
Ting.
Sebuah nada pesan masuk terdengar dari ponsel ya terselip di dalam laci. Sang pemilik ponsel yang memang sedang duduk di tempat biasa segera membuka laci dan mengambil ponselnya. Di nyalakan layar ponsel itu dan dibuka aplikasi chatnya.
Lelakiku. Nama kontak yang mengirim pesan chat. Seketika bibir pemilik ponsel itu tersenyum dan segera membaca pesan caht tersebut.
"Lagi ngapain, Yang? Jangan lupa makan?" Sebuah pertanyaan sederhana dan sangat biasa namun begitu berharga bagi jiwa jiwa yang dilanda cinta.
"Lagi duduk santai ini. Kamu dimana, Yang? udah dapat barang barangnya?" Balasnya dan dia langsung mengirim pesan tersebut.
Tak perlu menunggu lama balasanpun datang.
"Belum semua, Yang. Ini mau makan dulu sama bang Jati." Dan Wanita itu segera membalas lagi.
"Ya udah, hati hati. Jangan lupa nanti sore."
"Iya, sayang. Ya udah aku makan dulu, dah, sayang, muach."
Dan berbalas chat singkat pun terhenti.
Jaka hari ini sedang pergi bersama abangnya mencari sesuatu yang berhubungan dengan perbengkelan. Niatnya membuka usaha benar benar harus serius dia lakukan. Apa lagi dia sedang dalam rangka mengumpulkan modal untuk meminang sang janda idaman.
Sedangkan sang wanita, kini juga nampak sibuk melayani beberapa pembeli di tokonya.
Sekarang tinggal Melati yang hatinya berdebar tak karuan. Hari ini adalah rencana dia berkunjung ke rumah Jaka. Tentu saja dia sangat gelisah. Meski Jaka bahkan Yanti telah memberi keyakinan kalau orangtua Jaka bakalan menerimanya, namun tetap saja rasa gugup menderanya sebelum dia sendiri mendengar langsung dari sumbernya.
"Dit, itu pesenan Risma sudah kamu siapkan?" Tanya Melati setelah selesai melayani pembeli dan kini dia kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Bentar lagi mba, ini nanggung." Jawab Dodit yang sedang mengemas gula pasir dalam ukuran setengah kilo.
Risma. seorang janda yang usianya tidak jauh dari Melati. Dia bercerai karena faktor ekonomi dan perselingkuhan juga. Di tambah tindakan KDRT yang kerap dia terima membuat dia mau tak mau menggugat cerai suaminya. Pernikahan yang baru berjalan tiga tahun kandas karena tak tahan dengan sikap laki laki yang ternyata manis di saat pacaran.
Kini Risma menjadi sosok mandiri yang sedang mengembangkann usaha. Janda yang belum dikaruniai anak itu memiliki hobbi membuat jajanan. Jadi ketika janda menjadi statusnya, dia tidak kebingungan mencari jalan rejeki. Dan justru setelah dia usaha sendiri, dia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan keluarganya.
__ADS_1
Berbekal warisan dari keluarganya, Risma membangun tanah yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu juga menjadi tempat usahanya mengolah berbagai jajanan seperti onde onde, donat, odading, molen dan lain sebagainya yang nantinya akan di bawa beberepa orang untuk dipasarkan dengan sistem bagi hasil.
Dodit adalah salah satu pemuda yang terpesona dengan janda bernama Risma itu. Pemuda yang sering patah hati karena cintanya kandas, kini mengagumi janda yang sering memberi dia perhatian. Risma memang wanita yang sangat perhatian. Bukan hanya ke Dodit saja, tapi kepada setiap orang yanng merasa dekat dengan dia. Dan perhatian itu membuat Dodit terkesima.
"Rambutnya di rapiin sih, Dit. Biar kelihatan cakep."
"Rokoknya dikurangi, daripada buat rokok mending uangnya di tabung."
"Kamu sudah makan belum? Mending makan dulu sini sebelum pulang. Mba masak banyak tuh."
Itulah beberapa bentuk perhatian yang sering Dodit terima dan bahagianya lelaki adalah ketika ada yang memberi perhatian kepada mereka.
