ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Tenaga Terkuras Habis..


__ADS_3

Malam benar benar semakin larut. Malah kini malam itu perlahan namun pasti sedang beranjak menuju pagi. Udara yang dingin tidak menyurutkan dua isnan yang sedang bermandi keringat menikmati malam panas.


Terlihat di sana sang pria sedang terbaring. Sedangkan sang perempuan, tengkurap di atas tubuh sang suami dengan kaki terbentang, nafas yang menderu deru dan keindahan yang masih tertancap betutu di dalamnya. Keduanya baru saja menyelesaikan ronde kedua yang berlangsung lebih lama dari ronde pertama.


Kurang lebih bermain selama empat jam, Juna hanya meraih puncak dua kali sedangkan Wulan, berkali kali dibuat gemetar dan mencapai puncak.


Juna membiarkan tubuh sang istri yang terkulai lemas dipangkuannya. Tangan kanannnya mengusap rambut sang istri. Sedangkan Wulan menyandarkan kepalanya di bahu kanan sang suami.


"Kamu pakai obat apa sih, Mas?" Tanya Wulan setelah rasa letihnya berkurang.


"Kenapa?" Jawab Juna dengan melempar pertanyaan kembali.


"Kamu kuat sekali? Pake obat yah?" Tuduh Wulan tanpa merubah posisinya.


"Enak aja, asli dong? Mau lagi?" Balas Juna.


"Ya habis keluarnya lama banget? Aku aja nggak bisa di hitung berapa kali," cicit Wulan dan Juna tertawa lirih.


"Puas nggak?"


"Ya puas banget lah, nggak pernah aku berkali kali seperti ini. Sampai kehabisan tenaga." Aku Wulan jujur dan tentu saja Juna bangga mendengarnya.


"Tapi sayangnya kita tinggal di rumah orang tua, coba kalau di kiosku. Mungkin kamu bisa meraih kepuasan selama yang kamu mau, Yang." Tukas Juna.


Wulan menggerakan tubuhnya. Dia sekarang berani manatap wajah suaminya lekat lekat. Tangannya terlingkar di leher Juna.

__ADS_1


"Kenapa? Mau lagi? Mumpung yang di bawah belum keluar itu?" Tanya Juna.


"Kalau main lagi, bisa bisa sampai subuh. Yang ada nggak enak jika bangun kesiangan. Ini aja udah jam dua lebih." Jawab Wulan sambil melirik jam yang menggantung di di dinding sebelah kanannya.


"Ya terserah kamu, Sayang. Mau lanjut ya ayok. Mau udah ya Ayok. Aku ngikut kamu aja." Balas Juna.


Wulan terus memandang wajah tampan sang suami yang benar benar tidak membosankan. Dengan keberanian penuh, dia memajukan wajah dan mendaratkan bibirnya di bibir sang suami. Suasana sejenak hening. Hanya ada suara bibir yang beradu melepas sisa hasrat yang ada.


"Kita tidur aja, Yah? Besok kalau kita ke kios, kita main sepuas kamu, gimana?" Tanya Juna dan Wulan hanya mengangguk. Juna terpaksa memberi ide tersebut karena jika dipikir dia juga tidak enak jika bangun kesiangan. Karena Wulan masih tinggal bersama orang tua.


Tubuh yang sedari tadi saling menempel pun akhirnya terlepas. Wulan segera merebahkan diri. Juna memungut selimut yang terhempas ke lantai. Digelarnya selimut itu diatas kakinya dan kaki sang istri kemudian ditarik sisi selimut yang lain sambil dia merebahkan badannya.


"Tidurnya hadap sini, Sayang!" Tanpa membantah, Wulan memutar badan dan membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Mata Wulan mulai terpejam. Usapan lembut tangan Juna di kepala bagian belakang membuat Wulan semakin merasa nyaman hingga rasa kantuk menyerangnya. Tak lama kemudian dia pun terlelap dan Juna menyusul beberapa detik kemudian. Dan suasana benar benar sangat sunyi.


###


Pagi pun menjelang dan posisi tidur pasangan pengantin baru itu masih sama persis dengan saat mereka hendak terlelap.


Di balik selimut, terlihat tubuh sang wanita bergerak pelan. Rupanya dia telah bangun dari tidurnya. Dia hendak menggerakan badannya, namun dia sadar, ada tangan kekar yang mengunci tubuhnya.


Senyum Wulan tersungging. Kini di depan matanya kembali dada bidang suaminya terpampang dengan jelas. Wulan pun tak membuang begitu saja kesempatan ini. Dia melayangkan bibirnya dan mengecup dada sang suami dalam dalam hingga timbul tanda merah.


"Dada ini sudah resmi jadi milikku " Gumamnya. Dia pun melingkarkan tangannya di tubuh sang suami.

__ADS_1


Karena gerakan Wulan yang terus mendaratkan bibirnya di dada, Juna pun akhirnya ikutan terbangun.


"Lagi ngapain sih, Yang? Jangan gerak gerak terus dong?" Tanya Juna dengan suara berat dan mata masih terpejam.


Wulan tidak menjawab, namun dia menghentikan aksi bibirnya. Dia melepas pelukannya dan mencoba melepaskan diri dari jeratan tangan Juna.


Bukannya terlepas, Juna yang masih setengah tertidur malah semakin mengencangkan pelulannya hingga kepala Wulan kembali terbenam di dadanya.


"Tanganmu lepasin, Mas! Aku mau bangun! Ini udah kesiangan loh." Nyatanya memang mereka bangun sedikit agak siang. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh.


"Bentar lagi, aku masih ngantuk." Jawab Juna tanpa mau melepas pelukannya. Wulan pun pasrah. Namun beberapa saat kemudian.


"Wulan! Sudah bangun belum? Suruh suamimu sarapan?" Teriak Ibu dari luar kamar.


"Iya, Bu! Bentar lagi!" Sahut Wulan.


Juna mendengus, mau tidak mau dia pun ikut bangun.


"Ya udah kamu rebahan aja dulu, aku mau mandi." Ucap Wulan. Dia beringsut turun ranjang.


Juna bukannya menuruti, namun dia malah ikutan bangun dan beranjak.


"Mau kemana?" Tanya Wulan dengan dahi berkerut.


"Ikut mandi." Jawab Juna.

__ADS_1


"Baiklah, ayo!"


...@@@@@...


__ADS_2