
Dan sesuai yang di rencanakan. Keesokan harinya, baik Dodit maupun Risma mau tidak mau menyampaikan berita yang baru saja menimpa pada mereka. Di kediaman masing masing, baik keluarga Risma dan keluarga Dodit sedang melakukan musyawarah untuk memncari jalan keluar.
Baik Dodit maupun Risma, sudah menjelaskan sejelas jelasnya kejadian yang sebenarnya, namun sepertinya kejujuran mereka tetap tidak bisa menolong mereka dari tudingan warga.
Risma pun sudah menjelaskan siapa Dodit kepada keluarganya begitu juga Dodit. Dia juga melakukan hal yang sama.
"Gimana menurutmu, Mas Har? Aku benar benar nggak nyangka, Dodit akan apes begini?" Tanya ayahnya Dodit kepada kakak iparnya yaitu ayahnya Melati. Dan kebetulan Melati juga ikut bapaknya untuk menyelesaikan masalah yang Dodit hadapi. Dalam kejadian yang menimpa Dodit, Melati jadi merasa bersalah juga karena Dodit berada di rumah Risma atas perintah dia.
"Kalau keputusan warga disana menginginkan Dodit menikahi Risma, ya udah, kita nikahkan saja mereka. Toh, apapun alasan Risma dan Dodit, tetap dimata warga, mereka berdua bersalah. Dan ini juga berlaku untuk kamu, Mel." Ucap Haryo.
Melati yang mendengar namanya di sebut sang ayah seketika tertegun.
"Kok aku, Pak? apa hubungannya denganku?" Tanya Melati merasa heran.
"Tentu saja ada hubungannya. Kamu lihat Risma, Dia sama Dodit tidak ada hubungan apa apa. Tapi sekalinya apes. Siapa nama yang paling buruk? Pasti Risma. Apa lagi dia menyandang status sebagai janda. Dan itu bisa jadi sesuatu yang sangat melukai harga dirinya. Coba kalau hal itu terjadi sama kamu dan Jaka? Sedangkan hubungan kalian juga sudah banyak yang tahu. Bukankah fitnah juga bisa datang menghampiri kalian?" Ucap Haryo gamblang dan tentu saja membuat hati Melati sedikit tercubit.
__ADS_1
Melati tertegun, seketika dia juga merenungi kesalahannya. Beruntung dia tidak kena grebeg warga. Coba seandainya dia sedang apes sama seperti yang dialami Risma dan Dodit, bisa jadi bapaknya akan merasa sangat malu karena tingkah Melati yang sudah diluar batas.
"Gimana, Mel? Siap nggak siap, Jaka harus mau dan bersedia menikahimu. Ini bukan karena mentang mentang bapak merestui dia, tapi bapak ingin menghindari fitnah yang bisa saja menimpa kamu dan Jaka." Ucap Bapak berapi api.
"Baiklah, Pak. Aku akan telfon Jaka dan menyampaikan pesan bapak." Jawab Melati pasrah.
Sementara itu di rumah Jaka beberapa saat kemudian.
"Apa!" Pekik Jaka kaget begitu dia mendengar cerita dari sang kekasih melalui panggilan telefon.
Melati menceritakan apa yang menimpa Dodit hingga keputusan sang bapak untuk segera mengesahkan hubungan Jaka dan Melati.
Setelah berbicara cukup lama lewat telfon, akhirnya percakapan Melati dan Jaka pun berakhir. Jaka yang saat itu masih bermalas malasan seketika segera bangkit dan keluar dari kamarnya.
"Mak, Bapak mana?" Tanya Jaka begitu dia melihat emaknya sedang duduk di depan televisi.
__ADS_1
"Jam segini ya Bapak lagi di pasar, Jak." Jawab Emak dengan dahi yang berkerut. Pasalnya Emak heran melihat putra keduanya nampak sedang bingung.
"Kamu kenapa, Jak? kok kayak orang bingung? Ada masalah?" Tanya Emak bertubi tubi. Jaka yang tadinya hendak masuk kamar lagi akhirnya mengurungkan niatnya dan duduk di sebelah emak.
"Tadi aku dapat kabar nggak enak dari Melati, Mak." Jawab Jaka tanpa membalas tatapan emaknya.
"Kabar nggak enak? Maksudnya?" Tanya Emak makin penasaran.
Jaka pun akhirnya menceritkan apa yang sedang di alami saudara sepupu Melati. Emak sangat terkejut mendengarnya.
"Terus? Apa hubunganmu dengan masalah sepupunya Melati?" Tanya Emak bingung.
"Ya ada hubungannya lah Mak. Melati juga janda. Coba kalau berita buruk itu menimpa aku dan Melati, Emak pasti malu kan?" Terang Jaka dan emak nampak memikirkan ucapan anaknya.
"Maka itu, Mak. Orangtua Melati ingin secepatnya aku dan Melati melangsungkan pernikahan."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...