
Jam di tangan menunjukkan pukul sepuluh siang. Dua insan yang sedang beradu bibir untuk sesaat menghentikan kegiaatannya. Mereka saling tatap. Nampak sekali keduanya sudah terbakar hasrat. Namun sang perempuan memilih berhenti karena masih teringat kasur yang di jemur.
"Aku mau masukin kasur dulu." Ucap Melati sembari berusaha mengurai kungkungan tubuh atletis sang kekasih. Jaka menyunggingkan senyum dan dia bangkit.
"Biar aku saja." Ucap Jaka dan dia beranjak keluar kamar menuju pintu keluar. Melati pun mengikutinya.
Tak butuh waktu lama, Jaka kembali masuk dengan menenteng kasur busa kemudian di taruhnya di ranjang. Setelah itu dia menyusul Melati yang sedang mengangkat jemuran.
"Kenapa diangkat? Emang udah kering?" Tanya Jaka.
"Udah dong, kan tadi di keringkan pake mesin dulu, jemur sebentar langsung kering total." Terang Melati. Dia membawa pakaian kering ke dalam dan menaruhnya di karpet depan televisi. Setelah itu Melati pun duduk melipat pakaian yang sudah kering.
Jaka pun ikut duduk Namun dia lebih memilih duduk di belakang Melati dan memeluknya dari belakang. Jaka memperhatikan Melati yang sedang melipat beberapa kain segitiga yang nampak kecil. Senyum usilnya terkembang.
__ADS_1
"Kok kecil, Yang? Bukankah punya kamu tembem banget yah?" Tanya Jaka yang membuat Melati seketika menoleh dan mendengus.
"Yang penting kan pas, Yang." Jawab Melati ketus dan Jaka malah tergelak. Tangan Jaka pun mulai iseng dan menjalar kemana mana. Kini sasaran pertamanya adalah dua benda kembar yang sudah sangat dia rindukan.
"Sayang! Geli ih!" Pekik Melati, namun Jaka tak peduli. Meski raga masih terbungkus daster dan sebagainya namun tak bisa menghalangi tangan Jaka yang terus saja bergerilya.
Melati terus saja melanjutkan pekerjaannya. Meski Jaka sangat mengganggunya namun dia tak mampu menghentikan aksi Jaka. Dan kalaupun di larang, Jaka pasti akan terus melakukan aksinya.
Kedua telapak tangan Jaka terus memberi sentuhan lembut kepada dua benda yang masih terbungkus daster dan kain lain di dalamnya.
"Jangan ih, orang lagi panas juga." Balas Melati Namun tak dihiraukan oleh Jaka.
Daster selutut yang dikenakan Melati, perlahan di tarik oleh Jaka pelan pelan hingga daster tersebut kini berada di pinggang.
__ADS_1
"Kamu nakal banget sih, Yang? Ntar ada yang lihat loh." Ucap Melati.
"Mana ada? Orang sepi begini. Dan semoga bentar lagi hujan gede, biar makin romantis kita." Balas Jaka dengan senyum nakal yang mulai dia kembangkan.
"Dih! Maunya!" Cibir Melati namun dia juga sebenarnya menikmati apa yang Jaka lakukan.
Sekarang daster telah terlepas dari pemiliknya. Saat ini Melati tinggal memakai dua kain yang menutupi dua benda terpenting milik seorang wanita.
Jaka sejenak menghentikan aksinya. Dia berdiri dan beranjak ke arah pintu kemudian menguncinya. Begitu juga dengan pintu samping, Jaka tak lupa menguncinya juga. Setelah semua pintu beres, Jaka kembali menghampiri Melati yany tersenyum simpul ke arahnya.
"Mau ngapaian sih, Yang? Kenapa semua pintu di kunci?" Tanya Melati pura pura tak tahu. Jaka hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Mau disini atau kita tiduran dikamar, Yang?" Tanya Jaka memberi pilihan. Terlihat Melati sedang berpikir. Entah berpikir sungguhan atau hanya bercanda hinggga Jaka merasa gemas dan mau tak mau Jaka pun jongkok dan tangannya terulur kemudian di raihnya tubuh Melati dan di angkatnya menuju kamar untuk meneruskan kegiatan selanjutnya.
__ADS_1
...@@@@@...