
Jaka tergelak mendengar pengakuan jujur calon istrinya. Dia juga kaget, apa perempuan yang sudah pernah menikah, akan selalu gampang berbicara yang berbau dewasa? Dia seketika duduk di samping Melati dan menggodanya.
"Baunya segar nih, Yang. Dari pagi belum mandi." Ucap Jaka sembari mengangkat salah satu tangannya dan mengendus aroma ketiaknya. Melati hanya mendengus. Sebenarnya dia penasaran namun sekuat hati menahannya.
"Awas, minggir! Orang lagi beres beres, gangguin aja." Ucap Melati berusaha mengalihkan pikirannya. Tapi tetap yang namanya Jaka nggak akan berhenti menggoda.
"Beneran nih nggak mau cium bulu kesayangan? Mumpung Dodit belum balik loh, Yang?" Goda Jaka sembari senyum senyum. Melati semakin gelisah di buatnya. Godaan Jaka benar benar tidak bisa dia hindari.
"Cium bentar ya?" Akhirnya Melati bersuara dengan wajah malu malu. Jaka semakin tergelak.
"Lama juga nggak apa apa, Yang." Ucap Jaka sembari menyodorkan ketiaknya. Melati mendekatkan hidungnya dan dengan penuh penghayatan dia mengisap aroma asam melalui hidungnya.
"Enak ya, Yang. Seger." Ucap Melati beberapa menit kemudian. Jaka hanya menggelengkan kepalanya beberapa saat.
Setelah menghirup aroma kedua ketiak, Melati merasa puas dan dia kembali melanjutkan berkemasnya. Tak lama kemudian Dodit pun kembali.
"Mobilnya udah dapat, Mba. Tapi katanya nanti jam dua bisanya. Soalnya lagi bawa sayur dulu." Lapor Dodit.
"Ya udah nggak apa apa, kamu lanjutin aja beres beresnya, aku mau ke dalam pasar dulu. Yang, tinggal bentar ya." Ucap Melati.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Jaka.
"Mau ke dalam pasar. Nyari pesenan ibu. Kamu bantuin Dodit berkemas." Jawab Melati.
"Ya udah sana, hati hati." Balas Jaka dan Melati hanya mengangguk kemudian dia beranjak keluar kios setelah mengambil beberapa lembar uang.
Kini dalam kios tinggal Dodit dan Jaka yang nampak sibuk mengemas dan memindahkan barang barang.
"Bang Jaka, aku mau tanya boleh?" Tanya Dodit saat sudah selesai merapikan plastik plastik dan kini dia merapikan beberapa kaleng susu.
"Tanya apa, Dit?" Balas Jaka yang sedang menumpuk beberapa kardus kemasan sesuai ukurannya.
"Tipe tipe perempuan? Maksudnya?" Tanya Jaka dengan dahi berkerut.
"Maksudnya dalam hal hasrat loh, Bang. Kesukaan perempuan pasti beda beda kan? Abang pasti tahu bagaimana cara memahaminya?" Pertanyaan Dodit membuat Jaka terperangah kemudian dia terbahak sendiri.
"Ya ampun, Dit. Kenapa hal kayak gitu kamu tanyain?" Tanya Jaka yang seketika ikut berhenti dari pekerjaannya dan duduk bersandar etalase tak jauh dari keberadaan Dodit.
"Ya kan aku bentar lagi menikah, Bang. Nggak salah kan kalau aku cari tahu. Aku kan juga pengin bisa nyenengin istri, Bang." Ucap Dodit dengan jujurnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku kasih tahu nih ya, Dit. Kalau dalam berhubungan dengan hasrat itu namamya kecenderungan, Dit. Atau bisa dikatakan orientasi. istilah luar negerinya fetish. Ada perempuan yang suka cowok bersih, wangi, rapi. Ada perempuan yang suka cowok kotor, berkeringat, bau asam. Ada perempuan yang lebih suka dengan laki laki dewasa, ada juga perempuan yang lebih suka sama laki laki yang lebih muda. Itu semua kecenderungan dari pribadi masing masing, Dit. Ntar juga lama lama kamu memahami istri kamu sukanya bagaimana, Dit." Terang Jaka dan terlihat Dodit manggut manggut tanda mengerti.
"Apa kecenderungan itu berlaku juga buat laki laki, Bang?" Tanya Dodit semakin penasaran.
"Tentu saja. Laki laki juga mengalami. Ada yang suka dengan perempuan seksi, ada yang suka dengan perempuan gendut. Ada yang suka dengan perempuan yang lebih dewasa, kaya kamu. Dan sejatinya orientasi orang itu beda beda, Dit. Makanya banyak yang berselingkuh demi menyalurkan kepuasan sesuai orientasinya, Dit. Dan banyak juga yang membayangkan orang lain saat sedang berhubungan dengan pasangannya." Jawaban Jaka kembali membuat Dodit manggut manggut.
"Bang Jaka pasti banyak mengenal jenis jenis perempuan yah? Secara Bang Jaka idaman seluruh wanita. Banyak yah, Bang, yang pengin sekamar dengan Bang Jaka?" Jaka lagi lagi tergelak mendengar rasa penasaran pemuda di hadapannya.
"Banyak banget, Dit. Tapi sayang, justru aku nggak suka perempuan perempuan kayak gitu. Beda sama Melati, dia nggak ngejar ngejar aku meski dia tahu kalau dia suka aku. Itu yang membuat aku tertarik sama mba mu itu, Dit." Ucap Dodit.
"Bang, boleh tanya lagi?" Tanya Dodit kali ini agak ragu.
"Tanya aja, Dit." Jawab Jaka. Dodit sejenak terdiam seperti memikirkan sesuatu. Namun sedetik kemudian dia bersuara.
"Bang, bagaimana caranya sih? Memasukan cucak rowo dengan tepat ke dalam sarang perempuan?"
"Waduh."
...@@@@@...
__ADS_1