ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Rejeki Anak Baik..


__ADS_3

"Mba Risma!" Pekik Dodit.


Di sana. Di atas ranjang, perempuan yang dia cari sedang asyik mndengarkan musik melalui headphonenya. Bukan itu yang membuat Dodit terkejut, Tapi apa yang sedang perempuan itu kerjakan.


Sementara itu perempuan yang sedang bernyanyi mengikuti lagu yang didengarnya tak sengaja mendongak. Dia pun tak kalah terkejut begitu matanya menangkap pemuda yang mematung dihadapannya.


"Dodit!" Pekiknya.


Seketika Dodit berbalik badan dan Risma menyambar selimut yang berada disebelahnya untuk menutupi tubuhnya.


"Maaf, Mba, maaf, nggak sengaja lihat." Ucap Dodit dan dia segera beranjak dengan langkah cepat.


Jantung pemuda itu berdegup kencang, nafasnya memburu tak beraturan. Bahkan lututnya pun terasa lemas. Segera saja dia duduk di kursi tamu. Dodit benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Sebuah keindahan tersembunyi milik seorang wanita dengan rerumputan yang tumbuh di sekitarnya. Terlihat di sana rumput rumput itu sedang dirapikan oleh pemiliknya. Terpampang jelas di depan mata pemuda itu. Pemandangan indah yang baru pertama kali dia lihat secara nyata selama terlahir sebagai seorang pria.


Tak selang berapa lama, pemilik rumah pun keluar dan dia kini sudah terlihat berbusana. Rasa akrab yang biasa terjalin diantara keduanya seketika seakan menguap menjadi rasa canggung akibat kejadian yang hanya berlangsung beberapa detik saja.


Dodit tak berani menatap Risma dan wanita tersebut juga bingung serta salah tingkah.


"Kamu kenapa langsung masuk saja sih, Dit?" Tanya Risma agak ketus untuk menutupi rasa malunya.


"Maaf, mba. Tadi pintunya terbuka lebar dan aku sudah teriak teriak menggil Mba Risma, nggak ada sahutan." Jawab Dodit apa adanya. Dan tentu saja Risma terkejut mendengar apa yang dikatakan anak muda dihadapannya.


"Yang bener, Dit?" Tanyanya tak percaya.


"Iya, Mba, makanya aku langsung masuk saja."


"Ya kan kamu masih bisa teriak, Dit. Nggak harus masuk ke dalam." Ucap Risma lagi.


"Aku sudah teriak berkali kali, Mba. Aku pikir mba Risma di dapur soalnya aku denger suara Mba Risma lagi nyanyi." Bela Dodit.


"Benarkah? berarti aku yang teledor dong?" Tanya Risma merasa bersalah.


"Mungkin mba." Jawab Dodit tersenyum canggung.


"Aku pikir tadi pintu sudah aku kunci, Dit." Ucap Risma.


"Buktinya aku bisa masuk, Mba. Biasanya aku juga nggak bisa masuk kan?" Ucap Dodit dan Risma pun percaya. Biar bagaimanapun memang Dodit tidak bersalah.


"Iya sih. Maaf ya, Dit. Tadi aku lagi dengerin musik keras banget jadi nggak denger suara kamu." Sesalnya.


"Nggak apa apa kok mba, aku yang minta maaf, karena udah.."


"Udah lupakan. Angap aja kamu dapat rejeki." Sambar Risma memotong pembicaraan Dodit dan pemuda itu hanya tersenyum canggung.


"Semuanya berapa dit?" Tanya Risma selanjutnya.


Dodit mengeluarkan catatan dari sakunya dan menyerahkan cacatan itu ke perempuan di hadapannya. Setelah membaca catatan itu, Risma langsung membuka dompet yang dia bawa dan mengeluarkan sejumlah uang.


"Nih Dit, kembaliannya buat kamu saja. Buat beli bakso." Ucap Risma sembari menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah.


"Wah, makasih, Mba. Kalau begitu saya permisi." Pamit Dodit.

__ADS_1


Dia segera berdiri dan setelah bersalaman, Dodit beranjak keluar dan menyalakan mesin motornya.


Sepanjang perjalanan senyum Dodit terus terkembang. Bahkan dia juga berdendang.


"Indahnya, indahnya, aduhai."


Berbeda dengan Dodit yang baru mendapat rejeki tak terduga, suasana tegang justru sedang terjadi pada sepupunya.


Saat ini Melati sedang berada di rumah Jaka berhadapan dengan emak dan juga bapak. Rasa canggung dan gugup jelas sekali terlihat diwajah cantik janda itu.


