ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Setengah Sukses.


__ADS_3

Dan malam pun tiba. Sesuai rencana, kini kedua belah pihak keluarga besar baik dari pihak Dodit maupun pihak Risma nampak memenuhi ruang tamu dan sebagian ruang tengah. Selain keluarga besar, beberapa orang terpandang di sekitar lingkungan seperti ustad, Pak Rt dan beberapa tetangga yang akan menjadi saksi berlangsungnya acara lamaran dadakan.


Meski mendadak tapi terlihat di sana persiapannya begitu matang. Baik dari barang bawaan hingga cincin yang semuanya di persiapkan secara mendadak.


Dodit yang malam itu mengenakan kemeja batik lengan panjang yang dipadu dengan celana panjang hitam nampak begitu gugup saat bersanding dengan Risma. Sedangkan janda cantik itu nampak begitu tenang meski hatinya juga bergemuruh, namun dia pandai menyembunyikan sikap gugupnya.


Melati yang kebetulan mengambil tempat duduk disebelah Dodit, tak henti hentinya menggoda sepupunya yang memang sudah lama menyukai Risma.


"Senang yah? Yang tiba tiba dinikahkan sama wanita pujaan. Berasa mimpi gitu yah?" Bisik Melati.


"Apaan sih, Mba." Sangkal Dodit dengan senyum yang ditahan.


"Pura pura aja nolak, padahal hatinya lagi menari nari tuh." Bisik Melati lagi sembari menahan tawa. Sedangkan Dodit hanya mendengus kesal. Pasalnya dari rumah Melati terus menggodanya sampai Dodit benar benar salah tingkah dan tak bisa berkutik apa apa, meski dalam hati dia tetap bersorak riang gembira.


Tak lama kemudian acara lamaran pun di buka. Pertama yang memberi sambutan adalah Pak Rt yang memberi tahukan tentang alasan serta memberi peringatan terhadap warganya agar kejadian yang di alami Risma dan Dodit tidak terjadi lagi.


Meski hanya sebuah kesalah pahaman, secara lapang dada Dodit dan Risma pun meminta maaf kepada warga yang hadir atas kejadian tersebut.

__ADS_1


Acara berikutnya adalah ramah tamah dari masing masing perwakilan pihak keluarga dan musyawarah rencana tanggal akad yang akhirnya jatuh seminggu lagi.


Setelah kedua belah pihak sepakat dengan waktu yang di rencanakan, kini tinggal kedua calon mempelai saling bertukar cincin.


"Yang tenang, Dit. Jangan gugup." Ledek Falah dan Dodit hanya membalas dengan mesam mesem tak jelas.


Dan setelah melewati kegugupan yang amat sangat terasa berat, akhirnya Dodit berhasil memasang cincin di jari manis sang janda impian. Senyumnya pun terus terkembang dengan bangganya.


"Ceilah, Senyum mulu, Dit. Giginya ntar kering tuh." Ledek saudara yang lain dan tentu saja Dodit hanya bisa mendengus tak mampu membalas ledekan saudara saudaranya.


Beberapa saat kemudian, acara lamaran benar benar selesai. Dodit dan keluarga besar pun segera undur diri.


Hingga tak terasa waktu kini beranjak larut. Dikamar masing masing, baik Risma maupun Dodit nampak sedang istirahat dan juga bergelut dengan pemikiran masing masing.


"Kenapa jalan hidupku jadi serumit ini? Apakah Dodit benar benar jodoh terakhir untukku?" Gumam Risma sembari matanya terus menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


Di saat Risma sedang bergelut dengan pemikirannya tiba tiba.

__ADS_1


Ting.


Terdengar suara pesan dari ponselnya. Dia segera meraih ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Di nyalakannya ponsel itu dan di bukanya aplikasi chat.


Awalnya dahinya berkerut saat membaca pesan yang baru saja masuk, namun sedetik kemudian bibirnya tersenyum geli.


"Apakah mulai malam ini aku di ijinkan memanggil Mba Risma dengan sebutan calon istriku?" Pertanyaan polos dari Dodit membuat Risma tergelak sendiri.


Sedangkan di kamar dan juga rumah yang lain, Dodit malah terlihat gelisah karena pesan chat yang baru dia kirim tak kunjung mendapat balasan. Padahal pesan itu sudah bercentang biru tanda kalau pesan itu sudah terbaca.


Dodit terus menatap layar ponselnya dengan perasaan was was. Dan dirinya semakin panik saat di layar ponsel terlihat petunjuk kata sedang mengetik. Itu berarti di seberang sana sedang menulis balasan chatnya.


Benar saja balasan chat pun datang. Dengan nafas menderu dia segera saja membaca pesan tersebut dan seketika senyumnya terkembang dan dia melompat lompat kegirangan tatkala di pesan chat yang dia baca tertulis.


"Boleh, Calon imamku."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2