melihat sosok suaminya mendekat, Melati langsung berputar arah dan membuka isi kulkas yang berada tak jauh dari dirinya.
"Lagi ngapain, Sayang?" Tanya Jaka. Melati terkejut karena tangan Jaka yang tiba tiba sudah memeluk pinggangnya.
"Eh, lagi lihat isi kulkas, Yang." Ucap Melati.
"Buat apa?" Tanya Jaka. Namun salah satu tangan Jaka mulai bergerak aktif menuju punggung Melati dan menurunkan resleting baju Melati. Sang istri tersentak.
"Kamu mau ngapain, Yang?" Tanya Melati pura pura tidak.
"Nggak mau ngapa ngapain, Sayang. Aku cuma ingin menikmati pemandangan yang indah." Jawab Jaka asal dan kini kedua tangannya sudah mulai berada di ujung bawah baju Melati dan siap siap melepaskan.
"Pemandangan apa sih, Yang?" Kini ucapan Melati sedikit ambigu, namun dia benar benar tak bisa menahan pergerakan tangan sang suami yang mulai melepas bajunya.
"Kamu diam, Oke? Jangan banyak tanya." Bisik Jaka yang terdengar menggoda.
__ADS_1
Melati pun akhirnya pasrah saat satu persatu kain yang menempel pada tubuhnya dilepas suaminya. Tak lebih dari satu menit, semua kain kain yang dipakai Melati teronggok dilantai. Kini keindahan itu terampang di depan Jaka. tubuh langsing, bukit kembar yang kencang dengan ukuran sedang serta si tembem berbulu tipis kesukaan Jaka.
"Istriku cantik banget kalau lagi keadaan begini." Puji Jaka dan Melati hanya tersenyum canggung.
Kini gantian Jaka yang melepas pakaiannya satu persatu. Melati hanya diam mematung menatap suaminya yang tidak membutuhkan waktu lama sudah melepas semua pakaiannya.
Begitu selesai melepas pakaian, Jaka langsung menarik Melati ke dalam pelukannya.
"Merasa dingin nggak, Yang?" Tanya Jaka dan Melati menggeleng, "Kalau dingin bilang, biar aku selalu menghangatkanmu."
"Ntar kalau masuk angin gimana?"
"Aku sudah siapkan obat, dan diatas juga ada selimut. Sekarang kita mau main atau kamu mau ngapain?" Tanya Jaka lembut.
"Baiklah, aku bantuin ya? Mau masak apa sih?" Tanya Jaka kemudian dia melepas pelukannya.
"Nggak tahu, aku mau lihat di kulkas ada apa saja." Dan Melati kembali membuka pintu kulkas dan mengatami isinya.
Setelah berpikir sambil melihat isi kulkas, Melati mengambil rajikan sayur asem, tempe dan satu pindang bandeng serta sebutir telur.
"Eh, Yang, coba di cek, ada nasi nggak?" Perintah Melati dan Jaka pun menurutinya. Dia beranjak ke arah rice cooker.
__ADS_1
"Ada, Yang, tinggal setengah." Jawab Jaka dan dia kembali ke tempat sang istri.
Tanpa menjawab, Melati langsung beraksi. Memperlihatkan kepandaiannya dalam hal masak memasak di depan sang suami. Sedangkan Jaka berdiri di sisi yang lain memperhatikan kegiatan memasak sang istri. Bibir pria itu terus tersenyum manis. Betapa dia merasa beruntung mendapatkan istri yang pintar dalam segala hal. Di dapur, di pasar dan di ranjang.
"Mas, gasnya habis apa yah? Kok nggak nyala nyala?" Keluh Melati saat memutar pemantik kompor. Jaka pun segera bertindak. Dia mengecek tabung gas yang berada di sisi bawah kompor agak ke kanan.
"Iya, Yang. Habis."
"Yah? Gimana dong? Ini tinggal masak doang?" Cicit Melati.
"Biasanya di belakang ada stok, biar aku periksa." Tanpa menunggu jawaban Jaka bergegas menuju belakang dapur.
Dan benar saja, Jaka kembali dengan menenteng tabung gas yang masih bersegel. Segera Jaka menggantinya kemudian setelah dirasa pas, Jaka memerintahkan Melati menyalakan kompor dan kompor pun menyala.
Kompor dua tungku itu digunakan Melati semua. Yang satu untuk memasal sayur asem dan yang satu untuk menggoreng tempe tanpa tepung dan pindang yang dibaluri telur kocok. Jaka masih setia menemani sang istri memasak. Bahkan kini dia berada dibelakang Melati sembari memeluknya.
"Selesai." Ujar Melati senang setelah dapat menyelesaikan masakannya, " Yang, itu tempe sama pindangnya taruh meja makan."
Jaka pun menurutinya. Sedangkan Melati mengambil mangkuk agak besar dan mengisinya dengan sayur asam terus membawanya ke meja makan.
Melihat sang istri menaruh sayur asam, Jaka kembali melingkarkan pelukannya dan berbisik,
__ADS_1
"Sayur asam sudah ada. Tinggal kita bikin keringat yuk, Yang. Agar ketiakku asam."
...@@@@@...