
Manusia hanya bisa merencanakan, Tapi tetap Tuhan yang menentukan. Begitu juga yang terjadi pada Jaka. Niat hati ingin terus bermain dengan si tembem selama mungkin namun kenyataannya, banyak yang harus dia kerjakan dengan sang istri. Dari mulai mengunjungi rumah mertua Jaka, melihat lihat toko Melati serta beres beres di rumah baru Melati. Bahkan mereka juga berwisata berdua ke tempat wisata terdekat.
Waktu cepat sekali bergulir. Keluarga besar Jaka sudah pada kembali kekotanya masing masing. Meski ada yang masih menetap.
Julian sengaja tidak ikut pulang ke kotanya, dia juga tertarik ingin membuka usaha dan tinggal di kota yang sama dengan Jaka. Dia juga akan menghadiri acara lamaran sang sepupu yang sebentar lagi terlaksana.
"Kamu rencananya mau buka usaha apa, Jul?" Tanya Jaka sambil menyantap sarapan pagi di rumah penganti baru. Selain Jaka dan Melati, di sekitar meja makan ada Julian dan Juna juga.
"Paling distro, Jak, apa lagi? Julian kan suka fasion?" Sela Juna.
"Iya, Jak. Kira kira di daerah sini, sewa tempatnya mahal nggak, Jak?" Tanya Julian.
"Kalau itu aku kurang tahu, Jul, mungkin mahal kali. Kamu tahu nggak, Yang?" Ucap Jaka sembari menoleh ke Melati yang duduk di sebelahnya.
"Kurang tahu juga ya, aku nggak pernah dengar yang kayak gitu." Balas Melati.
"Kemungkinan kalau di pinggir jalan raya, mahal, Jul. Aku aja sewa kios di pintu masuk pasar deket kios Melati, satu tahun seratus juta." Tukas Juna.
"Kamu minta tolong aja sama Bang Jati, Jul. Dia banyak tahu soal itu. Juna aja dulu dibantu Bang Jati." Sela Jaka.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku ikut ke pasar ya, Jun." Balas Julian dan Juna mengiyakan.
Sementara di rumah yang berbeda, suasana hangat juga terasa pada pasangan pengantin beda usia. Sang suami senantiasa memeluk sang istri dari belakang meski dia tahu istrinya sedang sibuk membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Mas, mandi dulu sih? Katanya mau ke toko?" Ucap Risma sambil membolak balik tempe yang sedang di goreng.
"Nanti lah, nemenin istriku dulu. Lagian ke tokonya juga jam sembilan. Ini baru jam tujuh lebih." Tolak Dodit. Sang istripun hanya pasrah. Dia terus melanjutkan memasak tengan tubuh sang suami yang terus nempel pada dirinya.
Dan beberapa lama kemudian, acara masak memasak pun usai. Kini Dodit siap menikmati hidangan sederhana namun sangat lezat hasil karya sang istri.
"Yang, berarti hari libur bikin anaknya tinggal berapa hari?" Tanya Dodit di sela sela santap paginya.
"Saat bujang kan berusaha dikuat kuatin, Yang. Dari pada mesum? Yang ada, aku nggak pernah nikah sama kamu." Jawaban Dodit seketika membuat Risma tersenyum.
"Kenapa kamu bucin banget sama aku sih, Mas? Perasaan aku biasa aja?" Tanya Dodit.
"Tapi dimata aku, kamu luar biasa, Yang. Kamu mampu melawan masa sulitmu sendirian. Dulu sih aku hanya mengagumi fisikmu karena cantik. Tapi, setelah mengenal kamu lumayan lama, aku mangagumimu, eh malah sekarang jadi suami kamu. Bahagia dong." Balas Dodit penuh semangat. Sedangkan Risma lagi lagi tersenyum, "Siang ini, rencana kamu mau ngapain, Yang?"
"Paling di rumah aja, Mas. Mau pergi juga malas." Jawab Risma.
__ADS_1
"Berarti itu motor kamu, nggak apa apa dipake aku dulu buat ke toko?" Tanya Dodit. Terlihat, dia sudah menghabiskan makanannya.
"Ya pakai aja, lagian aku nggak akan kemana mana, males." Balas Risma yang juga sama sama menyelesaikan sarapannya.
"Makasih ya, Yang." Ucap Dodit dan Risma hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Gimana kalau uang hasil orang kondangan, kita pakai sebagian buat beli motor, Mas?" Usul Risma.
"Emang boleh, Yang? Kan buat tabungan kita?" Tanya Dodit yang nampak terkejut dengan usul istrinya.
"Ya nggak apa apa. Ini kan buat keperluan kamu juga, Mas. Kita cari aja motor bekas yang penting layak pakai. Buat kamu berangkat ke toko."
"Wah, ide bagus tuh, Yang. Benar kan istriku memang hebat? Makasih sayang." Ucap Dodit terus beranjak dan ditangkupnya wajah sang istri kemudian di kecupnya wajah sang istri bertubi tubi.
Dan di pagi yang sama namun di tempat berbeda pula. Seorang pria terlihat gusar dalam kamarnya. Wajahnya nampak kusut karena dia bangun tidur. Matanya menerawamg ke atap kamar. Tangan kiri dia taruh di bawah kepala, tangan kanan masuk ke dalam kolornya. Nampak sesekali dahinya berkerut dengan nafas yang berhembus berat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Cari pelampiasan kesiapa lagi yah? Susah banget naklukin Ayu. Gara gara Jaka, aku jadi kehilangan satu satunya wanita yang mau di ajak outdoor. Menyebalkan."
...@@@@@...
__ADS_1