ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Kembali Pulang..


__ADS_3

"Tejo! Ninis! Kok bisa?" Pekik Jaka.


Sementara Tejo dan Ninis terkesiap melihat Jaka berada di warung bakso tersebut.


"Kamu kenal, Mas?" Bisik Melati sambil melingkarkan tangannya di lengan Jaka karena dia melihat mata perempuan yang Jaka kenal sedang menatap suaminya.


"Yang pria kamu ingat nggak? Waktu kita berkunjung ke salon?" Melati nampak manggut manggut mendengar pertanyaan Jaka. Dahinya sedikit berkerut, tanda kalau dia sedang berpikir. "Kalau yang perempuan, salah satu janda yang dulu pernah dekat waktu kita baru kenal, Yang?" sambung Jaka lagi.


"Tapi kok mereka bisa saling kenal?" Tanya Melati penasaran.


"Ya aku nggak tahu, lagian nggak penting juga kalau aku tahu," Cibir Jaka.


Sementara di tempat yang sama amarah warga makin menjadi dan mereka bertekad akan menikahkan mereka dengan paksa.


Jaka hanya memandang prihatin ke arah mereka. Benar benar mereka tidak bisa mengendalikan hasrat sampai harus bermain di pojokan lapangan. Apa lagi bermainnya di pojokan lapangan desa lain yang bukan tempat asal mereka berdua, tentu saja warga sekitar tampak geram.


Kini, Ninis dan Tejo di paksa menunjukan tempat tinggal masing masing dan beberapa warga nampak pergi menggunakan motor menjemput orang tua Ninis dan Tejo.


Sementara Jaka dan Melati, memilih pulang setelah membayar bakso. Bergegas mereka masuk mobil dan segera melajulan mobilnya meninggalkan kerumunan.


Di tempat lain, sepasang suami istri beda usia juga nampak baru sampai rumah setelah melakukan pemeriksaan dan mampir ke mini market buat beli susu ibu hamil dan keperluan lainnya.

__ADS_1


Dengan lengan kekarnya, sang suami menenteng dua kantung plastik berisi penuh belanjaan, sedangkan sang istri mengekor di belakangnya.


"Gimana, Ris? Positif?" Tanya sang ibu yang sedang duduk santai di depan tv.


"Alhamdulillah, Bu. positif." Balas Risma yang langsung duduk di sebelah ibunya. Sedangkan Dodit lagi menaruh barang dan memindahkannya sesuai tempat yang sudah di sediakan.


"Jangan terlalu capek, makan makanan yang bergizi pula," Nasehat ibu kepada sang putri dan Risma hanya mengiyakan.


Setelah semuanya beres, Dodit pun ikut duduk di kursi yang berbeda tapi masih sama dekat ruang televisi. Melihat sang suami sudah duduk, Risma langsung pindah dan menempel pada suaminya.


"Sayang, malu ih, ada Ibu," Pekik Dodit.


"Nggak apa apa, Dit. Beruntung Risma ngidamnya bau kamu, coba kalau bau orang lain? Bisa kalang kabut kamu," Ucap sang ibu sambil mesam mesem.


Sang ibu juga merasa heran. Dulu, saat pernikahan yang pertama, Risma tak kunjung di kasih momongan hingga sang suami selingkuh dan berpikir kalau Risma mandul dan Risma diam diam sering diperlakukan buruk oleh suaminya.


Namun kini, Ibu merasa Risma sangat bahagia dengan suaminya. Walaupun mereka menikah karena keadaan, namun tak sedikitpun terlihat kecanggungan diantara keduanya. Dan yang lebih menakjubkan, setelah tiga bulan pernikahan, mereka dikaruniai buah hati. Hal itu mematahkan tuduhan sang mantan suami. Apa lagi Dodit, meski pun usianya lebih muda, malah terlihat sangat bertanggung jawab dan menyayangi Risma sepenuh hati. Bagi sang ibu, dia sangat bersyukur dengan kebahagiaan mereka.


"Ya sudah, Ibu pulang dulu, yah? Besok ibu kesini lagi," Ucap ibu sambil bangkit berdiri.


"Biar Dodit antar ya, Bu?" Tawar Dodit ikutan berdiri bersama Risma.

__ADS_1


"Nggak usah! Kalau kamu yang nganter ibu? Siapa yang bakal nemenin Risma?" Tanya Ibu sembari melangkah menuju ruang tamu.


"Ah, iya. Ya udah, aku panggilin ojeg dulu." Ucap Dodit dan dia bergegas keluar rumah memanggil ojeg yang biasa mangkal di pertigaan tak jauh dari rumahnya. Sedangkan ibu mertua dan Risma menyusulnya di belakang.


Tak lama kemudian, ibu pun sudah pergi menuju rumahnya. Kini Dodit dan sang istri kembali masuk rumah.


"Yang, dulu pas kamu nikah yang pertama kok bisa nggak hamil? Sedangkan sama aku, secepat ini? Apa dulu mantan suami kamu ada masalah?" tanya Dodit sambil melepas baju terus merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ngak tahu, Mas." jawab Risma singkat. Dia segera saja menempelkan lubang hidungnya ke kulit ketiak sang suami.


"Baunya enak, Yang?" Tanya Dodit sambil melirik istrinya.


"Enak banget," Lagi lagi Risma menjawab dengan singkat.


"Terus aku mandinya kapan ini?" keluh Dodit.


"Besok pagi aja, Mas. Pas mau berangkat kerja, nyari keringat yang banyak." jawab Risma asal. Dodit tergelak sejenak.


"Baru denger loh, Yank, orang nyari kerja agar dapat keringat banyak bukan uang yang banyak," tukas Dodit.


"Ya nggak apa apa, ini kan buat anak kamu juga, masih di dalam perut aja sudah deket sama ayahnya, gimana nanti kalau keluar," Senyum Dodit tersungging mendengar kata ayah dari bibir sang istri. Hatinya menghangat dan merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Ayah, aku akan jadi ayah,"


...@@@@@...


__ADS_2