
Suasana yang sedari siang ramai, kini berubah menjadi sepi. Satu persatu orang pamit undur diri dan kembali ke rumahnya masing masing. Begitu juga keluarga besar Juna. Waktu yang tidak bisa dihentikan lajunya serta rasa lelah yang mendera mereka, membuat mereka memutuskan pulang juga. Kini hanya ada beberapa orang yang masih berada di rumah orang tua sang pengantin baru termasuk Juna.
Pria tampan yang statusnya sudah berubah, terlihat duduk menyendiri di depan warung istrinya setelah beberapa saat lalu melepas keluarganya pulang. Dia sengaja duduk di sana, karena ingin menikmati suasana baru tempat tinggalnya.
Juna masih sedikit tidak menyangka kalau keputusannya membuka usaha di lain daerah beberapa bulan lalu malah membawanya bertemu dengan wanita yang entah kenapa membuat hatinya tergerak untuk menikahinya. Dia sadar, dia tempat tinggalnya banyak perempuan yang antri dan berlomba lomba mendapatkannya. Namun takdir malah menunjukkan kuasanya, perempuan di lain daerah yang justru membuat dia dengan mudah mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. Namun dia sadar, sekarang hidupnya berubah. Dia bertekad akan menjaga hubungan ini sama seperti hubungan orangtuanya yang dulu menikah tanpa pacaran hingga mempunyai tiga anak.
"Mas, Makan dulu." Sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Juna. Dia tersentak. Hatinya berdesir dan menghangat. Kata Mas yang disematkan untuknya membuat dia merasa lebih dihargai. Kepalanya berputar arah dan dilihatnya perempuan yang sudah menjadi istrinya berdiri di depan pintu dengan tatapan yang menunjukan kalau perempuan itu begitu canggung. Juna tersenyum dan beranjak dari tempatnya menuju sang istri.
"Suapin ya?" Pinta Juna dengan senyum yang terkembang.
"Dih, enak aja." Jawab Wulan ketus. Namun tidak membuat Juna marah. Dia malah makin senang menggoda istrinya.
"Sayang, makan disini saja lah." Seketika langkah Wulan terhenti. Bukan karena permintaan Juna, namun berubahnya nama panggilan yang Juna lontarkan. Dia memandang miring sang suami yang sedang senyum senyum genit kearahnya.
"Kenapa? Nggak mau dipanggil sayang? Nggak perlu nolak." Tukas Juna.
"Kenapa nggak makan di dalam saja?" Balas Wulan. Mana mungkin dia berani protes karena Juna memanggil dia sayang.
__ADS_1
"Baiklah jika istriku memaksa, aku bisa apa." Ucap Juna asal dan dia melenggang duluan masuk ke dalam rumah meninggalkan Wulan yang semakin kesal karena tingkah suaminya.
"Ih, nyebelin banget. Pengin aku jadiin rujak itu muka." Sungut Wulan sesaat sebelum dia beranjak menyusul sang suami.
Dan kini terlihat Wulan sedang melayani sang suami dengan mengambil sepiring nasi dan lauk pauk dengan wajah ketus. Sedangkan Juna masih mengulum senyum menatap sang istri yang terlihat sangat menggemaskan.
"Bapak, ibu, nggak makan sekalian?" Tanya Juna kepada kedua orang tua Wulan yang sedang istirahat di depan tv tak jauh dari keberadaannya.
"Kita sudah, Jun. Kamu makan saja. Jangan sungkan. Anggap aja rumah sendiri." Jawab Bapak.
"Adikmu mana? Udah makan?" Tanya Juna disela sela menikmati santapannya.
"Di kamar mungkin. Dia mah makannya nggak tentu. Sesuka hati dia." Jawab Wulan dan Juna hanya manggut manggut.
Dan obrolan ringan pun terjadi menemani acara makan mereka. Kebanyakan Juna yang melontarkan pertanyaan karena yang dia tanyakan seputar keluarga Wulan dari saudara suadara Wulan hingga ke hal yang lainnya. Wulan juga tidak keberatan menjawabnya dan hal itu membuat mereka semakin terlihat dekat.
Acara makan bersama selesai, kini Juna beranjak mendekat ke arah mertuanya berada. Sedangkan Wulan membereskan apa yang ada di meja makan dan membawa yang kotor ke tempat pencuci piring.
__ADS_1
"Bapak sama ibu nggak istirahat?" Tanya Juna begitu dia mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di depan tv.
"Belum ngantuk, Jun. Ini juga sama saja kan sedang istirahat." Balas sang Bapak dan Juna mengulas senyum. Dia pun melontar pertanyaan kembali dan terjadilah obrolan ringan antara Juna dan mertuanya.
Wulan yang sudah selesai dengan acara bersih bersihnya tertegun melihat Juna yang sudah nampak akrab dengan kedua orang tuanya. Pikirannya seketika teringat masa lalu dimana mantan suaminya dulu tidak pernah terlihat mengobrol dengan orangtuanya sehangat yang dia lihat saat ini. Mantan suaminya selalu bersikap seperti menjaga jarak. Wajar jika dulu keluarga besarnya tidak menyukai mantan suami, sifatnya berbeda jauh dengan Juna yang tidak terlihat canggung sama sekali ngobrol sama orang tuanya.
Wulan beranjak menuju ke arah depan tv dan bergabung dengan Juna dan orang tuanya. Wulan duduk disebelah suaminya. Mereka saling tanya jawab bahkan gelak tawa pun sesekali terdengar.
"Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Kita juga mau tidur, capek." Ucap Bapak setelah kehabisan bahan obrolan.
"Iya Pak, silahkan." Ucap Juna dan mertuanya pun beranjak meninggalkan Wulan dan Juna.
Suasana mendadak hening. Tiba tiba detak jantung Wulan berubah makin cepat. Dia merasa udaranya mendadak berubah gerah. Pikirannya pun kacau dan tak tenang. Hal itu terjadi lantaran Juna sedang menatapnya dengan senyum senyum nakal. Wulan tahu betul apa arti senyum itu. Bulu kuduknya makin meremang saat ada bisikan yang membuat jiwanya bergetar.
"Saatnya kita begadang, Sayang!"
...@@@@@...
__ADS_1