ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Malam Panjang..


__ADS_3

"Aku langsung pulang aja ya?" Pamit Jaka begitu sampai di pelataran rumah lama Melati.


Wanita itu nampak cemberut. Dia ingin pulang ke rumah baru. Rumahnya sendiri. Bukan karena ingin mengulang kejadian dengan kekasihnya, namun juga karena di rumah lama ada yang membuatnya tidak betah. Siapa lagi kalau bukan sepupu dan suaminya.


Dari dulu sebelum mengenal Jaka, Melati selalu pulang di rumahnya sendiri. Meskipun ada acara di rumah lama, Melati tetap akan kembali ke rumahnya. Melati selalu merasa, Siti senang sekali bertindak yang membuat Melati sakit hati.


"Kenapa cemberut?" Tanya Jaka heran.


"Nggak apa apa, pulanglah, sudah malam." Jawab Melati.


"Marah? Karena nggak pulang ke rumah baru?" Tanya Jaka yang masih setia duduk di atas motornya.


"Engga, biasa aja." Jawab Melati datar. Jaka tersenyum simpul. Tangannya terangkat meraih tangan Melati dan menggenggamnya erat.


"Ya, udah, Ayok pulang ke rumah baru." Ajak Jaka.


"Nggak usah! Nggak perlu! Sanah, katanya mau pulang?" Balas Melati. Jaka menghembuskan nafasnya.


"Bukannya aku nggak mau mengantar kamu pulang ke rumah baru. Disana kamu sendirian, nggak ada yang jagain, ntar yang ada aku ingin nginep. Sedangkan hubungan kita sudah diketahui oleh orang tua kita dan mereka tahu kita pergi bersama. Nanti jika mereka tanya yang macam macam gimana?" Terang Jaka. Melati tak merespon, dia hanya diam saja.


Hati Jaka akhirnya gundah sendiri. Dia turun dari motor dan menarik tubuh kekasihnya kedalam pelukan.


"Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi ini untuk kebaikan kita." Ucap Jaka.


"Iya." Jawab Melati singkat.


"Jawabnya kayak nggak ikhlas banget." Gerutu Jaka sembari melepas pelukannya.


"Iya,iya. Udah sana! Katanya pulang? Ucap Melati.


"Beneran? Boleh pulang?" Tanya Jaka memastikan dan Melati mengangguk.


"Udah nggak marah?" Dan Melati menggeleng.


"Beneran?" Melati mendelik dan Jaka tertawa renyah.

__ADS_1


"Oke, oke, aku pulang, salam buat bapak dan ibu, maaf nggak bisa mampir." Dan Melati mengangguk.


Jaka segera menaiki motornya dan setelah pamit sekali lagi, motor Jaka pun mulai melaju di iringi senyuman Melati.


Setelah motor Jaka menghilang, Melati memutar arah dan melangkah menuju rumah. Namun sebelum masuk tiba tiba langkah Melati terhenti saat dia mendengar.


"Sebaiknya kamu pikir ulang hubunganmu dengan Jaka." Melati memalingkan wajahnya ke sumber suara. Dahinya berkerut. Terlihat mantan suaminya berdiri tak jauh dari dirinya.


"Maksudmu?" Tanya Melati ketus.


"Jaka bukan pria yang baik." Jawab Malik dengan wajah nampak sangat serius.


"Maksudmu apa?" Tanya Melati emosi.


"Jaka bukan pria yang baik untuk kamu, Mel. Dia wanitanya banyak. Di belakang kamu bahkan dia janjian ketemuan sama wanita lain." Jawab Malik.


"Terus menurutmu? Laki laki yang baik yang seperti apa? Seperti kamu? Yang main dikamar dengan perempuan lain? Meski perempuan itu bersaudara? Iya!" Tanya Melati. Dia benar benar geram dengan sikap mantan suaminya itu. Melati tak habis pikir dengan pikiran pria yang pernah dia cintai.


Malik terbungkam. Dia tidak bisa membalikkan ucapan Melati. Dia selalu melihat sorot kebencian di mata mantan istrinya itu.


"Kenapa kamu masih sangat membenciku, Mel? Tak bisakah kamu memaafkan aku dan kembali mengulang kisah kita?" Gumamnya.


