
Jaka benar benar merasa takjub dengan kepolosan pemuda dua puluh tahun itu. Pertanyaan yang Dodit lontarkan membuka kenangan Jaka pada saat dia berada dalam usia yang sama dengan Dodit.
Dulu Jaka juga sering merasa penasaran. Bahkan rasa penasaran Jaka sudah ada sejak dia memasuki kelas tiga SMP. Tentu saja sebagai remaja saat itu Jaka benar benar sedang nakal nakalnya dan juga masa puber. Apalagi dia menjadi idola dan rebutan teman teman perempuan dari berbagai sekolah membuat dia merasa di atas angin. Meski hanya sebatas adu bibir, sudah bermacam bibir yang Jaka rasakan, dari bibir perempuan yang berstatus pacar sampai perempuan yang berstatus penggemar. Pokoknya jaman jaman sekolah hingga Jaka lulus banyak perempuan yang menjadi korban ketampanan Jaka.
Jaka mulai mengenal dan semakin penasaran tentang hubungan ranjang saat dia mulai merantau dan kost sendirian. Dia juga dulu seperti Dodit. Lihat video dan mempelajari diam diam.
Di perantauan Jaka pun memiliki pacar. Karena godaan sang pacarlah akhirnya pada suatu malam untuk pertama kalinya Jaka kehilangan keperjakaannya dan sang pacar kehilangan kesuciannya. Dosa yang nikmat itu Jaka lakukan setiap ada kesempatan. Tentu saja Jaka menggunakan pengaman atau mengeluarkannya di luar saat mancapai puncak. Makanya mereka tidak kebobolan. Namun sayang, Jaka yang berniat serius dan setia kepada sang pacar malah mendapatkan sang pacar selingkuh dengan rekan kerjanya. Kecewa dan sakit hati, itulah yang Jaka rasakan. Namun apa boleh buat, itu keputusan sang pacar dan akhirnya mereka bubar.
Setelah kontrak dengan perusahaan habis, Jaka kembali ke kampung halaman. Beberapa bulan di rumah lagi lagi para wanita bermunculan mengejar Jaka hingga Jaka tertarik dengan salah satu anak tetangga. Awalnya hubungan mereka lancar layaknya hubungan normal. Lagi lagi karena godaan sang perempuan, Jaka mengulangi dosa yang nikmat dan sang perempuan dengan suka rela melepas kesuciannya karena memiliki pacar yang super tampan.
Namun sayang, disaat Jaka merantau kembali beberapa bulan, perempuan itu selingkuh hingga hamil. Jaka kembali menelan kekecewaan dan sejak saat itu Jaka menutup hatinya untuk perempuan hingga dia bertemu dengan Melati.
"Masa hal begituan kamu tanyaain sih, Dit? Kamu tuh laki laki, pasti ntar kamu tahu sendiri hanya menggunakan insting." Jawab Jaka setelah suara tawanya habis. Dodit hanya senyum senyum merasa malu mendengar jawaban Jaka.
"Jujur sih, Bang. Aku kan nggak pengalaman sedangkan istriku nanti, dia seorang janda. Otomatis dia sudah pengalaman kan, Bang. Aku takut nggak bisa memuaskan dia dalam memberi nafkah batin, Bang. Itu yang selalu aku pikirkan, Bang. Nafkah lahir, oke lah aku bisa bekerja dan sebagainya, nah nafkah batin, itu yang membuat aku bimbang. Takut aja nggak bisa bikin puas." Balas Dodit begitu polosnya hingga Jaka kembali tergelak.
__ADS_1
"Yang aku lihat sih, Dit. Sepertinya Risma, janda baik baik, Dit. Dia nggak bakalan mempermasalahkan kamu bisa bikin puas atau enggak. Saran aku sih asal kamu bisa menyeimbangi permainan, aku kira nggak masalah. Dan satu lagi saran saya. Jangan terlalu sering memainkan senjatamu dengan tangan, Dit. Itu juga pengaruh loh buat kekuatan dan kesehatan punya kamu." Ucap Jaka.
"Waduh! Yang benar, Bang?" Tanya Dodit kaget.
"Bener lah. Kalau kamu sering memaksa ngeluarin pakai tangan, efeknya tuh ntar saat kamu menjelang tua. Punya kamu cepet keluar. Dan satu lagi. Jangan masuk sana masuk sini. Cukup gunakan saja sarang istri kamu, dan itu sangat sehat, Dit."
"Wah, kok ngeri ya, Bang? Baik, Bang. Makasih loh sarannya. Jadi dapat ilmu." Balas Dodit masih dalam mode senyum senyumnya.
Dan Jaka masih sesekali tertawa dengan kepolosan calon adik sepupunya itu. Jaka kagum, meski polos, Dodit kelihatannya masih jaga diri. Tidak seperti dirinya yang sudah beberapa kali praktek.
"Ya belum lah, Bang. Mana berani aku." Jawab Dodit jujur.
"Lah terus pas kejadian sama Risma sampai kamu di grebeg itu kalian sedang apa?" Tanya Jaka. Sebenarnya dia sudah mendengar ceritanya dari Melati. Namun dia kembali bertanya ke narasumbernya langsung agar lebih puas.
Dodit pun menceritakan malam anugerah itu dengan serinci rincinya. Mendengar cerita Dodit, Jaka lagi lagi terbahak karena menurutnya, cerita Dodit sangat lucu.
__ADS_1
"Jadi selama kenal Risma, kamu sama sekali belum pernah, Dit?"
"Ya belum lah, Bang. Tapi pernah sih, Bang, ada kejadian yang membuat aku takjub."
"Kejadian? Kejadian apa, Dit?"
"Aku tak sengaja melihat Risma sedang memotong rumput, Bang." Jawaban Dodit membuat dahi Jaka berkerut sedangkan Dodit sudah senyum senyum tak jelas.
"Memotong rumput? Apa hubungannya, Dit?" Tanya Jaka.
"Rumput yang tumbuh di sekitar sarang Risma, Bang. Dan itu benar benar sangat indah."
Jaka seketika terkejut dan tak lama kemudian dia terbahak bahak.
"Astaga! Lugu banget kamu, Dit. Hahaha ..."
__ADS_1
...@@@@@...