Setiap disuruh mengantar pesanan Risma, Dodit selalu nampak bersemangat. Sebelum menjadi pelanggan Melati, Risma selalu belanja di toko lain. Namun sejak toko Melati berdiri dan harganya berbeda dengan toko lain, Risma pindah haluan. Dan dari sanalah Melati dan Risma saling kenal.
"Kamu sudah makan belum, Dit?" Tanya Melati.
"Bentar lagi mba." Jawab Dodit sembari menunjukkan pekerjaannya.
"Oh. Eh Dit, kayaknya kita tutup agak awal deh."
"Mba ada acara. Nanti motor bawa kamu dulu aja ya?" Ucap Melati.
"Lah Mba Mel nanti pulangnya gimana?"
"Aku ada yang nganter. Nanti kamu pulang dulu aja. Tapi jangan lupa pesanan Risma."
"Mba pulang kerumah lama apa baru mba?"
"Nggak tau nanti, Dit. Penginya sih kerumah baru." Jawab Melati.
"Terus motornya?"
"Nanti aku chat kamu deh."
__ADS_1
"Baiklah terserah Mba Mel aja." Dan Dodit kembali melanjutkan pekerjaan.
###
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini Melati terlihat sedang bersih bersih toko karena toko akan segera tutup dan juga sambil menunggu sang kekasih yang katanya sedang mandi dan sebentar lagi akan menjemputya.
Sedangkan Dodit. Kini sedang dalam perjalanan menuju rumah wanita idamannnya. Dia selalu bersemangat jika disuruh Melati mengantar barang ke sana. Entah itu karena perasaan cinta atau kagum semata, yang pasti Dodit sangat nyaman jika bersapa dengan Risma
Tak butuh waktu lama, Dodit telah sampai di tempat tujuan. Namun dirinya terkejut saat sampai di sana rumah Risma terlihat sepi namun pintunya terbuka.
Tempat tinggal Risma memang berada dikomplek yang terlihat sepi. Meski rumah tetangga sangat berdekatan, tapi entah kenapa daerah ini seperti tidak ada kehidupan. Apalagi hampir semua rumahnya bertembok setinggi badan dangan pintu gerbang. Meski bukan perumahan mewah namun sungguh tempat ini seperti tak berpenghuni.
Begitu motor terparkir, Dodit segera saja turun dengan membawa dua dus barang pesanan pemilik rumah.
"Permisi, mba! mba risma!" Panggil Dodit namun tak ada jawaban dari dalam.
Melihat pintu yang terbuka mau tidak mau Dodit pun masuk dan meletakkan barang pesanan di lantai dekat kursi seperti biasa. Dodit tak mungkin pergi karena dia belum menerima uang dari barang pesanan Risma seperti biasa.
Namun dari ruang tamu sayup sayup Dodit mendengar suara perempuan sedang bernyanyi. Dodit jadi bertanya tanya suara siapa itu?
"Mba! Mba Risma!" Teriak Dodit lagi namun tetap tidak ada jawaban. Sedangkan suara orang bernyanyi terdengar jelas dari arah dalam.
Karena rasa penasaran, Dodit memberanikan diri masuk ke dalam. Dia mengira mungkin Risma berada di dapur, jadi tak mendengar suara memanggil
Perlahan Dodit melangkah memasuki rumah Risma lebih dalam dengan pandangan berkeliling.
Begitu masuk ruang tengah, Dodit semakin merasa heran. Suara orang bernyanyi tersebut ternyata berasal dari dalam kamar yang pintunya terbuka tak jauh dari tempat Dodir berada.
"Mba, mba Risma! Mba Risma di dalam ngga?" Panggil Dodit lagi dan tetap saja tak ada sahutan. Padahal suara menyanyi itu jelas banget suara perempuan yang Dodit cari.
Melihat pintu kamar terbuka, Dodit memberanikan diri mendrkati kamar tersebut karena suara wanita berrnyanyi dari dalam sana.
Begitu sampai di depan kamar dan Dodit memutar kepala. Matanya seketika membulat sempurna dengan apa yang dia lihat. dadanya pun berdegup kencang.
__ADS_1
"Mba Risma!"
...@@@@@...