ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Empat Lawan Satu..


__ADS_3

Malam kini kian larut, beberapa nafas saat ini sedang terpejam melepas lelah hari ini dan mempersiapkan tenaga untuk hari esok. Ada pula orang orang yang malam ini masih terjaga. Bahkan tak sedikit pula orang yang menghabiskan waktu malamnya untuk mengais rejeki.


Diantara orang orang yang masih terjaga yang tersebar di berbagai wilayah bumi itu, ada sepasang manusia yang baru saja melaksanakan akad sedang berbagi keringat dari dalam kamarnya. Rintihan rintihan nikmat yang tidak terlalu keras menambah panasnya udara yang sebenarnya terasa dingin.


Di atas ranjang sana, seorang perempuan sedang menggeliat geliatkan badannya tak tentu arah menikmati setiap gerakan maju mundur pinggang dari seorang pria yang menekuk lutut diantara kedua kaki yang telentang milik wanita itu.


Sodokan pelan dari sesuatu yang menegang dan mengeras milik sang pria benar benar membuat sang wanita melambung tinggi merasakan nikmat yang sudah lama dia tidak rasakan. Apalagi jika matanya memandang wajah tampan sang pria yang kini sudah sah menjadi suami barunya dengan badan yang begitu menawan membuat hasratnya semakin tinggi bergelora.


Dan malam ini dia tidak perlu lagi menggunakan tangan sendiri untuk menuntaskan hasrat sambil membayangkan seseorang karena orang itu sudah sah menjadi suaminya dan saat ini sedang mewujudkan angannya yang dia pendam.


Juna, nama pria itu, benar benar sangat menikmati gerakan meliuk meliuk sang istri yang semakin liar akibat sodokan yang sedang dia lakukan. Tangan kirinya memegang pangkal kaki sang istri yang begitu halus dan tangan kanannya memijat dan menekan ujung daging yang terbelah dimana dalam belahan itu, dia sedang mengobrak abrik dengan sodokan pelan.


Eenakk banget, Mas!" Pekik Wulan pelan dan pekikan itu membuat Juna mengulum senyum.


Setelah cukup lama berlutut, kini Juna mulai merangkak di atas tubuh sang istri. Arah pandangnya berhenti pada dua kembar yang ikut bergetar akibat sodokan di bawah sana. Langsung saja mulut Juna menerkam dua bukit itu dengan rakusnya secara bergantian. Tak lupa pula, Juna memberi tanda merah di sekitar bukit kembar tanpa terkendalikan.


Dengan gerakan yang masih sama, kini Juna mengarahkan kepalanya hingga menghadap wajah sang istri. Angan Wulan benar benar menjadi kenyataan. Detik ini, dia berada di dalam kungkungan tubuh kekar milik Juna dengan mata yang saling adu pandang.


Juna memajukan wajah dan diserangnya bibir Wulan dengan bibirnya. Wulan pun tak diam saja. Dia membalas serangan bibir itu dengan liar.

__ADS_1


"Enak, Sayang?" Bisik Juna dan Wulan hanya mengangguk. Juna menyunggingkan senyum. "Lebih enak mana dengan mantan suami kamu?"


"Enak kamu, Mas." Jawab Wulan agak terbata. "Punya kamu lebih gede dan tidak bengkok." Juna tertawa lirih mendengar jawaban dari Wulan kemudian dia kembali menyerang bibir Wulan.


"Sodoknya dipercepat, Mas?" Pinta Wulan.


"Dengan senang hati, Sayang." Ucap Juna dan dia langsung mengabulkan permintaan sang istri.


Gerakan pingggang itu semakin cepat dan ternyata beberapa menit kemudian tubuh Wulan kembali bergetar hebat bersamaan lenguhan panjang. Ada rasa hangat didalam sana yang Juna rasakan. Senyumnya kembali tersungging. Sang istri telah meraih puncak dua kali.


Juna menaruh kepalanya di ceruk leher sang istri dan Wulan melingkar di leher Juna.


"Belum, kenapa, Sayang?" Tanya Juna.


"Kuat amat! Aku sudah tiga kali." Lagi lagi Juna tersenyum dan dia menyatukan bibirnya kembali.


"Nggak apa apa, asal kamu puas, Sayang." Kini Wulan yang tersenyum dan untuk ke sekian kalinya bibir mereka kembali beradu.


Juna mengeluarkan sejenak betutunya dari dalam lubang. Dia meminta berganti posisi. Juna merebahkan badannya dibelakang Wulan. Dengan posisi miring, Juna kembali menghujamkan betutu yang besar ke dalam lubang indah milik sang istri lewat belakang.

__ADS_1


Pinggang Juna kembali bergerak maju mundur. Tangannya menggenggam penuh bukit kembar milik Wulan bergantian dan ditempelkannya kepala mereka.


Suara racauan Wulan terus bergema. Dia sangat menikmati setiap sodokan yang Juna lakukan. Bagi Wulan, punya Juna memang berbeda dengan milik mantan suaminya dulu. Makanya dia begitu sangat menikmati permainan ini meski di awal Wulan sedikit jual mahal.


Beberapa menit berlalu, lagi lagi tubuh Wulan bergetar hebat dan Juna kembali merasakan kehangatan di dalam sana.


"Keluar lagi?" Bisik Juna.


"Hu'um." Jawab Wulan dan Juna hanya menyunggingkan senyum tanpa berniat menghentikan gerakan maju mundurnya.


Juna sejenak mengeluarkan betutunya dan dia kembali ke posisi yang sama seperti di awal permainan.


Kaki Wulan telentang cukup lebar dan Juna langsung menancapkan betutunya ke dalam lubang. Gerakan perlahan itu berubah semakin cepat dengan kedua tangan Juna memegang pinggang Wulan.


Gerakan maju mundur yang semakin cepat membuat sesuatu yang ada di dalam betutu melesak ingin keluar. Dan saat dia menyodok lebih dalam, tubuhnya bergetar dan betutunya berdenyut kemudian meludahlah betutu itu di dalam lubang yang rimbun. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Wulan juga bergetar kembali di iringi lenguhan panjang.


Nafas Juna tersengal sengal, tanpa berniat mengeluarkan betutu dari sarangnya, tubuh Juna ambruk di atas tubuh sang istri yang sama sama menderu laju nafasnya.


"Ronde pertama sukses."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2