Begitu masuk rumah, Melati terdiam sejenak di dinding pintu. Dadanya bergemuruh. Dia tidak pernah habis pikir. Mantan suaminya selalu saja mencampuri urusan pribadinya.


"Sudah pulang, Mel?" Tanya Bapak tiba tiba hingga Melati terkejut. Terlihat disana, bapak keluar dari kamar.


"Sudah, Pak." Jawab Melati sembari mengurai rasa gemuruhnya kemudian dia melangkah menuju kursi tamu.


"Jaka tidak mampir?" Tanya Bapak lagi yang juga duduk di hadapan Melati.


"Sudah malam, nggak enak katanya." Jawab Melati.


"Hm, ya sudah, bapak tanya kamu saja."


"Tanya apa, Pak?" Tanya Melati penasaran.

__ADS_1


"Tadi, Siti bilang katanya denger ada perempuan yang ngaku ngaku di ajak ketemuan sama Jaka." Melati semakin mengerutkan dahinya.


"Siti denger dari mana, Pak?" Tanya Melati yang hatinya semakin geram mendengar pertanyaan dari bapaknya.


"Dari salon atau darimana tadi, seingat bapak sih dari salon. Bapak mau tanya langsung malah Jaka tidak mampir." Jawab Bapak. Mata tuanya menatap lekat sang putri yang nampak gusar.


"Yang suka sama Jaka memang banyak banget, Pak. Tadi aja aku denger sendiri perempuan yang ngaku ngaku mau ketemu Jaka waktu di pasar. Apa bapak juga meragukan Jaka?" Selidik Melati.


"Bapak tidak meragukan Jaka, cuma bapak kepikiran kamu." Jawab Bapak. Matanya nyalang menatap putrinya yang nampak menahan emosi.


"Bapak jangan terlalu mikirin aku, Pak. Aku bisa menjaga diri. Tentang Jaka, biar nanti aku aja yang tanya. Sekarang aku mau ke kamar dulu, Pak. Capek." Ucap Melati dan bapak hanya mengangguk saja tanpa bersuara.


Melati pun beranjak ke kamarnya. Setelah di kamar, dia kembali terdiam dan meluruhkan tubuhnya di lantai bersandar pintu.


Dia mengambil ponsel di dalam tasnya kemudian menuju menu galeri. Di lihatnya foto kebersamaannya bersama sang kekasih. Senyumnya sedikit merekah.


"Apa ketampananmu akan selalu menjadi masalah, Jak?" Gumam Melati.


Sementara di kamar yang berbeda, di rumah yang berbeda pula. Jaka langsung merebahkan tubuhnya di kasur busa. Rasa lelah dan bahagia benar benar menghinggap di hatinya meski dia tadi sempat tak rela ingin pergi saat melihat wajah kekasihnya cemberut.


Tidak di pungkiri, dia juga merindukan melakukan hal yang indah bersama Melati, tapi dia sadar, ada nama baik yang harus dia jaga. Jaka juga tidak mau orang tua mereka curiga, biar bagaimanapun hubungan mereka belum resmi jadi mau tidak mau Jaka harus bisa menahan diri.


Jaka pun mengambil ponselnya dan menuju ke ke menu galeri. Di tatapnya foto foto dirinya bersama sang kekasih. Senyumnya tersungging saat mata itu menatap wajah Melati yang berpose imut.


"Aku juga udah kangen sama si tembem, Sayang. Kamu yang sabar ya? Nanti kalau ada kesempatan aku pasrah deh, yah?" Gumam Jaka sembari senyum senyum.


Dan di malam yang sama namun di kamar yang berbeda pula, Terdengar suara pemuda sedang merintih pelan sembari menyebut nama seeorang.


"Mba Risma! Mba! Terus Mba! Iya terus! Sedikit lagi, Mba! Iya terus! Sedikit lagi! Aakh!"


Setelah mengeluarkan lengkingan nikmat yang tertahan, pemuda itu segera meraih baju kotor dan mengelap semburan yang bercecer di atas perutnya hingga bersih. Setelah bersih dia melempar kaos kotor ke dalam ranjang dan dia juga menaikkan celananya kembali.


"Kalau begini terus, lututku bisa keropos, Mba, Mba."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2