Sementara kedua orang tua Jaka memandang sang wanita dengan penuh tanda tanya. Karena mereka merasa mengenali wanita yang sekarang menjalin asmara dengan anak keduanya.


Sedangkan Jaka, senyumnnya terus terkembang melihat pemandangan dihadapannya.


"Nama kamu siapa nduk?" Tanya emak mencairkan suasana.


"Melati bu."


"Kenal di mana sama Jaka?" Tanya emak lagi.


"di pasar, bu." Dan jelas sekali jawaban itu adalah dusta. Namun bagaimana lagi, dia juga tidak berani jujur tentang awal mereka pacaran.


"Kamu punya utang sama Jaka?" Pertanyaan emak terus mengalir.


"Engak, Bu. Kebetulan Jaka kalau sedang narik seseorang, ketemunya di depan toko saya jadi saya sering lihat dia." Jawab Melati dan Jaka yang memang sudah memberi arahan Jika ada pertanyaan seperti itu terlihat senyum senyum sendiri.


"Kamu punya toko?" Gantian Bapak yang melempar pertanyaan.


"Toko apa?"


"Toko bahan bahan kue, Pak."


"Oh" Jawab Bapak singkat dan kepalanya manggut manggut.


"Aku kayak pernah lihat kamu, tapi dimana yah?" Tanya Bapak lagi.


"Di rumah Bang Jati, Pak. Waktu Bang Jati sedang kerja bakti kemarin." Celetuk Jaka dan seketika mata bapak berbinar.


"Ah iya, apa sejak itu kalian pacaran?" Tanya Bapak.


"Bukan pak tapi sebelumnya. Cuma maaf saat itu kami masih merahasiakan hubungan kami." Jawab Melati dan kali ini benar adanya.


"Katanya kamu janda?" Tanya Emak dan Melati menggangguk tanpa bersuara. Dia hanya mengeluarkan senyum manisnya untuk menjawab pertanyaan tentang statusnya.


"Janda mati atau janda cerai?"


"Janda cerai, Bu." Jawab Melati dan dahi emak langsung berkerut.


"Loh kok bisa? Apa ibu boleh tahu kenapa dulu kamu bercerai?"


Melati kembali mengangguk dan dengan senang hati, Melati menceritakan apa yang dia alami.


Bapak yang mendengar cerita Melati sedikit tercengang. Terlihat disana bapak seperti mengingat ingat sesuatu.

__ADS_1


Di saat percakapan yang lainnya sedang berlangsung, Jati beserta istri dan anaknya terlihat datang kerumah emak.


"Eh, ada tante Mel." Ucap Altaf ketika anak itu baru saja masuk ke dalam rumah.


"Hallo, Altaf, Wah makin ganteng aja keponakan tante." Puji Melati.


Jati dan Yanti juga sama sama menyapa Melati. Tentu saja emak dan bapak merasa heran dibuatnya. Sepertinya Jati dan Yanti sudah mengetahui hubungan adiknya. Itulah perkiraan yang muncul dalam pikiran emak dan juga bapak.


"Kalian terlihat akrab banget sama pacarnya Jaka?" Tanya emak kepada kepada anak dan menantunya.


"Ya akrab lah, Mak. Aku sama Melati kan sahabatan. Kita juga tetanggaan." Jawab Yanti.


"Tetanggaan?" Tanya emak semakin penasaran.


"Iya, Mak. Kita kan umahnya berhadapan."


"Kok bisa kebetulan gitu?" Tanya Bapak yang merasa heran.


"Ya aku juga heran, Pak. Melati ini, anak bungsunya pakde Haryo, Pak. Yang rumahnya seberang jalan rumahku itu." Terang Yanti.


"Apa!" Pekik bapak terkejut dengan apa yag didengarnya.


"Kenapa bapak berteriak?" Tanya Jaka heran dan tentu saja bukan Jaka saja yang heran. Begitu juga Melati dan yang lainnya.


Namun bapak tak langsung jawab pertanyaan Jaka. Dia malah terdiam dengan menatap tajam Melati hingga membuat yang ditatap semakin salah tingkah.


"Hahahhaa.." Tiba tiba tawa bapak pecah mengagetkan semuanya.


"Bapak kenapa malah ketawa? Ada yang salah?" Tanya jaka semakin merasa heran dengan sikap bapaknya.


"Bilang sama orang tuamu, minggu depan Jaka akan datang melamarmu."


"Apa!!!"


...@@@@@@...


Aduh Dodit, kamu beruntung sekali sih? Hmm. Ini aku kasih visual yang menurutku cocok ya? menurut haluku loh. Jangan lupa dukungannya, oke.


Dodit



Risma



Bang Jati



Yanti


__ADS_1


__ADS_2