
Udara hari ini nampak begitu cerah. Matahari tidak terlalu terik. Angin sepoy sepoy berhembus membelai daun daun rindang yang dari pohon pohon yang tumbuh menghiasi sebuah taman kota.
Seorang wanita yang duduk di bangku taman, nampak keringis ngilu melihat pria disebelahnya dengan sangat semangat melahap rujak dari buah buahan yang terasa asam.
Pria yang statusnya sudah bukan perjaka lagi itu nampak sangat antusias melahap rujaknya demi memenuhi keinginan sang jabang bayi yang ada di dalam perut wanita disebelahnya.
Ya. Juna dan Wulan kini sedang duduk santai di sebuah taman setelah memeriksaan diri ke dokter kandungan dan menyempatkan diri mampir ke mini market membeli beberapa susu khusus ibu hamil.
Rasa syukur tentu saja tidak henti hentinya mereka ucapkan dalam hati. Terutama Wulan. Di kehamilan kali ini, dia begitu banyak mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian dari sang suami. Wulan melihat kantung plastik besar yang berisi berbagai jenis susu ibu hamil agar Wulan mau mencobanya dan mencari yang cocok buat dirinya. Belum lagi nafkah yang dia terima, membuat dia sangat bersyukur mendapat suami yang penuh tanggung jawab. Meski dia tahu awal pernikahannya karena paksaan, namun pernikahan Wulan kali ini nyaris tanpa pertikaian yang berarti.
"Udah sih, Mas? Jangan kebanyakan makan rujaknya!" Hardik Wulan.
"Iya, iya. huu! Bawel! Ini kan demi anak kita juga, Yang?" Bela Juna sambil membuang bungkus rujak yang tinggal bumbunya.
"Tapi ntar kalau kamu sakit? Gimana? Katanya aku nggak boleh capek," Cibir Wulan sedikit cemberut.
"Iya, sayang. Ih gemesin banget sih." Ucap Juna. Pengin rasanya melayangkan kecupan di pipi sang istri namun dia mengurungkannya karena ini di tempat umum. Jadi dia hanya bisa mengusap perut sang istri dengan senyum yang tersungging.
"Kira kira, dia laki laki apa perempuan ya, Mas?" Tanya Wulan dengan mata memandang tangan sang suami yang mengusap perutnya.
"Entah itu laki laki atau perempuan, asal itu berasal dari perut istriku, tidak masalah. Yang penting keduanya sehat hingga saat anak kita lahir." Ucapan Juna benar benar menenangkan hati Wulan.
__ADS_1
"Ya udah, kita pulang aja yuk, tapi kita mampir beli nasi padang ya?" Ajak Wulan.
"Siap istriku,"
Sementara di tempat berbeda, Jaka juga sedang berada di warung bakso setelah pulang dari pemeriksaan. Sang istri merengek minta bakso tapi di tempat berbeda.
Warung bakso yang Jaka datangi ini meski tempatnya tersembunyi, tapi pembelinya hilir mudik tak berhenti. Rasanya memang beda dari warung bakso yang ada di kota Jaka.
"Mulai nanti malam, kita pake kamar bawah aja ya, Yang? Aku nggak kamu naik turun tangga, takut cape," Usul Jaka sambil memotong bakso yang paling gede menjadi beberapa bagian.
"Terserah kamu aja, Mas. Terus lantai atas di toko juga diberesin lah mas, biar nyaman buat istirahat." Pinta Melati. Dia juga sedang melakukan hal yang sama dengan sang suami.
"Enggak, Mas. Mungkin kalau pagi tadi nggak mual dan pusing, kayakanya aku nggak bakalan tahu kalau aku hamil," cicit Melati.
"Beruntung lah, kita di kasih kode, jadi kita bisa mempersiapkan diri dan menjaga anak kita," Tukas Jaka.
"Anak? Nggak nyangka, bentar lagi aku akan di panggil mamah," Ucap Melati penuh rasa syukur begitu juga dengan Jaka.
Di saat mereka sedang asyik menikmati bakso dengan pengunjung yang lain, dari arah depan mereka di kejutkan dengan teriakan orang yang bergerombol dan terdengar penuh emosi. Dan diantara mereka ada sepasang laki laki dan perempuan yang sedang tertunduk dan berjongkok.
Sontak saja Jaka dan melati serta pengunjung yang lain di buat heran, orang orang itu pada ngumpul di depan warung bakso dan berteriak teriak memanggil pak Rt. Dan ternyata pemilik warung bakso ini adalah Rt yang mereka maksud.
__ADS_1
"Gimana nih, Pak. Ini sudah mencoreng nama baik kampung kita," Ucap salah seorang warga berapi api dan tentu saja ucapan itu di dukung suara yang lainnya.
"Tenang tenang, yang penting kalian jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Jangan main hakim sendiri," Ucap Pak Rt mencoba meredakan amarah warganya.
"Ya sudah pak, mending kita nikahkan saja mereka," Usul salah satu warga dan didukung warga lainnya.
"Nggak mau! Aku nggak mau nikah sama pengangguran macam dia!" Ucap wanita yang sedari tadi menunduk kini berani mendongak.
"Eh apa kamu nggak punya malu, di ajak maksiat mau, di ajak yang halal nolak,"
"Iya, perempuan apaan, panas panas di ajak maksiat di pojokan lapangan mau aja,"
"Dasar cewek gatal, "
Cercaan dan hinaan terlontar dari mulut warga kepada sang wanita yang menunjukkan wajah penuh amarah.
Jaka, Melati, dan pengunjung yang lain pun bangkit dan mendekat ke depan warung bakso karena penasaran. Mata jaka menyipit begitu dia melihat dua sosok yang bercongkok karena sedang di adili warga.
"Tejo! Ninis! Bagaimana bisa?"
...@@@@@...
__ADS_1